Perbaikan Kualitas Pekerjaan di Kalimantan Timur
Di tengah kenaikan angka pengangguran yang relatif kecil, Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas pekerjaan. Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) November 2025 tercatat sebesar 5,20% atau naik 0,02% poin dibandingkan Agustus 2025, ada indikasi perbaikan dalam struktur dan kualitas pekerjaan.
Kepala BPS Provinsi Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai, menyatakan bahwa proporsi pekerja penuh waktu meningkat 5,53% poin menjadi 79,85% pada November 2025. Sebanyak 1,57 juta orang kini bekerja dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Peningkatan ini diiringi penurunan drastis pekerja paruh waktu sebesar 4,20% poin menjadi hanya 15,82%.
“Di Provinsi Kalimantan Timur, sebagian besar tenaga kerja bekerja sebagai pekerja penuh atau full employment, yaitu jam kerja minimal 35 jam per minggu,” ujar Mas’ud Rifai dalam keterangan resmi.
Tren Formalisasi Pekerjaan yang Menguat
Tren formalisasi pekerjaan terus menguat. Pekerja sektor formal naik 1,16% poin menjadi 57,94% (1,14 juta orang), melampaui pekerja informal yang turun ke 42,06% (829.171 orang). Status pekerjaan buruh/karyawan/pegawai mendominasi dengan proporsi 54,06%, meningkat 1,22% poin dari periode sebelumnya.
Sementara itu, pekerja informal seperti berusaha sendiri turun 1,14% poin, dan pekerja keluarga/tidak dibayar menyusut 1,22% poin. Dalam konteks kualitas pekerjaan, penurunan setengah penganggur menjadi indikator krusial. Proporsi setengah penganggur, atau yang dikenal sebagai mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu namun masih mencari pekerjaan tambahan, turun 1,33% poin menjadi hanya 4,33% (85.401 orang).
Pekerja paruh waktu atau mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu tetapi tidak mencari pekerjaan lain juga turun drastis 4,20% poin menjadi 15,82% (311.806 orang). Penurunan ini lebih tajam pada laki-laki (4,78% poin) dibanding perempuan (2,84% poin).
Perubahan Struktur Sektor Penyerap Tenaga Kerja
Transformasi kualitas pekerjaan juga terlihat dari pergeseran sektor penyerap tenaga kerja. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami peningkatan penyerapan pekerja terbesar, naik 1,87% poin menjadi 10,20% (201.082 orang). Sektor ini umumnya menawarkan pekerjaan formal dengan jam kerja teratur.
Sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib juga naik 1,01% poin, sementara sektor pendidikan meningkat 1,04% poin. Kedua sektor ini dikenal sebagai penyedia pekerjaan formal dengan jaminan sosial yang baik.
Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang identik dengan pekerjaan informal mengalami penurunan paling tajam, turun 2,47% poin menjadi 15,45% (304.686 orang).
Tantangan yang Tetap Ada
Meski ada peningkatan kualitas pekerjaan, tantangan tetap ada. TPT naik tipis 0,02% poin menjadi 5,20%, dengan disparitas gender yang semakin tinggi. TPT perempuan melonjak 2,17% poin menjadi 7,30%, sementara TPT laki-laki turun 1,16% poin menjadi 4,05%.
Lulusan SMK masih menjadi kelompok paling rentan dengan TPT tertinggi di angka 9,51%, atau naik 1,79% poin. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun 0,50% poin menjadi 66,08%, dengan TPAK laki-laki 82,49% dan perempuan 48,40%. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masih banyak perempuan usia kerja yang belum aktif secara ekonomi.
Komposisi Pendidikan Pekerja yang Semakin Tinggi
Perbaikan kualitas pekerjaan juga tercermin dari komposisi pendidikan pekerja yang semakin tinggi. Pekerja tamatan universitas meningkat 0,74% poin menjadi 15,65%, menggeser posisi tamatan SMK yang turun 2,05% poin menjadi 15,20%. Pekerja tamatan SMA naik 3% menjadi 30,57%, sementara pekerja berpendidikan SD ke bawah turun 0,78% poin menjadi 21,43%.
Adapun jumlah penduduk usia kerja Kalimantan Timur mencapai 3,15 juta orang, angkatan kerja tercatat 2,08 juta orang, dan penduduk bekerja mencapai 1,97 juta orang.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











