JAKARTA — Kinerja pendapatan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dipastikan tetap stabil meski pemerintah berencana mengenakan bea keluar untuk produk emas mulai 2026. Hal ini didorong oleh fakta bahwa penjualan emas perusahaan seluruhnya mengalir ke pasar domestik.
Pemerintah diketahui akan segera menerapkan pungutan bea keluar untuk ekspor empat jenis produk emas, yang direncanakan akan berlaku pada 2026. Tarifnya diperkirakan berkisar antara 7,5% hingga 15%, dan diharapkan bisa memberikan kontribusi terhadap kas negara pada awal tahun depan.
Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa regulasi pengenaan bea keluar emas telah dimasukkan dalam rancangan Peraturan Menteri Keuangan (RPMK) yang saat ini sedang dalam tahap akhir. Produk emas yang akan dikenai tarif ekspor berasal dari usulan Kementerian ESDM.
Presiden Direktur BRMS, Agoes Projosasmito, menjelaskan bahwa seluruh pendapatan BRMS saat ini berasal dari penjualan emas dan perak ke pasar domestik melalui anak usaha perusahaan, PT Citra Palu Minerals (CPM).
“Rencana pemberlakuan pajak atas ekspor emas oleh pemerintah tidak akan berdampak terhadap kinerja pendapatan BRMS,” ujar Agoes dalam keterangan resmi perusahaan pada Senin (17/11/2025).
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi hingga 30 September 2025, sebanyak 100% penjualan emas dan perak CPM terserap oleh pembeli dalam negeri. Untuk produk emas, pembeli domestik perseroan mencakup PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), PT Simba Jaya Utama, PT Swarnim Murni Mulia, PT Pegadaian Galeri Dua Empat, dan PT Elang Mulia Abadi Sempurna.
Sementara itu, penjualan perak juga mengalir ke Hartadinata Abadi, PT Garuda Internasional Multitrade, PT Simba Jaya Utama, PT Swarnim Murni Mulia, serta PT Elang Mulia Abadi Sempurna.
CPM saat ini mengoperasikan tambang emas dan perak di Blok 1 (Poboya), Palu, Sulawesi Tengah. Perusahaan juga menjalankan dua fasilitas pemrosesan Carbon in Leach (CIL) di lokasi yang sama. Adapun produk akhir yang dipasarkan kepada pembeli adalah emas dan perak murni, bukan dore bullion.
“Dalam menjual emas dan peraknya, BRMS dan anak usahanya akan selalu berusaha untuk mengoptimalkan laba perusahaan dan menambah nilai bagi para pemegang saham BRMS,” pungkas Agoes.
Dalam perkembangan lain, BRMS juga berencana menarik fasilitas pinjaman sindikasi dari perbankan asing dan lokal senilai US$600 juta. Dana tersebut bertujuan mendukung rencana ekspansi perusahaan.
Dia menjelaskan sekitar setengah dari dana pinjaman bakal dialokasikan untuk proyek tambang emas bawah tanah atau underground mining di Palu. Sisa dana tersebut akan digunakan untuk kegiatan eksplorasi dan pembangunan fasilitas pabrik di Gorontalo Minerals, serta pabrik di Linge Mineral Resources selaku pengelola tambang emas dan perak.
“Kalau bisa akhir bulan ini [pinjaman] saya akan drawdown supaya cepat dapat uang, pabriknya cepat selesai, underground mining selesai dan saya bisa produksi cepat,” ucap Agoes saat ditemui di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Prospek Kinerja Bumi Resources (BRMS)
Terkait keuangan, kinerja BRMS diperkirakan tetap solid hingga akhir 2025 karena didorong oleh kenaikan harga emas dan peningkatan volume produksi.
Hingga kuartal III/2025, BRMS membukukan kenaikan pendapatan sebesar 69% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$183,57 juta. Seturut kenaikan itu, laba bersih ikut terkerek 129% YoY menjadi US$37,61 juta.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menuturkan bahwa kinerja perseroan juga didukung realisasi harga jual (ASP) yang naik 39% YoY menjadi US$3.468 per troy ounce. Sementara itu, produksi emas BRMS diperkirakan mencapai 68.000 – 71.000 ribu troy ounce sepanjang tahun ini.
“Kombinasi harga tinggi dan efisiensi tambang di area pit bawah mendukung pertumbuhan laba meski biaya stripping masih tinggi,” ucapnya.
Memasuki 2026, prospek perseroan juga dinilai tetap kuat seiring rampungnya proyek pushback pada kuartal pertama tahun depan dan perluasan fasilitas CIL.
Menurut Armand, kedua faktor itu akan meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi pengolahan. Namun, kenaikan biaya operasional selama konstruksi serta volatilitas harga emas bisa menjadi penekan margin dalam jangka pendek.
Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap dan Fadhlan Banny juga menilai perluasan fasilitas CIL berpotensi mendorong pendapatan.
Untuk memanfaatkan kadar bijih yang lebih tinggi dari proyek penambangan bawah tanahnya, BRMS berencana untuk memperluas kapasitas pabrik Carbon-in-Leach (CIL) pertamanya dari 500 ton/hari menjadi 2.000 ton/hari.
“Ekspansi CIL diharapkan mulai berkontribusi pada kuartal IV/2025 atau awal 2027, mendukung fase pertumbuhan perusahaan berikutnya,” tutur keduanya.
Sementara itu, proyek penambangan bawah tanah tetap sesuai jadwal, dengan target produksi pada kuartal IV/2027. Kadar emas diperkirakan melebihi 4 gram emas per ton material, sehingga berpotensi mengerek profitabilitas.
Samuel Sekuritas mengulangi rekomendasi beli BRMS dengan target saham mencapai Rp1.300 per saham. Menurut Juan dan Fadhlan, saham perusahaan menawarkan valuasi yang menarik dibandingkan dengan emiten sejenis.
Kendati demikian, risiko utama BRMS tetap ada, termasuk harga emas yang lebih rendah dari perkiraan dan potensi penundaan pelaksanaan proyek.
BRI Danareksa juga menyematkan rekomendasi beli untuk BRMS dengan target harga yang lebih rendah yakni Rp1.080 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 16% dari harga saat ini yakni Rp930 per saham.
Peningkatan kinerja dan proyeksi ekspansi kapasitas akan menjadi faktor utama pendorong valuasi, sehingga prospek jangka menengah BRMS dinilai menarik.
“Dengan posisi kas dan pendanaan yang solid, BRMS berpeluang menjadi salah satu emiten emas dengan pertumbuhan laba tercepat di sektor tambang domestik,” ucap Armand.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BRMS kini berada di level Rp930 per saham. Harga tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 168,79% sejak awal tahun (year to date) dan menguat 113,30% selama tiga bulan terakhir.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











