Kekuasaan dan Ujian dalam Perspektif Spiritual
Dalam khazanah spiritual, kekuasaan sering kali digambarkan sebagai ujian yang bisa melalaikan. Ada sebuah ilusi yang kerap menjebak para pemegang amanah, yaitu perasaan bahwa jabatan bersifat kekal. Padahal, sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kursi kekuasaan hanyalah persinggahan singkat yang akan dimintai pertanggungjawabannya, baik di hadapan hukum manusia maupun di pengadilan Tuhan.
Kampus adalah rahim bagi masa depan bangsa. Seorang Rektor bukan sekadar manajer administrasi, melainkan sosok orang tua bagi ribuan mahasiswa dan stafnya. Namun, apa jadinya jika tangan yang seharusnya merangkul justru mencekik hak-hak akademis anak didiknya sendiri?
Menahan ijazah alumni atau mematikan karier akademik dosen tanpa dasar hukum yang jelas adalah bentuk kezaliman administratif. Dalam perspektif agama, menghalangi seseorang mendapatkan haknya, terutama hak untuk mencari nafkah dan berkembang, itu setara dengan memutus tali kehidupan. Anak muda sebagai kader bangsa semestinya dibimbing dengan kasih sayang dan keteladanan, bukan diperlakukan secara tidak wajar hingga mereka merasa asing di rumah akademiknya sendiri.
Catatan Kezaliman dan Jejak Sejarah
Sejarah adalah pencatat yang paling jujur. Setiap kebijakan yang diambil demi memuaskan syahwat kekuasaan atau dendam pribadi akan membekas sebagai noktah hitam. Mulai dari pemecatan tenaga honorer, pencopotan jabatan secara sepihak, hingga pembatalan kelulusan mahasiswa melalui mekanisme yang dipaksakan, semuanya akan menjadi saksi yang bicara saat lisan tak lagi berkuasa.
Kezaliman yang dilakukan secara sistematis, baik dalam pengelolaan keuangan dinas maupun penilaian jabatan akademik, merupakan bentuk penyalahgunaan amanah yang sangat berat timbangannya.
Dialog Doa di Langit Kekuasaan
Saat ini, di atas langit Universitas Tadulako, sedang terjadi adu kekuatan doa. Di satu sisi, ada doa-doa yang dipanjatkan demi keberlanjutan takhta melalui kekuatan oligarki. Di sisi lain, ada rintihan doa dari mereka yang terzalimi, para alumni yang tertahan ijazahnya, para dosen yang terhambat kariernya, dan para pegawai yang kehilangan penghidupannya.
Allah SWT telah memberikan peringatan keras mengenai doa orang yang terzalimi:
“Takutilah doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada hijab (penghalang) antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Pesan Kesabaran bagi Generasi Muda
Bagi para alumni dan dosen yang merasa terhimpit oleh manajemen yang brutal, Allah SWT memerintahkan untuk tetap teguh dan bersabar. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan Kami…”
(QS. At-Thur: 48)
Kepada generasi muda yang terzalimi, jadilah saksi hidup yang tabah. Kekuasaan itu ada batasnya, namun kebenaran akan terus mengalir melintasi waktu. Janganlah membalas kezaliman dengan kehancuran diri, karena melawan penguasa yang sedang mabuk jabatan sering kali hanya akan membuang energi.
Cukuplah Allah sebagai wakil. Biarkan waktu yang bekerja menunjukkan akhirnya. Sebab, pada masanya nanti, setiap orang yang sombong akan melihat dirinya sendiri rapuh, mungkin saat mereka harus ditandu dalam keranda ke ambulance atau saat takhta itu lepas dan tak ada lagi orang yang sudi berdiri di sampingnya.
Harapan dan Peringatan
Semoga Allah SWT mengetuk pintu hati para pemimpin agar kembali ke jalan yang lurus sebelum masa jabatannya berakhir pada 7 Maret 2027. Karena pada akhirnya, hanya kebaikanlah yang akan dikenang sebagai warisan.











