"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

Andanu Prasetyo, Pria di Balik Tumbler Tuku yang Pernah Viral Karena Jokowi

Perjalanan Tumbler Tuku dan Sukses Toko Kopi Tuku

Kasus hilangnya Tumbler Tuku milik Anita Dewi di kereta api sempat menjadi sorotan publik. Kejadian ini memicu perbincangan hangat di kalangan warganet Indonesia, hingga akhirnya berujung pada mediasi damai antara Anita dan petugas PT KAI, Argi.

Tumbler Tuku kini menjadi bahan perbincangan yang tak bisa dipisahkan dari keberadaan Toko Kopi Tuku, yang didirikan oleh Andanu Prasetyo pada tahun 2015. Sejak awal, brand ini telah berkembang pesat dan kini memiliki lebih dari 72 toko di berbagai wilayah Indonesia.

Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang Tumbler Tuku dan Toko Kopi Tuku:

  • Tumbler Tuku adalah produk yang dikelola oleh PT Makna Angan Karya Andanu (MAKA), yang didirikan oleh Andanu Prasetyo.
  • Produk ini dijual dengan harga Rp225.000 dan tersedia dalam berbagai pilihan warna seperti coklat, biru, hijau sage, hitam, beige, dan coklat tua.
  • Tumbler digunakan sebagai wadah minum berulang yang ramah lingkungan, terbuat dari bahan seperti stainless steel, kaca, atau plastik.

Andanu Prasetyo, pendiri Toko Kopi Tuku, sudah lama terjun dalam industri kopi di Tanah Air. Dedikasinya membuatnya masuk dalam daftar 40 Under 40 Fortune Indonesia pada 2024 lalu.

Viral Gara-gara Jokowi

Sebelum Tumbler Tuku viral, Toko Kopi Tuku pernah mendapat perhatian publik ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi salah satu cabangnya di Cipete, Jakarta Selatan, pada 2 Juli 2017. Saat itu, Jokowi bersama istrinya Iriana, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.

Jokowi menyampaikan apresiasinya terhadap usaha yang dijalankan oleh Tyo, sapaan akrab Andanu Prasetyo. Ia memuji penggunaan biji kopi lokal dan komitmen untuk menjaga kualitas produk.

Setelah kunjungan Jokowi, Toko Kopi Tuku semakin dikenal dan ramai dikunjungi orang. Kini, brand ini memiliki jaringan lebih dari 1.040 barista, menjual rata-rata 78.000 cup kopi per hari, serta siap menutup tahun 2025 dengan total 72 toko di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, dan Yogyakarta.

Ekspansi ke Bali dan Amsterdam

Toko Kopi Tuku, yang selama ini dikenal sebagai pemain independen dengan pendekatan komunitas dan lokalitas, kini secara serius menantang dominasi pemain besar seperti Kopi Kenangan dan Fore Coffee. Ekspansi ke luar negeri, pertumbuhan laba signifikan, dan kolaborasi lintas sektor menunjukkan bahwa Tuku bukan lagi sekadar kopi tetangga.

Langkah terbaru mereka, membuka gerai permanen di Amsterdam setelah sebelumnya sukses dengan pop-up store di Seoul, menjadi sinyal kuat bahwa brand yang semula hanya hadir di Cipete kini siap bermain di panggung global.

Andanu Prasetyo mengatakan ekspansi ke Amsterdam bukan sekadar pencapaian, tetapi bentuk pembuktian bahwa cerita dan cita rasa dari Indonesia dapat diterima secara luas.

“Kami datang bukan hanya untuk membuka toko, tapi membawa nilai-nilai yang sejak awal kami jaga,” ujarnya kepada saat acara Satu Dekade Bertetangga di Jakarta, Senin (30/6/2025) malam.

Pertumbuhan yang Menjanjikan

Toko Kopi Tuku mencatat kinerja impresif di usia ke-10. Perusahaan mencatat pertumbuhan laba tahunan mencapai 356 persen, dengan rata-rata pertumbuhan laba bersih (CAGR) sebesar 141 persen dalam tiga tahun terakhir.

Pencapaian ini menegaskan posisi PT Karya Tetangga Tuku sebagai salah satu brand kopi lokal dengan pertumbuhan tercepat dan paling berkelanjutan di Indonesia.

Tidak hanya profit, pendapatan pun melonjak. Laporan keuangan yang diaudit menunjukkan pertumbuhan pendapatan tahunan (year-on-year) sebesar 88 persen, dengan rata-rata pertumbuhan tiga tahun mencapai 49 persen.

Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh ekspansi, tetapi juga oleh kekuatan model bisnis yang memadukan kehangatan komunitas, efisiensi operasional, dan keberlanjutan.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *