Beberapa warga mengungkapkan kronologi penganiayaan yang menyebabkan seorang pria tewas, diduga dilakukan oleh prajurit TNI Angkatan Laut di Jalan Swadaya Mas, RT. 004 RW. 001 Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Depok, pada Jumat dini hari, 2 Januari 2026.
Salah satu warga setempat, KS (51 tahun), menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, awalnya ada seseorang yang mencurigakan sedang berjalan-jalan di lingkungan sekitar pukul 02.00 WIB.
“Sebelum jam 2, orang ini ditangkap oleh pelaku M. Saat ditanya, korban mencari sosok Agus sambil menunjukkan HP-nya. Setelah melihat HP tersebut, menurut cerita warga, korban disangka sedang janji transaksi narkoba,” kata KS saat ditemui Sabtu petang.
Ketika hendak diambil oleh pelaku M, korban mencoba merebut dan kabur, sehingga dikejar hingga tertangkap kembali, tidak jauh dari lokasi pertama.
“Korban ditangkap di gang sebelah, lalu dibawa ke sini. Saya bangunin waktu itu. Memang saat keluar rumah, saya melihat pelaku memukul satu kali dengan tangan kosong dan satu kali dengan kaki, itu yang saya lihat terhadap korban yang ditangkap duluan,” jelas KS.
Setelah itu, datang lagi seorang anak remaja yang mengatakan ada orang lain di Jalan H. Ma’ahunan sedang menunggu menggunakan motor. KS pun meminta untuk mengecek dan berkoordinasi dengan Ketua lingkungan.
“Saya bilang kepada Pak RT, tolong cek dan amankan orang ini. Akhirnya dia dibawa ke sini dan ternyata kenal dengan yang ditangkap sebelumnya,” ujarnya.
Karena lingkungan dekat rumahnya padat penduduk dan khawatir mengganggu warga yang sedang istirahat, akhirnya KS meminta pelaku membawa korban ke lapangan.
“Saat itu saya tidak mengikuti karena sedang kurang sehat. Setelah itu saya ke kamar mandi, ternyata sudah tidak ada. Setelah saya menyusul, orang yang pertama (diamankan) sudah terkapar, sementara yang satunya sedang diinterogasi di pojokan,” jelas KS.
Pelaku mengatakan bahwa pria kedua yang diamankan telah mengakui sedang melakukan transaksi narkoba dan meminta izin untuk membawa korban mencari barang bukti di Jalan Kapitan menggunakan mobil warga.
“Setelah itu saya bilang ‘kalau begitu silahkan’, tapi saya jujur tidak tahu bagaimana penyiksaannya,” ujar KS.
KS sendiri tidak mengetahui jenis narkoba yang dimaksud, karena korban hanya menyampaikan bahwa barang buktinya ada di sana. Namun, saat dicari tidak ditemukan.
“Menurut pelaku, ‘ini pak malah dibawa keliling-keliling’, bahkan sampai ke Sukatani, sekitar setengah jam. Terus bilang barang buktinya tidak ada,” kata KS.
KS kemudian melihat kondisi korban yang berada di lapangan, karena merasa kasihan akhirnya membawa korban ke Polsek Cimanggis sekitar pukul 03.45 WIB.
“Saya telepon pelaku untuk membawa korban yang di lapangan. Saya bangunkan warga yang punya mobil. Awalnya korban duduk dan diberi minum oleh warga, masih sadar. Setelah saya selesai telepon, dia tidur lagi,” jelas KS.
Pelaku langsung menyusul ke Polsek Cimanggis membawa korban kedua yang sebelumnya mencari barang bukti, kemudian kedua korban dibawa ke RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua, Depok. KS sendiri tidak mengetahui kondisinya.
“Pagi itu saya baru tahu orang ini meninggal. Langsung saya berkata, ‘Ya Allah, kenapa kejadian ini terjadi di lingkungan saya? Kenapa anak-anak ini bangunkan saya telat? Seandainya dari awal, tidak akan terjadi seperti ini. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong dan melindungi orang ini’,” ujarnya.
Saat Tempo menyambangi lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian perkara (TKP), sejumlah warga tampak berkumpul di pos RT.
Wajah mereka terlihat waspada saat melihat orang asing masuk ke wilayahnya, karena pasca penganiayaan pria hingga tewas oleh anggota TNI AL, lingkungan tersebut disatroni sejumlah orang, pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2025.
“Warga yang berkumpul itu setelah kejadian. Setelah kejadian baru tahu, jadi salah kalau orang-orang itu menyerang lingkungan. Orang lingkungan justru melindungi orang ini, cuma memang terlambat,” ucap KS.
“Ini yang aniaya bukan massa, bukan warga, tapi satu orang. Dan orang itu pun sudah tidak ada di sini,” katanya. Pelaku kemudian dibawa oleh Polisi Militer TNI AL atau POMAL.











