"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Warga Sibolga Akui Jarah Minimarket Karena Lapar, Janji Ganti Tidak Datang

Pengakuan Warga Terdampak Banjir yang Viral di Media Sosial

Seorang warga yang terkena dampak banjir dan longsor di Sibolga, Sumatera Utara, membuat pengakuan yang viral di media sosial. Dalam video yang beredar luas, pria tersebut secara terbuka meminta maaf karena ikut menjarah sebuah minimarket di tengah situasi darurat.

Dalam rekaman video tersebut, ia mengaku mengambil beberapa barang seperti mie instan, air mineral, dan snack. Ia menjelaskan bahwa tindakan itu dilakukan karena keluarganya hampir tidak memiliki makanan. “Kepada pemilik Alfamart sebelumnya saya minta maaf, karena saya juga orang salah satu yang menjarah toko Alfamart tersebut,” katanya.

Ia menegaskan bahwa niat awalnya bukan untuk melakukan penjarahan, tetapi hanya ingin bertahan hidup. “Saya sebenarnya tidak ada niat untuk berbuat itu, cuman karena keterbatasan makanan yang kami miliki, kami juga terjebak banjir, kami juga tidak ada uang untuk membeli, tidak ada bantuan sama sekali, akhirnya saya ikut mengambil juga.”

Pria ini menjelaskan bahwa barang-barang yang diambil hanya untuk kebutuhan keluarganya. Ia berjanji akan membayar semua barang yang diambil ketika kondisi tempat tinggalnya telah pulih. “Tadi saya mengambil mie Sedap ada tiga, saya dapat sisa-sisa ada juga air mineral saya ambil, ada juga snack. Saya sekali lagi meminta maaf atas kekhilafan saya, sekali lagi saya meminta maaf Insya Allah jika sudah membaik, saya sudah kembali lagi aktivitas, saya pasti kembali ke Toko Alfamart saya akan membayar semuanya. Tadi saya ambil 3 sudah saya masak untuk anak saya.”

Minta Prabowo Ubah Status Bencana

Selain pengakuan warga tersebut, seorang konten kreator bernama Ferry Irwandi turut menyampaikan pendapatnya mengenai bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Ferry menegaskan bahwa suara masyarakat Sumatera semakin keras meminta agar pemerintah pusat menaikkan status bencana menjadi bencana nasional. Menurutnya, hal ini penting karena bencana ini tidak hanya tentang kerusakan fisik atau korban jiwa, tetapi juga soal rasa keadilan.

“Banyak sekali orang-orang Sumatera yang komentar, ‘Sumatera itu masih Indonesia enggak sih?’ ‘Indonesia enggak cuma Jawa’ dan lain sebagainya,” katanya.

Perasaan tersebut muncul karena adanya disparitas pembangunan antara daerah luar Jawa dan Jawa. Ferry menjelaskan bahwa masyarakat luar Jawa, khususnya dari Sumatera, merasa adanya ketidakadilan dalam akses pendidikan, transportasi, dan fasilitas umum.

“Karena mungkin orang yang tidak pernah lahir besar dan tumbuh di daerah luar non Jawa tidak pernah mengalami perasaan ketidakadilan seperti itu. Dan suka atau tidak, setuju atau tidak, perasaan itu ada. Gua bisa confirm karena gua orang Sumatera tulen dan melihat bagaimana disparitas itu nyata, bagaimana akses pendidikan itu sulit, transportasi sulit, fasilitas umum sulit, sementara kita lihat di Jawa orang hidup dengan segala gemerlap dan kelengkapan,” jelasnya.

Tekankan Perubahan Status

Ferry menekankan pentingnya peningkatan status bencana menjadi bencana nasional. Menurutnya, hal ini akan mempercepat respons kebencanaan karena penanganan akan beralih dari daerah ke pusat.

“Karena kita tahu ketika itu ditetapkan jadi bencana nasional, maka penanganan sepenuhnya di pemerintahan pusat dengan kemampuan fleksibilitas dan kewenangan yang jauh lebih besar sehingga tindakan cepat bisa dilakukan walaupun itu punya cost-nya juga temen-temen menetapkan suatu bencana menjadi bencana nasional itu punya PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan,” katanya.

Tidak Sebanding

Meskipun keputusan ini memiliki konsekuensi pada sisi fiskal nasional, seperti perubahan prioritas program dan tekanan pada anggaran negara, Ferry menilai hal tersebut tidak sebanding dengan urgensi penyelamatan korban dan pemulihan wilayah yang terdampak bencana.

“Tapi itu enggak sebanding urgensi keselamatan masyarakat ini jauh lebih dibutuhkan ketimbang problem-problem yang mungkin tidak akan pernah ada itu,” katanya.


Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *