Kasus Pedagang Es Gabus Ajat Suderajat Kembali Diperbincangkan
Kasus pedagang es gabus Ajat Suderajat kembali menjadi perhatian masyarakat. Kali ini, informasi baru datang dari tetangganya sendiri yang memberikan kesaksian tentang kondisi mental Ajat Suderajat. Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa Ajat memiliki keterbatasan mental yang memengaruhi cara berbicaranya.
Tetangga bernama Makmur, yang tinggal di dekat rumah Ajat, mengungkapkan bahwa Ajat sering kali tidak konsisten dalam berbicara dan terkadang menyampaikan hal-hal yang tidak jelas. Pernyataan Makmur ini disampaikan melalui percakapan video call dengan Aminudin, seorang konten kreator dan pengurus Yayasan Rumah Mans Indonesia.
Dalam percakapan tersebut, Makmur menjelaskan bahwa Ajat sebenarnya memiliki rumah sendiri, namun saat ini sedang dalam proses renovasi. Oleh karena itu, ia tinggal di rumah kontrakan yang sering salah dikira sebagai rumah pribadinya.
“Betul (ngontrak) aslinya punya rumah, cuma kan rumahnya hancur lagi direnovasi. Yang orang datengin itu sebetulnya rumahnya ngontrak,” ujar Makmur kepada Aminudin.
Makmur juga menyebut bahwa ucapan Ajat sering kali tidak jelas dan sulit dipahami. Ia beralasan karena Ajat memiliki keterbelakangan mental. Menurutnya, Ajat sering kali berubah-ubah pendapat dan tidak konsisten.
“Dia ini orangnya enggak bisa dipegang omongannya, suka ngalor ngidul suka berubah-ubah bahkan enggak sekali dua kali sering berubah karena pak Ajat Suderajat ini ada keterbatasan mental,” tambah Makmur.
Aminudin sendiri menegaskan bahwa ia tidak bermaksud membela Ajat, tetapi hanya ingin memberikan gambaran tentang kondisi Ajat. Ia menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Ajat pada tanggal 27 Januari sebelum ketemu dengan Dedy Mulyadi. Ia menunggu hingga jam 12 malam karena banyak tamu yang datang ke rumah Ajat.
Ia juga menjelaskan bahwa uang donasi belum digunakan sama sekali karena baru viral. Selain itu, ia berbicara panjang lebar dengan anak dan tetangga Ajat, yang menyatakan bahwa Ajat agak berbeda, termasuk istrinya yang mengalami kesulitan mendengar.
Penjelasan dari Pihak Kecamatan
Senada dengan kesaksian Makmur, pihak Kecamatan Bojonggede juga memberikan penjelasan serupa. Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan bahwa hasil asesmen lintas instansi menunjukkan adanya indikasi disabilitas mental pada Ajat dan istrinya.
Menurutnya, perilaku Ajat yang sering berubah-ubah saat ditanya bukan semata-mata karena bohong, melainkan kemungkinan gangguan mental pascatrauma. Hal ini memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Ajat dan istri.
“Terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video YouTube) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” kata Tenny.
Kondisi tersebut membuat Ajat kesulitan menyampaikan informasi secara runtut dan konsisten. Bahkan, menurut keterangan RT dan RW setempat, tampak tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental sejak lama. Kondisi ini diperparah oleh tekanan setelah peristiwa yang menimpanya.
“Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah,” ujarnya.
Tenny melanjutkan bahwa keterangan dari Ketua RT dan RW setempat juga menguatkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Ajat. Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya, lalu diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian viral.
“Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya,” katanya.
Bahkan, Ajat ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.
“Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak),” bebernya.
Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Ajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











