Fenomena Love Scamming yang Masih Marak di Indonesia
Love scamming atau penipuan berkedok cinta palsu masih menjadi isu yang sering muncul di tengah masyarakat Indonesia. Penipuan ini tidak hanya merugikan korban secara finansial, tetapi juga mengganggu kesehatan mental dan emosional mereka. Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Arthur Josias Simon Runturambi, menjelaskan bahwa modus penipuan ini banyak menyerang perempuan, terutama dari kalangan yang berpendidikan dan mapan secara ekonomi.
Menurut Josias, pelaku love scamming menggunakan pendekatan interpersonal yang terencana untuk memanfaatkan kelemahan emosional korban. “Ini adalah penipuan dengan tawaran kencan, jodoh, atau teman. Yang tertarik biasanya perempuan, dan dilakukan secara online,” ujarnya saat dihubungi.
Strategi Pelaku dalam Memprofiling Korban
Josias menekankan bahwa pelaku memiliki kemampuan tinggi dalam memprofiling korban. Mereka mengenali kebutuhan emosional maupun psikologis calon korban dan memanfaatkannya untuk membangun kepercayaan. “Kemampuan pelaku memprofiling dan membujuk korban serta memahami kebutuhannya menjadi andalan utama,” jelasnya.
Sayangnya, penegakan hukum terhadap kasus-kasus seperti ini masih lemah. Banyak korban enggan melapor karena merasa hubungan tersebut bersifat pribadi, bukan tindak pidana. “Penegakan hukum masih lemah karena banyak menyangkut perasaan dan bukti-bukti hubungan yang dianggap pribadi daripada hubungan hukum,” ujarnya.
Kasus Nyata yang Menimpa Seorang Wanita
Salah satu korban love scamming adalah RG (31), seorang karyawati swasta di Jakarta. Ia kehilangan dana hingga Rp 165 juta karena terperdaya oleh seorang pria yang baru dikenalnya kurang dari sebulan. Pria itu mengaku sebagai teknisi yang sedang mengelola situs judi online di Makau.
RG diminta tiga kali mentransfer uang kepada pria tersebut. Ia telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian, namun sampai saat ini belum ada progres yang signifikan. “Sudah dimintai keterangan. Tapi setelahnya tetap aja enggak ada kabar lagi sampai sekarang,” kata RG.
Korban Lebih Memilih Diam Daripada Melaporkan
Pendiri Komunitas Safe Dating Apps, Helinsa Kaban, mengungkap bahwa banyak korban memilih diam ketimbang melaporkan kasus ini. “Banyak korban kurang nyaman untuk melaporkan kasusnya karena kesan yang terbangun bahwa mereka itu bodoh sekali kenapa bisa sampai tertipu,” ujarnya.
Pola Umum dalam Love Scamming
Helinsa menjelaskan bahwa pola love scamming biasanya dimulai dari interaksi di aplikasi kencan daring. Pelaku menargetkan korban berusia 25–40 tahun yang dinilai sudah mapan secara finansial. Korban umumnya mengalami kesepian, tekanan sosial karena usia, atau harapan untuk segera menikah.
“Korban sering merasa akhirnya ada yang perhatian, memahami mereka, padahal itu manipulasi emosional,” jelas Helinsa.
Setelah itu, pelaku membangun kedekatan dan biasanya melalui obrolan malam hari di atas jam 10. “Setelah bonding terbentuk, barulah modus dijalankan,” ujar Helinsa.
Waktu yang Menentukan Keberhasilan Penipuan
Helinsa menambahkan bahwa biasanya pelaku menargetkan waktu dua pekan sampai satu bulan untuk memastikan korban termakan cinta palsunya. “Jadi kalau dari awal si scammer sudah merasa bahwa ini orang tidak bisa dimanipulasi, mereka akan unmatch atau mereka akan ghosting orang itu secepatnya dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Ini pola yang biasanya terjadi,” ujarnya.
Tips untuk Mencegah Penipuan
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dalam berinteraksi di dunia maya. Jika menemukan tanda-tanda manipulasi emosional atau permintaan uang dari kenalan baru secara online, segera laporkan ke pihak berwenang. Dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat dapat mencegah diri dari tindakan penipuan yang merugikan.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











