Musancab PDI Perjuangan Lombok Timur: Momentum Konsolidasi dan Refleksi Sejarah
Musyawarah Anak Cabang (Musancab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Lombok Timur menjadi momen penting dalam perjalanan partai. Acara yang digelar di Gedung Wanita Selong, Sabtu (14/2/2026), bukan hanya sekadar agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum refleksi sejarah dan penguatan konsolidasi kader menuju Pemilu 2029.
Acara ini dibuka oleh Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat, dengan rangkaian kegiatan bernuansa ideologis. Mulai dari kirab panji partai, hening cipta hingga pembacaan Dedication of Life Bung Karno, mencerminkan semangat perjuangan yang terus hidup di tubuh partai. Sebanyak 777 peserta yang terdiri atas pengurus PAC dan ranting se-Lombok Timur memenuhi arena musyawarah, menunjukkan komitmen kader untuk membangun partai dari dasar.
Ketua DPC PDIP Lombok Timur, Ahmad Sukro, dalam laporannya menyatakan bahwa Musancab menjadi titik kebangkitan partai di daerah tersebut. Ia menegaskan pentingnya untuk jujur melihat diri sendiri dan memperbaiki struktur partai dari atas sampai ranting. “Kita tidak ingin PDI Perjuangan dianggap tidak ada,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa Lombok Timur memiliki posisi historis dalam perjalanan partai di NTB, dan harus menjadi sesuatu yang berbeda dibanding DPC lainnya.
Menghadirkan Para Pejuang Era 1980-an
Dalam arahannya, Rachmat Hidayat memberi kejutan dengan menghadirkan para pejuang partai era 1980-an. Masa ketika partai berjuang di bawah tekanan rezim Orde Baru dan sempat meraih enam kursi DPRD Lombok Timur. Kehadiran mereka, kata Rachmat, bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat nilai dasar perjuangan. Para pejuang partai itu, menurutnya, bukan cerita masa lalu, mereka adalah fondasi partai.
Di masa sulit, mereka tidak menyerah. Politisi kharismatik Bumi Gora ini menegaskan bahwa partai besar tidak boleh tercerabut dari sejarahnya. Nilai keberanian, militansi, dan keberpihakan pada rakyat yang diwariskan para pejuang lama harus menjadi pedoman kader hari ini.
“Dari daerah inilah perlawanan itu dibangun. Kita pernah enam kursi, di masa yang tidak mudah. Sekarang tinggal tiga, tapi jangan pernah merasa kecil. Dari tiga kita bisa kembali ke enam,” ujar Rachmat dengan suara bergetar penuh semangat. Ia menekankan bahwa kejayaan masa lalu bukan untuk diratapi, melainkan dijadikan bahan bakar perjuangan.
Pentingnya Konsistensi Kader
Menurut Rachmat, kunci kebangkitan ada pada konsistensi kader untuk turun langsung ke masyarakat. “Jangan hanya pandai bicara di forum. Temui rakyat, dengarkan keluhan mereka, dekati tokoh masyarakat. Partai ini hidup kalau kadernya hidup di tengah rakyat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan PAC dan ranting sebagai mesin utama gerakan partai. Ia bahkan meminta pengurus berdiri dan diabsen satu per satu, sebagai simbol kesiapan struktur menghadapi tantangan politik ke depan. Tak kalah penting, ia menyoroti generasi muda sebagai harapan baru. Pemilu 2029 disebutnya sebagai momentum kebangkitan anak muda di PDI Perjuangan.
“Zamannya anak muda. Mereka independen, cerdas, dan kritis. Kalau kita tidak mendekati mereka dari sekarang, kita akan tertinggal,” katanya, disambut tepuk tangan panjang peserta Musancab.
Kode Periode Terakhir
Dalam arahannya, Rachmat Hidayat juga menyampaikan pernyataan penting yang menjadi kode bahwa dirinya mungkin akan menjalani periode terakhir sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan NTB. Ia menegaskan akan memanfaatkan sisa masa kepemimpinannya untuk turun langsung ke lapangan, menyambangi masyarakat di setiap kecamatan di Lombok Timur dan juga di Pulau Lombok.
“Ini periode terakhir saya. Saya akan keliling kecamatan di seluruh Lombok Timur dan juga Pulau Lombok. Saya ingin memastikan PAC dan ranting hidup, bergerak, dan benar-benar bersama rakyat,” tegasnya.
Rachmat belum lama dikukuhkan kembali memangku amanah sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan NTB. Politisi lintas zaman ini akan mengakhiri periode lima tahun kepemimpinan pada 2030. Ia tercatat tanpa jeda berkhidmat memimpin PDI Perjuangan NTB semenjak tahun 2000 silam.
Menjaga Regenerasi dan Nilai Ideologis
Menurut Rachmat, hal tersebut menjadi sinyal kuat bahwa regenerasi di tubuh partai berjalan dan harus terus diperkuat. Ia menekankan bahwa kader muda tidak cukup hanya hadir secara jumlah, tetapi harus ditempa melalui kerja nyata di PAC dan ranting, dengan satu prinsip utama yakni menempel di rakyat, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat.
Langkah Rachmat yang menghadirkan pejuang senior juga menjadi upaya mengikat memori kolektif partai, agar kader muda tidak tercerabut dari nilai ideologis dan sejarah perjuangan. Sebab, tanpa fondasi ini, regenerasi berisiko menjadi sekadar pergantian usia, bukan kesinambungan nilai.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











