"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Opini  

Faktor Nasib Membentuk Seorang Pemimpin?



Oleh Amidi

Kepemimpinan sering kali menjadi topik yang menarik untuk dibahas, terutama karena dinamika yang terjadi di sekitar pemimpin yang sedang berkuasa atau calon-calon yang ingin menggantikan posisi mereka. Ada banyak fenomena yang muncul, seperti pemimpin yang digoyang, calon yang tidak muncul namun terus dipopulerkan, dan juga calon ideal yang tidak bisa tampil karena berbagai alasan. Misalnya, mereka mungkin tidak memiliki dana cukup, kekuatan besar, atau tidak bersedia menggunakan “tangan tak terlihat” (invisible hand) dalam proses politik.

Pemimpin yang bisa muncul biasanya memenuhi beberapa syarat tertentu, meskipun pada awalnya mungkin tidak terpenuhi. Namun, karena adanya dukungan dari kekuatan besar dan “tangan tak terlihat”, pemimpin tersebut akhirnya bisa melenggang dan menjadi calon yang kuat. Di sisi lain, ada juga pemimpin yang dipilih atau ditunjuk, namun secara ideal belum layak memimpin. Karena adanya dukungan dari kekuatan tertentu, unsur “tangan tak terlihat”, serta faktor nasib, mereka tetap bisa menjadi pemimpin.

Fenomena ini bisa ditemukan di berbagai bidang, termasuk dunia pendidikan, usaha, dan institusi lainnya. Di unit usaha yang berorientasi pada profit dan profesionalisme, pimpinan biasanya adalah orang yang tepat untuk posisi tersebut. Mereka diharapkan mampu merealisasikan visi dan misi perusahaan serta mencapai target yang ditetapkan.

Di unit usaha milik keluarga pun, terkadang terjadi perebutan kepemimpinan. Meski begitu, anggota keluarga tetap mengutamakan orang yang profesional, berintegritas, dan kompeten. Jika tidak, maka unit usaha tersebut bisa mengalami penurunan dan bahkan kolaps. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa pengangkatan pemimpin yang tidak profesional dapat menyebabkan keruntuhan bisnis.

Mengapa hal ini terjadi? Terkadang kesalahan terletak pada sistem pemilihan yang tidak efektif, tradisi yang salah, atau pemikiran praktis dari para pemilih. Misalnya, ada yang lebih memilih calon yang memberi sesuatu daripada yang benar-benar layak. Fenomena seperti “siraman” menjelang pemilihan juga sering muncul, di mana calon dengan uang lebih banyak cenderung lebih diunggulkan.

Kita sering lupa bahwa jika salah memilih pemimpin, maka kita akan menanggung konsekuensi selama periode kepemimpinan tersebut. Dengan periode kepemimpinan yang umumnya lima tahun, kesalahan dalam pemilihan bisa menyebabkan kerugian yang besar. Selain itu, jika sistem pemilihan tidak baik, maka kita akan menghadapi masalah yang terus-menerus.

Banyak komponen dalam proses pemilihan yang tidak peduli dengan hasilnya. Bahkan ketika kita tahu bahwa calon pemimpin tidak layak, kita tetap memaksakannya. Kesalahan dan kelemahan calon tersebut sering diabaikan hanya demi kepentingan tertentu.

Seorang pemimpin yang tidak melalui proses ideal cenderung menjadi pemimpin yang tidak adil dan lebih mementingkan kepentingan pribadi. Rakyat yang dipimpinnya sering diabaikan. Banyak kasus di mana pemimpin daerah meningkatkan tarif PBB hingga memicu protes dan aksi demo. Namun, karena kekuatan tertentu, pemimpin tersebut tetap bertahan.

Masih banyak lagi pemimpin daerah, unit usaha, atau lembaga pendidikan yang bertindak tidak profesional, menyebabkan rakyat marah dan melakukan aksi demo. Sayangnya, aksi tersebut sering dianggap sebagai angin lalu dan tidak direspons secara serius.

Dalam teori manajemen, seorang pemimpin ideal harus memiliki kualifikasi tertentu, seperti gelar doktor atau profesor. Namun, dalam kenyataannya, gelar tidak selalu menjamin kecerdasan atau kemampuan. Kadang, calon yang sudah memenuhi syarat tetapi kurang cerdas justru terpilih karena kedekatan dengan pemilih atau keberuntungan. Hal ini juga terjadi dalam institusi bernuansa Islami.

Sebelum proses kepemimpinan terjadi, sering terjadi “kezoliman” dalam pemilihan. Ada kecenderungan kongkalikong dan tidak transparan. Dalam masyarakat, ada ide bahwa seseorang tidak bisa melawan orang yang ber-nasib baik, meskipun dia cerdas. Akibatnya, pemimpin yang ber-nasib baik cenderung tidak peduli dengan rakyat dan lingkungannya.

Ada pula ide yang berkembang bahwa jangan melawan orang yang sedang berkuasa. Jika Anda mengkritik, Anda bisa mengalami konsekuensi buruk, terutama jika Anda masih bekerja di bawah pemimpin tersebut. Orang yang kritis bisa dipecat atau dikucilkan.

Bagaimana sebaiknya? Jika kita ingin perubahan, maka sistem pemilihan harus diubah agar bisa menghasilkan pemimpin yang kompeten dan berintegritas. Negeri ini membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar ikhlas dan mampu membawa perubahan. Tidak sedikit calon ideal yang tersedia, tinggal apakah kita siap mewujudkannya. Seperti kata Ebit G Ade, “tanya saja pada rumput yang bergoyang”.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *