"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Viral Kerusakan Kebun Teh, Dedi Mulyadi Minta Pelaku Segera Ditahan

Perusakan Kebun Teh di Pangalengan Viral di Media Sosial

Perusakan kebun teh di Pangalengan, Kabupaten Bandung, kini menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Dedi Mulyadi, tokoh masyarakat yang terkenal dengan pendiriannya, akhirnya angkat bicara mengenai kasus ini. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar kejadian biasa, melainkan masalah sistemik yang memerlukan penanganan serius.

Dalam video yang beredar, para petani kebun teh tampak menyampaikan keluhan mereka. Mereka merasa kesal karena tanaman teh yang menjadi sumber penghidupan mereka selama bertahun-tahun tiba-tiba dirusak. Salah seorang petani mengatakan, “Kumaha ieu teh hayoh wae diragajian (bagaimana ini terus saja digergaji), ari ieu rek darahar ti mana atuh (ini mau pada makan dari mana).” Kalimat itu mencerminkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan yang mendalam dari para petani.

Petani juga menunjukkan batang-batang teh yang telah dicabut dari tanah. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi secara acak, tetapi memiliki pola yang sama dan berulang. Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa perusakan tersebut dilakukan oleh pihak tertentu yang diduga memiliki motif ekonomi. Menurutnya, ada orang yang membiayai aksi tersebut agar lahan kebun teh bisa beralih fungsi menjadi kebun kentang.

“Perusakan tujuannya untuk menanam kentang dan kentangnya nanti dibeli oleh dia,” ujar Dedi Mulyadi. Ia menilai bahwa tindakan ini tidak hanya merugikan para petani, tetapi juga merusak lingkungan. Menurutnya, ada peraturan gubernur yang melarang alih fungsi lahan dari perkebunan teh ke komoditi lain yang berpotensi merusak lingkungan.

Dedi Mulyadi juga meminta Polda Jabar untuk segera menindaklanjuti kasus ini. Ia berharap pelaku segera ditahan agar tidak terulang kembali. Selain itu, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Bandung untuk turun langsung ke lokasi guna mencegah perubahan fungsi kebun teh menjadi lahan sayur-mayur.

Penyelidikan Polresta Bandung

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Bandung kini melakukan penyelidikan terkait dugaan perusakan tanaman teh di kawasan kebun milik PTPN I Regional II Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kasatreskrim Polresta Bandung, Kompol Luthfi Olot Gigantara, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan area menunjukkan tindakan perusakan telah berlangsung sejak awal Oktober 2025.

Menurutnya, ada tiga titik perkebunan teh yang mengalami kerusakan luas. Di Blok Bojong Waru, Desa Margamulya, ditemukan lima hektar tanaman teh telah ditebang dari pangkal batangnya, kemudian dibiarkan mengering. Di Blok Cipicung I, kerusakan mencapai 8,25 hektar, dan di Blok Cipicung II terdapat sekitar 1 hektar tanaman yang mengalami kondisi serupa.

Olot menambahkan bahwa tanaman teh yang sudah dirusak diduga sengaja dibiarkan mengering untuk kemudian akan dibakar. Banyak tumpukan tanaman teh yang telah dipotong ditemukan di lokasi tersebut. Informasi awal dari PTPN VIII menunjukkan bahwa aksi perusakan dilakukan secara diam-diam, bahkan pada waktu dini hari ketika petugas patroli belum berada di area tersebut.

Polresta Bandung kini telah menyiapkan langkah lanjutan, mulai dari pembuatan laporan informasi terkait video viral, hingga agenda pemanggilan pihak PTPN VIII pada 1 Desember 2025 dan pihak Kementerian BUMN pada 3 Desember 2025. “Kami akan melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap pelaku serta motif di balik perusakan ini dan memastikan penegakan hukum berjalan secara profesional dan transparan,” ujarnya.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *