"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

Bitcoin Hari Ini Tembus USD 95.000, ETF BTC Kehilangan Rp 12 Triliun Saat Shutdown AS Berakhir



Pasar kripto menghadapi tekanan signifikan menjelang akhir pekan setelah laporan menunjukkan arus keluar besar dari ETF Bitcoin dan Ether. Selain itu, perkembangan di sektor mining dan manajemen aset kripto juga memberikan dampak terhadap sentimen pasar. Meskipun pemerintah Amerika Serikat telah selesai shutdown, minat investor terhadap produk ETF berbasis kripto belum sepenuhnya pulih.

ETF Bitcoin spot mencatat outflow sebesar USD 866 juta (sekitar Rp 14,46 triliun dengan kurs Rp 16.700) pada Jumat (14/11). Angka ini menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah ETF Bitcoin, hanya kalah dari rekor USD 1,14 miliar pada 25 Februari 2025. Arus keluar tersebut terjadi hanya sehari setelah Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang pendanaan yang membuka kembali pemerintahan federal setelah 43 hari ditutup.

Namun, berakhirnya shutdown tidak langsung membangkitkan permintaan ETF. Banyak investor masih melihat tekanan pada pasar tetap kuat, terlebih karena ETF menjadi salah satu pendorong utama reli Bitcoin sepanjang 2025 bersama strategi akumulasi besar yang dipimpin Michael Saylor. Tekanan jual membuat harga Bitcoin turun ke sekitar USD 95.095 (Rp 1,58 miliar), level terendah enam bulan.

Analis on-chain Ki Young Ju menilai tren bullish jangka menengah Bitcoin masih aman selama harga tidak jatuh di bawah USD 94.000 (Rp 1,56 miliar). Ia menyatakan, “Saya tidak melihat siklus bearish terkonfirmasi jika level itu tidak ditembus. Lebih baik menunggu daripada mengambil kesimpulan terburu-buru.”

Outflow besar ini juga menjadi tanda kekhawatiran investor terhadap struktur pasar. Dua hari berturut-turut ETF mencatat arus keluar menambah tekanan pada sentimen, terlebih di tengah melemahnya minat institusional.

Di sisi lain, kabar besar datang dari sektor penambangan. Bitfarms mengumumkan akan menghentikan seluruh operasi mining Bitcoin dalam dua tahun ke depan dan mengonversi fasilitasnya menjadi pusat data kecerdasan buatan (AI) dan high-performance computing (HPC).

Konversi dimulai dari fasilitas 18 megawatt di Washington yang akan selesai pada Desember 2026, disusul penutupan aset mining lain sepanjang 2026–2027. CEO Bitfarms, Ben Gagnon, menilai transisi ke AI lebih menguntungkan. “Konversi ini berpotensi menghasilkan pendapatan operasional bersih yang lebih besar dibanding mining Bitcoin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kompetisi mining semakin ketat dan cenderung berpindah ke lokasi-lokasi berisiko atau terpencil, sementara pusat data AI lebih stabil dari segi profitabilitas. Pengumuman ini datang berbarengan dengan laporan keuangan Bitfarms yang mencatat kerugian USD 46 juta (Rp 768,2 miliar) pada kuartal III, sementara pendapatan USD 69 juta (Rp 1,15 triliun) masih di bawah ekspektasi analis. Saham perusahaan anjlok hampir 18% setelah laporan tersebut.

Di sisi lain, perusahaan manajemen aset digital Grayscale secara resmi mengajukan dokumen pendaftaran S-1 ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) untuk go public di New York Stock Exchange dengan ticker GRAY. Harga awal saham akan ditentukan melalui directed share program untuk investor Grayscale Bitcoin Trust ETF dan Grayscale Ethereum Trust ETF. Meski sudah diajukan, dokumen tersebut belum efektif dan diperkirakan membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan hingga disetujui SEC.

Pengajuan IPO ini dilakukan pada hari pertama SEC kembali beroperasi penuh setelah 43 hari shutdown, yang sebelumnya membuat sebagian besar proses peninjauan publik tertunda. Dalam dokumen tersebut, Grayscale melaporkan penurunan pendapatan bersih sekitar USD 20 juta (Rp 334 miliar) dalam setahun, menjadi USD 203,3 juta (Rp 3,39 triliun) per September 2025 dari USD 223,7 juta (Rp 3,73 triliun) pada tahun sebelumnya.

Dengan ETF Bitcoin dan Ether mencatat arus keluar besar, mining berubah arah, dan perusahaan besar seperti Grayscale bergerak menuju IPO, pasar kripto menunjukkan dinamika yang kompleks. Investor kini menilai apakah Bitcoin mampu bertahan di atas area kritis USD 94.000–USD 95.000 atau justru mengonfirmasi tren turun baru.

Disclaimer:

Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *