Harga Emas Alami Crash Besar, Apa yang Terjadi?
Setelah sempat mencapai level psikologis di atas $5.000 per troy ons, harga emas mengalami penurunan tajam hingga hampir 10 persen. Peristiwa ini menjadi koreksi terdalam dalam 43 tahun terakhir. Pengusaha milenial sekaligus konten kreator finansial, Raymond Chin, memberikan analisis mendalam melalui video kanal YouTube-nya pada Jumat (13/2/2026).
Raymond memperingatkan bahwa emas saat ini sedang berada dalam fase yang “sangat aneh” dan meminta investor untuk memahami narasi besar di baliknya sebelum mengambil keputusan.
“Emas gila banget naiknya, RSI ekstrem kayak 40 tahun lalu, lalu tiba-tiba crash hampir 10 persen ter ekstrem dari 43 tahun lalu. Ini masih worth dibeli atau sinyal bahaya? Di video ini kita bahas teori 3 kaki meja dan efek isu Kevin Warsh ke arah harga emas. Tonton sampai habis, bukan financial advice dan tetap pakai uang dingin,” kata Raymond.
Ia menegaskan, fenomena ini jarang terjadi dalam sejarah modern. “Baru beberapa bulan yang lalu emas ngalamin kejadian yang cuma terjadi 40 tahun lalu,” ujarnya.
Menurut Raymond, banyak orang menganggap emas sebagai safe haven tanpa benar-benar memahami faktor penggeraknya. Ia menyoroti indikator RSI (Relative Strength Index) yang sempat menembus di atas 90 saat harga emas melampaui $5.000.
“RSI di atas 90 itu titik jenuh beli paling ekstrem sejak 40 tahun terakhir. Benar-benar euforia. Orang FOMO semua harus beli emas, padahal mayoritas cuma ikut-ikutan,” jelasnya.
Tak lama setelah euforia itu, harga emas justru anjlok hampir 10 persen. “Crash ini terburuk sejak 43 tahun lalu. Naik turunnya kayak saham gorengan,” katanya.
Teori 3 Kaki Meja Emas
Raymond merangkum pergerakan emas dalam konsep “teori tiga kaki meja”, yakni fear (ketakutan), kekuatan dolar AS, dan real yield (imbal hasil riil).
-
Fear (Ketakutan Global)
Menurutnya, emas sangat sensitif terhadap ketakutan pasar, terutama pasar saham. Ia merujuk riset 1963–2024 yang menunjukkan emas lebih responsif terhadap gejolak saham dibanding obligasi.
“Di 2026 ini ketakutannya beda. Yang sakit itu yang seharusnya jadi penyelamatnya, yaitu negara,” ujarnya, menyinggung tensi geopolitik dan lonjakan utang Amerika Serikat.
Ia menyebut lonjakan emas ke $5.000 bukan sekadar panic buying, melainkan “fenomena wealth migration”, ketika orang kaya global memindahkan aset demi menghindari risiko sanksi dan pembekuan aset saat perang. -
Dolar AS
Harga emas dunia dipatok dalam dolar AS. “Kalau US dollar menguat, biasanya emas melemah,” jelasnya.
Ia menyoroti ancaman dedolarisasi global sebagai salah satu faktor yang memicu lonjakan emas. -
Real Yield
Raymond menjelaskan hubungan suku bunga riil dengan emas.
“Setiap suku bunga riil naik 1 persen, harga emas rata-rata turun 4,69 persen,” ujarnya, mengutip riset historis. Jika imbal hasil obligasi AS menarik, investor cenderung meninggalkan emas.
Efek Kevin Warsh dan Koreksi Tajam
Raymond juga membahas rumor penunjukan Kevin Warsh sebagai kepala bank sentral AS menggantikan Jerome Powell. Menurutnya, profil Warsh yang dikenal hawkish dan anti-inflasi membuat pasar bereaksi keras.
“Publik mikir, kalau Kevin Warsh jadi bos The Fed, uang gratis hilang, inflasi ditekan, suku bunga bisa ditahan atau naik lagi. Artinya dolar menguat dan emas jadi kurang menarik,” jelas Raymond.
Ia menilai pada momen itu, logika ekonomi jangka pendek mengalahkan ketakutan geopolitik. Ditambah lagi, kondisi RSI di atas 90 memang secara teknikal sudah jenuh beli.
Outlook Emas: Jual, Tahan, atau Beli?
Raymond mengingatkan agar investor tidak gegabah. “Jangan terlalu gampang ambil kesimpulan,” ujarnya. Ia menyinggung prediksi JPMorgan Chase yang memproyeksikan harga emas bisa mencapai $8.000 AS pada 2030. Namun, ia menekankan perubahan mindset.
“Emas itu bukan untuk meledakkan kekayaan, tapi melindungi kekayaan,” katanya. Menurutnya, emas lebih tepat dilihat sebagai instrumen jangka panjang dan bagian dari diversifikasi portofolio.
“It’s always good to have exposure, tapi jangan lihat emas sebagai profit jangka pendek,” tegasnya. Raymond juga menyarankan investor memantau indikator RSI dan memahami pergerakan sentimen pasar.
“Harga aset bukan cuma refleksi fakta, tapi refleksi sentimen terhadap kemungkinan yang belum tentu terjadi,” ujarnya. Ia menutup dengan pengingat: “Ini bukan financial advice. Pakai uang dingin dan pahami tiga kaki meja tadi sebelum ambil keputusan.”
Strategi yang Disarankan oleh Raymond Chin
-
Ubah Mindset
Jangan gunakan emas untuk trading jangka pendek atau mencari profit cepat. “Emas tepat untuk melindungi kekayaan, bukan untuk meledakkan kekayaan,” tegasnya. -
Asuransi Kekayaan
Anggap emas sebagai asuransi saat dunia belum baik-baik saja. -
Pantau Indikator
Hindari membeli saat RSI di atas 90. Raymond sendiri mengaku lebih tertarik menambah porsi saat RSI berada di angka 40-50. -
Gunakan Uang Dingin
“Bukan financial advice, tetap pakai uang dingin dan dapatkan exposure yang kecil saja biar kalian ngerasain,” pungkas Raymond.
Melalui ulasan ini, Raymond mengingatkan bahwa meskipun ada potensi penurunan karena faktor dolar dan kebijakan Kevin Warsh, “kaki” pertama emas (ketakutan/geopolitik) masih sangat kuat karena risiko perang dunia yang belum mereda.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











