"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

Tarmuji Tak Menyesal Tinggalkan Pekerjaan, Kini Kelola 2000 Ekor Kambing di Usia 29 Tahun

Kisah Sukses Pemilik Peternakan Kambing Modern di Kota Tegal

Tarmuji, seorang pemuda berusia 29 tahun, adalah sosok yang menginspirasi banyak orang dengan kisah suksesnya dalam membangun peternakan kambing modern di Desa Dukuhwaru, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Awalnya, ia adalah seorang teknisi yang bekerja di sebuah perusahaan industri perakitan sepeda motor di wilayah Jabodetabek. Namun, ia memutuskan untuk resign dan beralih ke dunia peternakan.

Sejak usia 23 tahun, Muji memulai usaha peternakan kambing ini. Saat itu, latar belakangnya tidak biasa karena ia lulusan teknik mesin dari sekolah menengah kejuruan. Keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai teknisi dilakukan setelah melihat peluang bisnis di Tegal, khususnya terkait permintaan daging kambing yang sangat tinggi. Di Tegal, warung sate khas memiliki daya tarik besar, namun pasokan kambing lokal masih terbatas.

Muji menyadari bahwa ada celah pasar yang bisa dimanfaatkan. Ia memulai usaha peternakan kambing dengan lahan seluas 1.700 meter persegi dan saat ini mengelola sekitar 2.000 ekor kambing. Tujuannya adalah untuk menyokong kebutuhan daging kambing bagi ratusan warung sate di wilayah tersebut.

Teknik pengelolaan yang digunakan Muji sangat unik. Ia menerapkan metode peternakan sapi Wagyu ala Jepang, yang menekankan pengaturan pakan bernutrisi tinggi, jadwal makan terkontrol, serta manajemen stres ternak. Teknik ini ia pelajari secara langsung saat berada di Jepang. Dengan pola tersebut, pertumbuhan lemak intramuskular dan tekstur daging menjadi lebih halus dan empuk.

“Dengan teknis tersebut, kualitas daging domba yang dihasilkan memiliki tekstur premium yang menyerupai daging sapi kelas dunia,” ujarnya.

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih yang meninjau langsung peternakan Muji mengaku kagum dengan model peternakan yang dikembangkan oleh Muji. Menurut Fikri, langkah Muji terjun ke sektor peternakan merupakan langkah strategis di tengah era disrupsi ekonomi. Ia menilai sektor pertanian, peternakan, dan kuliner tetap menjadi bidang fundamental yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi.

Fikri juga menyoroti kemampuan Muji dalam mengelola seluruh aspek peternakan, mulai dari pakan hingga pemanfaatan limbah kotoran dan urin menjadi produk bernilai guna. Kemampuan tersebut dinilai menjadi salah satu kunci di balik kualitas daging kambing yang empuk dan diminati konsumen.

Melalui kunjungan masa reses Desember 2025, Fikri mengajak generasi muda untuk tidak ragu berinovasi di sektor peternakan. Dengan sentuhan manajemen modern, sektor tersebut dinilai mampu menciptakan lapangan kerja mandiri yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kisah Sukses Lainnya: Nanda Dwi Asmoro, Guru yang Berbisnis Barang Antik

Selain Tarmuji, ada juga kisah sukses lain dari Nanda Dwi Asmoro (39), seorang guru SD asal Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Nanda sudah hampir 10 tahun menekuni bisnis sampingan jual beli barang antik. Di sela-sela kesibukannya mengajar, ia meluangkan waktu untuk berburu barang lawasan yang akan dijual kembali sebagai tambahan ekonomi keluarga.

Nanda terlihat duduk santai sambil membersihkan buku lawas di ruangan samping rumahnya. Ruangan itu bisa disebut galeri, tempat menyimpan barang-barang antik koleksinya. Beberapa radio lawas, koper jadul, dan lampu antik tampak ditata rapi di atas meja dan lemari. Lukisan, foto presiden, patung burung garuda, dan poster lawas juga menempel di dinding ruangan.

Nanda bercerita bahwa ia mulai menekuni bisnis jual beli barang antik sejak 2015. Sebelumnya, ia sempat menjual spare part sepeda motor lawas. Pada 2015, ia bertemu dengan temannya yang penggemar barang antik, dan dari situ ia mulai tertarik ikut menekuni bisnis ini.

Pada masa itu, status Nanda masih sebagai guru honorer di SDN Tlogo 2 Kabupaten Blitar. Ia mulai mengajar sebagai guru olah raga sejak 2006 dan diangkat menjadi PNS pada 2021. Bisnis sampingan ini membantu ekonomi keluarganya, terutama karena gaji sebagai guru honorer hanya sekitar Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per bulan.

Nanda membagi waktu antara mengajar dan berburu barang antik. Biasanya, sore hari sepulang dari mengajar, ia mulai berburu barang lawasan di pengepul rosokan yang berada di wilayah Blitar. Ia membeli bermacam barang lawasan seperti radio, mesin ketik, telepon, koper, kaset, kursi, dan poster dari pengepul rosokan.

Barang-barang itu ia beli dengan sistem kiloan atau ditimbang. Kadang, ia mendapat tiga radio lawas berat satu kilogram dengan harga di bawah Rp 50.000. Sampai di rumah, radio hasil ngrosok itu ia bersihkan untuk dijual kembali dengan harga minimal Rp 100.000 per biji.

Nanda memasarkan koleksi barang lawasannya melalui media sosial dan komunitas penggemar barang antik. Terkadang, ia juga ikut pameran untuk memasarkan koleksi barang lawasannya. Selain itu, koleksi barang lawasan miliknya juga banyak dibeli oleh pelanggan yang hendak membuka kafe dengan konsep retro.

“Inilah kisah sukses dari dua individu yang berhasil mengubah passion mereka menjadi bisnis yang berkelanjutan,” ujar Nanda.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *