"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Logat Ngapak Jadi Petunjuk Polisi Buru Perampok Lansia di Kebasen

Perampokan di Banyumas: Lansia dan Keluarga Jadi Korban

Peristiwa perampokan yang dilakukan dengan kekerasan kembali terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dalam dua kejadian berbeda, lansia dan keluarga menjadi korban aksi para pelaku yang diduga menggunakan kekerasan dan ancaman untuk mengambil harta benda.

Aksi Perampokan di Desa Karangsari

Pada Minggu (15/2/2026) dini hari, sebuah rumah di Desa Karangsari, Kecamatan Kebasen, diserang oleh dua orang pelaku. Korban utama adalah seorang lansia bernama Parsiti (70 tahun). Pelaku masuk melalui jendela depan rumah dan langsung menyerang korban setelah ia terbangun karena mendengar suara mencurigakan.

Pelaku memukuli korban dan mengikatnya menggunakan lakban. Anak korban, Parno (44 tahun), juga menjadi sasaran kekerasan. Keduanya dipukul dan diikat hingga tidak bisa bergerak. Setelah itu, pelaku menggeledah seluruh ruangan dan membawa kabur uang tunai, ATM, serta emas seberat sekitar 95-100 gram.

Kejadian ini terjadi saat desa sedang diguyur hujan deras, sehingga kondisi sepi dan tidak ada tetangga yang mengetahui aksi tersebut. Pelaku kemudian melarikan diri melalui jendela yang sama. Korban dan anaknya berhasil melepaskan ikatan sekitar pukul 00.45 WIB dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.

Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus Silalahi, menjelaskan bahwa dua pelaku tidak dikenal telah masuk ke dalam rumah saat korban beristirahat. Mereka mengancam korban dengan senjata tajam jenis celurit dan melakukan penganiayaan. Setelah kejadian, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan saksi.

Polresta Banyumas juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat sistem keamanan lingkungan dan memperketat patroli di jam rawan.

Perampokan di Sumbang

Di wilayah lain, yaitu di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, seorang ibu bernama Nurgiyanti (39 tahun) dan keluarganya menjadi korban perampokan pada Senin (9/2/2026) dini hari. Kejadian terjadi sekitar pukul 01.30 – 02.00 WIB, saat seluruh penghuni rumah sedang tertidur.

Dua pelaku masuk ke kamar Nurgiyanti dan mengikatnya. Mereka kemudian membawanya ke luar kamar dan menemukan suaminya sudah dalam posisi terikat. Salah satu pelaku menindih anak Nurgiyanti di atas tempat tidur sambil membekap wajahnya dengan bantal. Nurgiyanti memohon agar pelaku berhenti, namun mereka memintanya diam.

Para pelaku membawa sejumlah barang berharga seperti uang tunai, perhiasan, ponsel, dan perangkat elektronik. Mereka juga membawa senjata tajam seperti kapak, arit, pisau, dan linggis. Nurgiyanti menyebutkan bahwa pelaku terdiri dari empat orang, dua di antaranya bertubuh tinggi besar dan dua lainnya lebih pendek. Mereka mengenakan masker dan sempat mengancam korban akan menembak jika melawan.

Berdasarkan temuan di lokasi, pelaku diduga masuk melalui jendela kamar anak pertama yang memiliki bekas congkelan. Setelah menyelesaikan aksinya, pelaku meninggalkan rumah dengan pintu depan sedikit terbuka. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan mencari keberadaan pelaku.

Dampak Psikologis pada Korban

Baik korban di Desa Karangsari maupun Sumbang mengalami trauma akibat kejadian tersebut. Nurgiyanti mengaku masih merasa takut dan tidak kuat membayangkan kembali peristiwa yang terjadi. Sementara itu, korban di Desa Karangsari juga sedang dalam proses pemulihan dan masih dalam kondisi traumatis.

Polresta Banyumas terus mempercepat proses penyelidikan dan berkoordinasi dengan pihak desa serta masyarakat untuk memastikan keamanan lingkungan tetap terjaga. Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan aktif dalam sistem keamanan lingkungan.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *