"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Kisah di Balik Bangunan Sitihinggil yang Menyimpan Makna Sakral untuk Raja Keraton Solo

Sejarah dan Makna Bangunan Sitihinggil di Keraton Solo

Bangunan Sitihinggil menjadi salah satu tempat yang memiliki makna sakral dalam Keraton Kasunanan Surakarta. Di sini, Gusti Purbaya akan dinobatkan sebagai Raja Keraton Solo. Tidak hanya sebagai bangunan istana Jawa yang menggabungkan unsur Eropa, kompleks ini juga menyimpan makna filosofis tentang perjalanan hidup manusia.

Budayawan dan keturunan keluarga Keraton Solo, KGPH Dipokusumo atau Gusti Dipo, menjelaskan bahwa tata letak bangunan di Keraton Solo memiliki makna mendalam terkait kehidupan manusia. Menurutnya, setiap bagian dari bangunan mencerminkan asal-usul kehidupan, proses manusia dalam meraih tingkatan hidup tertinggi, serta kembali kepada Tuhan.

Perjalanan Simbolis di Lingkungan Keraton Solo

Perjalanan simbolis dimulai dari Alun-Alun Utara yang dianggap sebagai gerbang awal kehidupan. Di sini terdapat bangunan-bangunan yang melambangkan permulaan hidup. Setelah itu, pengunjung akan melewati Sasana Sumewa yang sekarang lebih dikenal sebagai Pagelaran.

Bergerak lebih ke selatan, terdapat Sitihinggil atau Sitinggil, yang berada di atas permukaan tanah yang lebih tinggi dibanding lingkungan sekitarnya. Sitihinggil dianggap sebagai simbol proses manusia dalam meraih tingkatan hidup tertinggi. Yaitu kondisi ketika seseorang dapat bersikap matang, mendekat pada Tuhan, sehingga mendapatkan ketenangan dan kedamaian batin.

Perjalanan simbolis ini kemudian berlanjut memasuki kawasan inti keraton melalui tembok besar Baluwarti yang mengitari seluruh area keraton. Pintu masuk melalui Kori Kamandungan Lor dapat ditempuh lewat Kori Brojonolo atau Kori Gapit, yang mengandung makna “senjata batin”.

Simbol-simbol Filosofis dalam Kompleks Keraton

Setelah melewati pintu masuk, pengunjung akan melihat deretan cermin besar di sisi kiri, kanan, dan bagian depan. Itu namanya kaca Mulat Slira. Dengan berkaca, seseorang diingatkan kembali terhadap dirinya sendiri, siapa dia, bagaimana dia selama ini.

Melangkah lebih ke selatan, terdapat bangunan Sri Manganti dengan Panggung Sangga Buwana yang menjulang sebagai menaranya. Masuk lebih jauh melalui Kori Ageng, akan tampak kompleks Kedathon yang dipenuhi hamparan pasir hitam yang didatangkan dari Pantai Selatan.

“Masuk pelataran akan bertemu raja. Dalam konsep Jawa dulu, raja disimbolkan sebagai wakil Tuhan,” ucap Gusti Dipo. “Raja sebagai wakil Tuhan, manusia bertemu raja sebagai asal hidup ada yang mengatur.”

Gambaran perjalanan hidup manusia berlanjut hingga kompleks terakhir di bagian Alun-Alun Selatan. Di area ini terdapat Sitihinggil Selatan yang dibuat lebih rendah ketinggiannya sebagai simbol kerendahan hati manusia di hadapan Tuhannya. Perjalanan itu berakhir di Alun-Alun Selatan yang ditandai dua pohon beringin di tengah lapangan luas.

Dinamika Keluarga Besar Keraton Surakarta

Rapat keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta yang digelar pada Kamis (13/11/2025) untuk membahas suksesi setelah wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII berlangsung dengan dinamika tersendiri. Dalam forum tersebut, KGPH Hangabehi dinyatakan sebagai penerus takhta. Di sisi lain, rencana jumenengan atau upacara pelantikan Putra Mahkota, KGPAA Hamengkunegoro atau Gusti Purboyo yang sebelumnya juga menyatakan dirinya sebagai Pakubuwono (PB) XIV tetap akan dilangsungkan sesuai agenda.

KGPH Hangabehi merupakan putra sulung mendiang PB XIII yang lahir dari istri kedua. Sementara itu, putra termuda dari istri ketiga PB XIII, yakni KGPAA Hamengkunegoro atau Gusti Purboyo, yang sebelumnya berstatus sebagai Putra Mahkota, juga mengklaim diri sebagai Pakubuwono XIV.

GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng selaku perwakilan keluarga keraton menjelaskan bahwa tujuan utama rapat ini adalah merajut kembali persatuan keluarga besar dan abdi dalem Keraton Surakarta. Ia membenarkan bahwa dalam pertemuan tersebut memang terjadi penetapan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV. Penobatan Hangabehi dianggap mengikuti paugeran atau aturan adat keraton.

Persiapan dan Proses Suksesi di Keraton Solo

Putra laki-laki tertua PB XIII, KGPH Hangabehi, enggan menanggapi penobatannya sebagai PB XIV dalam rapat keluarga besar Keraton Surakarta. “Pokoknya nanti tunggu saja. Secepatnya nanti ada pemberitahuan dari keraton,” katanya.

Adapun persiapan jumenengan KGPAA Hamengkunegoro atau Gusti Purboyo sebagai PB XIV sudah mencapai 70 persen. “Prosesnya ya tetap seperti upacara adat yang memang harus kita jalankan,” ungkap GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani, putri tertua PB XIII.

Terkait rencana jumenengan atau prosesi penobatan KGPAA Hamengkunegoro atau Gusti Purboyo sebagai PB XIV yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (15/11/2025), Gusti Moeng menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkannya. Menurutnya, pihak keluarga memilih menunggu hingga lewat masa 40 hingga 100 hari meninggalnya PB XIII.

[GAMBAR-1]

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *