Lonjakan Harga Plastik di Lamongan Mengancam Keberlangsungan Usaha
Kenaikan harga plastik yang terjadi di Kabupaten Lamongan dalam beberapa pekan terakhir mulai memengaruhi berbagai usaha kecil dan pelaku UMKM. Harga mika, yang sebelumnya hanya Rp 18 ribu per pak, kini naik hingga dua kali lipat menjadi Rp 36 ribu. Kenaikan ini juga terjadi pada harga kantong plastik yang semula dibanderol Rp 18 ribu per pak, kini mencapai Rp 36 ribu. Hal ini membuat para pedagang terjepit antara harus memangkas keuntungan atau menaikkan harga jual tanpa mengorbankan loyalitas pembeli.
Pedagang Gorengan dan Minuman Terjepit
Salah satu pedagang gorengan di sekitar Pasar Tingkat Lamongan, Sa’adah (40), mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sangat memberatkan operasionalnya. Setiap hari, ia membutuhkan puluhan lembar plastik untuk membungkus dagangan. “Biasanya satu pak plastik ukuran kecil saya beli Rp 18 ribu, sekarang sudah Rp 36 ribu. Kalau yang ukuran besar juga naik. Dalam sehari bisa habis satu sampai dua pak,” ujarnya.
Menurut Sa’adah, kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis karena ia tetap mempertahankan harga jual gorengan di angka Rp 2.000 per biji agar tidak kehilangan pelanggan. “Kalau harga gorengan dinaikkan, takut pembeli protes. Jadi ya terpaksa untungnya dikurangi,” katanya.
Keluhan serupa datang dari Ahmad Wafa, penjual es teh jumbo di kawasan Jalan Basuki Rahmat. Ia menyebut, harga satu slop gelas plastik ukuran 16 ons yang sebelumnya sekitar Rp 32 ribu, kini melonjak hingga Rp 64 ribu lebih. “Bukan cuma gelasnya, tutup plastik dan sedotan juga naik. Kalau sehari jualan 100 sampai 150 gelas, tentu pengaruhnya besar,” jelas Ahmad.
Meski sempat mempertimbangkan untuk menaikkan harga minuman dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000, ia urung melakukannya. “Persaingan sesama PKL cukup ketat. Kalau harga naik sendiri, nanti pembeli pindah,” tuturnya.
Beban Tambahan di Pasar Tradisional
Imbas kenaikan harga ini juga merembet ke pasar tradisional. Pedagang ayam potong di Pasar Sidoharjo, Khusnul Khotimah (55), mengungkapkan pengeluaran hariannya bertambah Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu hanya untuk membeli plastik pembungkus. “Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan bisa ratusan ribu. Padahal kondisi pasar sekarang juga belum ramai,” keluh Khusnul.
Khusnul menambahkan, penggunaan plastik sulit dihindari karena permintaan konsumen, terutama untuk produk basah. “Kalau tidak pakai plastik, pembeli kadang komplain. Apalagi untuk ayam dan ikan, harus dibungkus rapat,” ujarnya.
Kenaikan signifikan juga dirasakan Qotrin, penjual nasi ayam geprek di Lamongan Kota. Satu pak mika berisi 50 buah yang semula seharga Rp 22 ribu kini naik menjadi Rp 44 ribu. “Kalau pesanan online sedang ramai, penggunaan mika bisa sangat banyak. Jadi kenaikannya langsung terasa,” kata Qotrin.
Demi menyiasati keadaan, Qotrin mulai mengurangi kemasan tambahan seperti sendok plastik. “Kami sekarang kalau pembeli makan di tempat tidak lagi diberi kemasan sekali pakai. Kalau pesan dibawa pulang baru pakai,” imbuhnya.
Siasat Pedagang dan Harapan pada Pemerintah
Menghadapi situasi ini, sebagian PKL mulai mencari alternatif seperti penggunaan kertas pembungkus atau daun pisang. Di kawasan Lamongan Plaza, pedagang pecel lele mulai menyederhanakan bungkusan dagangannya. “Kalau dulu sambal, lalapan, dan nasi dipisah pakai beberapa plastik kecil. Sekarang disederhanakan supaya hemat,” ungkap salah seorang pedagang.
Meski demikian, bahan pengganti belum bisa diterapkan sepenuhnya karena harga alternatif ramah lingkungan masih mahal dan pembeli tetap menyukai kepraktisan plastik. Para pedagang kini berharap adanya perhatian pemerintah daerah melalui pengendalian harga atau bantuan bagi UMKM.
Kenaikan harga plastik ini menambah daftar panjang beban usaha setelah sebelumnya harga bahan pokok juga naik. “Sekarang yang naik bukan cuma bahan makanan, tapi plastik juga. Sementara pembeli maunya harga tetap murah. Jadi pedagang serba salah,” ujar seorang PKL.
Bagi mereka, kenaikan harga plastik yang terlihat sederhana tetap berdampak besar pada kelangsungan usaha yang serba pas-pasan. Mereka berharap kondisi ini segera membaik agar tidak terpaksa mengurangi kualitas atau menaikkan harga jual di masa mendatang.











