Keluarga yang Hancur Akibat Penganiayaan di Libya
Keluarga Meylani Madalombang, seorang pekerja migran asal Manado, kini sedang berjuang untuk memulangkan anggota keluarganya yang terjebak di Libya. Meylani diduga mengalami penganiayaan oleh majikan di sana, dan kondisinya semakin memprihatinkan. Saat ini, ia dalam keadaan sakit, tetapi tidak diperbolehkan pulang.
Tribunmanado menemui Olivia, adik Meylani, dan keluarganya di Kelurahan Paal Empat Lingkungan 4, Kecamatan Tikala, kota Manado, provinsi Sulut, pada Jumat (23/1/2026). Mereka tampak remuk dan patah hati. “Kami kini hanya bisa berdoa,” ujar Olivia dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi putus asa.
Olivia menjelaskan bahwa kakaknya, Meylani, awalnya ingin bekerja di luar negeri untuk menambah penghasilan. Ia mendaftar melalui sebuah perusahaan, tetapi kemudian dihubungi oleh penyalur yang menawarkan jalan lebih cepat. Meylani ditawarkan paspor wisata, meski ia merasa bingung. Penyalur mengatakan itu hanya sementara.
Setiba di bandara, orang tersebut menyatakan bahwa Meylani akan diberangkatkan ke Dubai. Ia protes karena sebelumnya disebutkan bahwa ia akan bekerja di Turki. Namun, penyalur meminta ganti rugi, dan akhirnya Meylani setuju.
Dari Manado, Meylani menuju Makassar, lalu Jakarta. Di sana, ada agen yang menjemputnya. Setelah itu, ia naik Oman Air. Dua minggu lamanya, ia berada di Dubai, tetapi ternyata pekerjaan yang ditawarkan adalah masak-masak. Ia lalu dibawa ke Libya.
Di Libya, Meylani dipekerjakan di Benghazi sebagai pembantu rumah tangga. Majikan pertamanya ternyata tidak baik. Hanya dua minggu bekerja, ia mengalami penyiksaan. Majikan perempuan sering melemparkan barang tajam, termasuk pisau yang melukai tangannya. Ia meminta pengobatan, tetapi tidak diberikan.
Karena tidak tahan, Meylani kabur. Ia hanya membawa baju, ponsel, dan charger. Ia mencari sinyal di cafe. Tiba-tiba, ia ingat bahwa di pesawat ada seorang pramugara bernama Mohammad yang memberinya nomor. Ia menghubungi Mohammad, dan tak lama kemudian, pramugara itu datang.
Meylani dibawa ke saudara temannya. Di sana, ia diperlakukan baik, tetapi tidak bisa tinggal terus. Ia harus segera ke Tripoli, tempat KBRI Indonesia berada. Namun, perjalanan dari Benghazi ke Tripoli tidak mudah. Ia membutuhkan surat, dan keluarga yang baik membawanya lewat bus dengan menyamar.
Tiba di KBRI, persyaratan tambahan diberikan. Staf KBRI menyatakan bahwa Meylani harus membayar sejumlah uang ke agen. Sayangnya, Meylani tidak memiliki uang, karena semua sudah ia tinggalkan. Ia dicarikan majikan baru di Tripoli, tetapi kondisi tidak berbeda dengan sebelumnya.
Meylani kembali dieksploitasi. Ia bekerja dari pagi hingga malam, tanpa batas waktu. Punggung dan kakinya sakit akibat kerja berlebihan. Untuk bangun saja, ia kesulitan. Ia meminta pulang, tetapi tidak diizinkan.
Video yang diterima Tribunmanado menunjukkan Meylani menangis dan memohon bantuan. “Saya korban TPPO, awalnya dijanjikan penyalur untuk bekerja di Turki, tapi kemudian saya dibawa ke Dubai dan setelah itu Libya. Di sini saya terjebak selama 11 bulan, bekerja sebagai IRT tanpa surat kontrak. Saya dipekerjakan secara berlebihan, dieksploitasi, saya tak kuat. Saya sudah sakit tulang belakang saya, majikan tak mau memulangkan saya. Saya minta tolong pada menteri luar negeri, BP2MI dan Menteri HAM,” kata dia.
Keluarga Meylani tampak putus asa. Segala daya untuk memulangkan kakak mereka seperti membentur tembok tebal. Olivia, adik korban, mengungkapkan bahwa sang kakak diduga mengalami penyiksaan di dua majikannya. Pada majikan pertama di Benghazi, Meylani sering dilempar benda tajam. Pada majikan kedua di Tripoli, ia bekerja tanpa batas waktu.
Meylani juga sering curhat lewat video call. Badannya kurus dan tampak sedih. Olivia selalu memperkuat semangatnya, meminta agar terus berdoa agar ada jalan keluar. Ia mengatakan, butuh perjuangan bagi sang kakak untuk meneleponnya karena akses wifi dibatasi.
Pada kesempatan itu, Olivia mewakili keluarga meminta bantuan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri serta Gubernur Sulut Yulius Selvanus untuk membantu kepulangan kakaknya. “Dia sudah sangat menderita, kami minta tolong kepada bapak Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri serta Gubernur Sulut Yulius Selvanus,” kata dia.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











