"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Kopda Randa Pratama Tinggalkan Istri dan Bayi 8 Bulan

Perjalanan Hidup dan Kehidupan Kopda Marinir Randa Pratama

Kopda Marinir Randa Pratama gugur dalam bencana longsor Cisarua, Bandung Barat, pada 24 Januari 2026. Ia adalah salah satu dari 23 prajurit Marinir TNI AL yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Randa meninggalkan istri dan bayi berusia delapan bulan, yang menjadi beban berat bagi keluarganya.

Di rumah duka, Minggu (1/2/2026), ayah Randa, Johariyanto, mengenang perjalanan hidup putranya dengan air mata yang jatuh dari matanya. Meskipun sangat berduka, ia mengaku ikhlas melepas kepergian anak kesayangannya. Menurut Johariyanto, cita-cita Randa menjadi tentara telah tumbuh sejak usia dini. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, almarhum sudah mantap ingin mengabdikan diri sebagai prajurit.

Randa lahir di Sumbersari pada 15 Desember 1996, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, ia dikenal disiplin, pekerja keras, dan memiliki tekad kuat. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Sumbersari, dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Natar, dan SMA Negeri 14 Bandar Lampung. Selama masa sekolah, Randa aktif dalam berbagai kegiatan fisik dan bela diri.

Setelah lulus SMA, Randa langsung berjuang mewujudkan mimpinya dengan mengikuti seleksi TNI Angkatan Darat pada 2016. Meski gagal, Randa tidak menyerah. Setahun kemudian, ia kembali mencoba peruntungan melalui seleksi TNI Angkatan Laut. Usahanya membuahkan hasil. Pada 2017, Randa resmi diterima dan memulai pengabdiannya sebagai prajurit marinir.

Bagi keluarga, Randa bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga pahlawan. Sosok anak, suami, dan ayah yang rela mengabdikan hidupnya untuk negara. “Ini anak kesayangan saya. Pahlawan saya. Anak laki-laki saya satu-satunya. Saya ikhlas dia meninggal demi tugas negara,” ucap Johariyanto dengan suara bergetar.

Kemampuan Bela Diri dan Karakter Tangguh

Perjuangan Randa tidak lepas dari bekal kemampuan bela diri yang ia tekuni sejak remaja. Ia tercatat sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), sebuah perguruan silat yang menanamkan nilai disiplin, persaudaraan, dan ketangguhan mental. Kemahiran bela diri tersebut turut membentuk karakter Randa sebagai sosok yang tangguh, pantang menyerah, dan siap mengabdi kepada negara.

Setelah resmi menjadi prajurit TNI AL, Randa mengabdikan diri di Korps Marinir, satuan tempur yang dikenal memiliki tugas berat dan menuntut kesiapan fisik serta mental tinggi. Bagi Randa, menjadi Marinir bukan sekadar profesi, melainkan wujud nyata dari cita-cita masa kecil yang akhirnya tercapai.

Kisah hidup Kopda Mar Randa Pratama menjadi gambaran tentang perjuangan anak daerah yang tidak mudah menyerah pada keadaan, serta bukti bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju impian.

Prosesi Pemakaman Secara Militer

Adapun prosesi pemakaman Kopda Mar Randa Pratama dilakukan secara militer. Sebelum diberangkatkan ke tempat pemakaman, terlebih dahulu digelar apel penerimaan dan pelepasan jenazah dari pihak keluarga kepada TNI. Almarhum kemudian dimakamkan di TPU Sumbersari, Desa Mandah, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Prosesi pemakaman diiringi tembakan salvo sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian almarhum kepada bangsa dan negara. Kepergian Kopda Mar Randa Pratama meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekan-rekan satuannya.

Suasana Rumah Duka

Suasana duka menyelimuti Dusun Sumbersari I Mandah, RT 06 RW 004, Desa Mandah, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (1/2/2026). Warga bersama anggota DPRD Lampung Selatan Daerah Pemilihan (Dapil) Natar datang ke rumah duka almarhum Kopda Mar Randa Pratama (30) NRP 123721 (Anumerta), anggota Korps Marinir TNI AL yang gugur saat bertugas di Cisarua, Jawa Barat.

Kunjungan tersebut dipimpin oleh anggota DPRD Lampung Selatan dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Bayu Prasetya. Kehadiran DPRD Lampung Selatan untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberi penghormatan atas pengabdian almarhum kepada bangsa dan negara.

Pantauan di lokasi, bendera kuning terpasang di depan rumah duka. Sebuah tarup atau tenda terpal juga berdiri untuk menyambut para tamu yang datang silih berganti menyampaikan belasungkawa. Papan bunga ucapan duka cita tampak diletakkan di sekitar rumah keluarga almarhum. Ayah korban, Johariyanto, terlihat duduk di depan rumah didampingi sejumlah anggota Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa (Brigif 4 Marinir/BS).

Mereka tampak berbincang dengan wajah penuh kesedihan, sesekali menyambut pelayat yang hadir. Doa dan salawat terdengar dari dalam rumah korban. Korban merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Johariyanto dan Mardalena. Korban meninggalkan istri Gita Alvia Sufaat (31) dan satu anak (8 bulan).








Kasi Dalka (Pengendalian Karir) Mayor Marinir Sugiyono dan Kasi PAM Intel Brigif Mayor Marinir Rizaldi tampak sudah datang juga ke lokasi. Almarhum Kopda Mar Randa Pratama diketahui gugur saat menjalankan tugas negara. Ia merupakan salah satu dari 23 prajurit Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa yang sedang melaksanakan Latihan Pra-Tugas Satgas Gobang 7 di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Peristiwa tragis itu terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan latihan sejak Kamis (22/1/2026) hingga Jumat (23/1/2026) tanpa henti. Curah hujan tinggi memicu longsor yang menimpa lokasi tempat para prajurit berada, hingga akhirnya merenggut nyawa almarhum.

Anggota DPRD Lampung Selatan, Bayu Prasetya, menyampaikan rasa duka mendalam atas gugurnya prajurit muda terbaik asal Natar tersebut. Ia juga mengapresiasi dedikasi dan pengabdian almarhum sebagai abdi negara. “Kami datang sebagai bentuk empati dan penghormatan. Almarhum adalah putra daerah Lampung Selatan yang telah mengorbankan jiwa raganya demi tugas negara. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujarnya.

Kepergian Kopda Mar Randa Pratama meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga Natar dan institusi Korps Marinir TNI AL. Almarhum dikenal sebagai pribadi yang ramah dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *