Kehidupan Mbah Sukirno di Kuburan
Mbah Sukirno, seorang lansia berusia 80 tahun, menjadikan jasa membacakan doa di kuburan sebagai pekerjaan utamanya. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di dekat makam-makam untuk menunggu seseorang memanggilnya agar membacakan doa bagi keluarga yang sedang berziarah. Gubuk sederhana di sudut Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, Cilincing, Jakarta Utara menjadi tempatnya menunggu.
Sukirno bangun setiap pagi pukul 06.00 WIB dan berjalan kaki dari rumahnya yang tidak jauh dari area pemakaman. Ia menawarkan jasa membacakan doa kepada keluarga yang datang berziarah. “Saya warga asli sini. Sudah sekitar tiga tahun menawarkan jasa di sekitar makam. Ini adalah kerja utama saya,” ujar Sukirno saat ditemui beberapa waktu lalu.
Di usia senjanya, Sukirno tetap aktif dan bekerja demi kebutuhan hidup. Baginya, hari-hari di penghujung usianya diisi dengan menunggu seseorang memanggilnya untuk membacakan doa di atas pusara. Ia biasanya standby dari jam 06.00 hingga jam 17.00 sore, terus menunggu panggilan. Jika tidak ada yang memanggil, ia hanya duduk di gubuk kecil itu, memandangi makam-makam yang sunyi.
Jasa Baca Doa di Kuburan
Jasa pembaca doa di kuburan merupakan fenomena sosial-keagamaan yang umum dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, terutama di lingkungan masyarakat Muslim yang masih menganut kebudayaan secara kuat. Praktik ini muncul karena adanya kebutuhan peziarah—baik keluarga almarhum maupun orang lain—yang ingin membacakan doa, tahlil, atau ayat-ayat Al-Qur’an untuk orang yang telah meninggal.
Beberapa orang merasa kurang lancar membaca doa atau tidak hafal bacaan tertentu, sehingga memilih untuk menggunakan jasa pembaca doa. Pembaca doa biasanya adalah warga sekitar pemakaman, juru kunci makam, marbot, atau tokoh lokal yang secara turun-temurun menjalankan peran tersebut dan dikenal oleh masyarakat sekitar.
Praktik ini juga berkaitan erat dengan aspek ekonomi informal. Jasa pembaca doa biasanya tidak memiliki tarif resmi, melainkan bersifat sukarela atau seikhlasnya. Namun, dalam praktiknya sering berkembang menjadi “patokan tidak tertulis” tergantung daerah dan jenis doa yang dibacakan.
Tarif dan Penghasilan
Dalam satu kali membacakan doa, Sukirno biasanya menghabiskan waktu sekitar lima menit. Jika keluarga meminta doa lebih panjang, waktunya bisa mencapai 10 menit. “Biasanya untuk jasa doa ini peziarah paling minim kasih Rp 25.000. Paling besar, yaitu Rp 50.000,” ujar Sukirno.
Uang itulah yang menjadi sumber penghidupan utamanya. Ia rela menunggu di gubuk kecil milik anaknya yang ada di tepi makam TPU Semper daripada hanya berdiam diri di rumah tanpa penghasilan. “Ya habis kalau cari makannya susah. Kalau enggak kerja, bagaimana bisa buat makan. Kalau di sini kan kadang-kadang bisa buat makan, satu hari dapat 1 liter atau 2 liter beras,” ujarnya.
Tetap Bekerja Meski Usia Senja
Kalimat itu ia ucapkan tanpa keluhan berlebihan, seolah menerima kenyataan bahwa di usia 80 tahun, ia masih harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak sekitar tiga tahun terakhir, Sukirno menjadikan jasa doa sebagai pekerjaan utama. Tenaganya tak lagi cukup untuk pekerjaan fisik yang berat. Pilihan yang tersisa adalah memanfaatkan kemampuan yang ia miliki dengan memimpin doa bagi mereka yang datang berziarah.
Di antara pusara dan doa-doa yang terucap, ia menggantungkan harapan agar hari itu ada rezeki yang cukup untuk membeli makan. Tak ada jaminan pendapatan tetap serta kepastian panggilan. Yang ada hanyalah kesabaran menunggu.
Harapan dan Keberlanjutan
Sukirno mungkin tak lagi kuat mengangkat beban berat. Namun setiap hari, ia tetap memanggul beban hidup yang tak ringan dengan berjalan kaki menuju pemakaman, duduk berjam-jam menanti, dan berharap namanya dipanggil. Ia menjalani kehidupan dengan semangat dan ketabahan, meskipun segala sesuatu tidak selalu mudah.
Pengalaman dan kisah hidupnya menjadi cerminan dari keteguhan dan kekuatan jiwa seorang lansia yang tetap berjuang demi keluarga dan kehidupan. Di tengah keterbatasan fisik, ia tetap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











