Peran Agus Purwono dalam Pengadaan Kapal VLCC
Dalam sidang perkara dugaan korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Saksi Hastin Ratnaningsih memberikan keterangan mengenai peran terdakwa Agus Purwono, mantan Vice President Feedstock PT Kilang Pertamina Internasional, dalam pengadaan kapal tanker minyak mentah raksasa atau very large crude carrier (VLCC). Sidang berlangsung pada Kamis, 19 Februari 2026.
Di kursi terdakwa, Arief Sukmara selaku Direktur Gas Petrochemical dan New Business Pertamina International Shipping, serta Indra Putra selaku Business Development Manager PT Mahameru Kencana Abadi. Jaksa penuntut umum menanyakan sumber pengadaan kapal VLCC tersebut.
Hastin menjelaskan bahwa ia pertama kali dihubungi oleh Agus Purwono dari KPI. Saat itu, Agus menjabat sebagai Vice President Feedstock PT Kilang Pertamina Internasional. Sementara itu, Hastin bertugas sebagai VP Commercial and Operation PISPL, anak perusahaan Pertamina International Shipping.
Agus meminta agar dicarikan kapal VLCC yang dibutuhkan PT KPI. Namun, harga yang disampaikan oleh PT PIS atau PISPL dinilai terlalu mahal. “Detail kargonya belum diinfokan ke saya, hanya bilang ‘kalau bisa follow up VLCC sehingga lebih kompetitif karena harga Suezmax terlalu tinggi’,” ujar Hastin.
Jaksa kemudian menunjukkan chat antara Hastin dengan Agus Purwono. Dalam pesan tersebut, Agus menyebutkan, “Tin, wis tak email lho.” Hastin membenarkan pesan tersebut, namun menegaskan bahwa email itu tidak ditujukan untuknya. “Yang dimaksud Pak Agus adalah email dari KPI ke Marketing (PIS),” kata Hastin.
Pada saat yang hampir bersamaan, Hastin menerima email dari Sahara yang memperkenalkan diri sebagai Mitra Pertamina. “Aku wis email-an dan telponan sama Sahara,” jaksa membacakan pesan tersebut. Hastin menjelaskan bahwa ada surat elektronik dari Sahara Energy International Pte. Ltd., yang mengatakan memiliki kapal yang bisa digunakan untuk co-load (muatan bersama).
“Kemudian saya menanggapi dengan meminta nama kapal, kapan tiba di load impor, dan saya juga meminta dokumen-dokumen kapal,” lanjut saksi tersebut.
Jaksa kembali bertanya tentang pertanyaan Hastin, “tapi kok offering dari mereka belum ada?” Hastin menjawab bahwa ia telah meminta penawaran dan dokumen-dokumen kapal kepada Sahara Energy International Pte. Ltd. lewat surat elektronik. “Tapi mereka tidak memberi penawaran, sehingga saya sampaikan ke Pak Agus belum ada penawaran dari mereka.”
Jaksa kemudian menyoroti bahwa Sahara belum mengirimkan subs recap, dan Agus memastikan bahwa perusahaan akan memasukkan penawaran. “Saudara tidak bertanya, bagaimana Pak Agus bisa memastikan Sahara akan memasukkan penawaran secepat itu? Dia kan bukan user, tidak berkomunikasi,” tanya jaksa.
Hastin menjelaskan bahwa percakapan tersebut terjadi jauh sebelum subs recap. “Hanya baru penawaran. Saya menyampaikan sepertinya belum ada kapal, dan Pak Agus tadi menjawab akan segera menawar.”
Jaksa terus mengecam, “Saudara tidak bertanya, kenapa Pak Agus bisa tahu Sahara akan memasukkan penawaran secepatnya? Apakah Pak Agus Purwono sudah ada komunikasi dengan pihak Sahara atau dengan broker lainnya?”
Hastin mengatakan bahwa ia tidak mengonfirmasi hal tersebut. “Saya berpikirnya mungkin Pak Agus mendapatkan informasi dari supplier crude-nya atau seperti apa.”
Dakwaan Terhadap Agus Purwono
Dalam surat dakwaan, Agus Purwono didakwa berperan mengkondisikan penunjukan langsung kapal VLCC milik Sahara Energy International Pte. Ltd. untuk pengangkutan minyak mentah Escravos pada akhir 2022. Ia diduga menghindari lelang terbuka. Bersama pihak internal Pertamina dan pihak swasta (Indra Putra dan Dimas Werhaspati), ia mengatur agar PISPL menunjuk langsung kapal Olympic Luna.
Selain itu, Agus diduga berkomunikasi secara intens dengan Indra Putra mengenai ketersediaan kapal untuk pengangkutan secara co-load. Komunikasi itu, menurut jaksa, terjadi sebelum proses resmi dimulai.
Dia juga dituding memanipulasi harga sewa. Ia menyetujui harga sewa sebesar US$ 5 juta. Padahal nilai dalam harga perkiraan sendiri (HPS) PISPL untuk co-load seharusnya hanya US$ 3.765.712.
Selain itu, Agus Purwono dituding terlibat mengatur margin keuntungan sebesar 12-15 persen untuk PIS atau PISPL. Ia juga diduga menyepakati fee sebesar 2-3 persen untuk pihak perantara.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











