"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Lampu Kuning Ekspor RI: Batu Bara dan Tembaga Menurun



JAKARTA — Kinerja ekspor Indonesia yang mengalami penurunan sejak Agustus 2025 menjadi tanda peringatan. Meskipun secara kumulatif masih menunjukkan pertumbuhan, tren penurunan bulanan dan tekanan tarif dari Amerika Serikat (AS) membuat realisasi ekspor semakin jauh dari target yang ditetapkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2025 turun sebesar 2,31% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$24,24 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan nilai ekspor migas. Ia menyebut bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas ekspor yang mengalami penurunan terbesar.

“Secara tahunan, komoditas ekspor yang mengalami penurunan terbesar adalah bahan bakar mineral atau HS27. Nilainya turun sebesar 19,04%, sedangkan volumenya turun 7,26%,” ujar Pudji dalam rilis BPS, Senin (1/12/2025).

Selain BBM, komoditas biji logam terak dan abu (HS26) juga mengalami penurunan baik secara nilai maupun volume, masing-masing turun sebesar 97,85% dan 50,71%. Sementara itu, tembaga dan barang daripadanya (HS74) mengalami penurunan nilai sebesar 43,72% dan volume sebesar 14,65%.

Secara detail, BPS mencatat bahwa nilai ekspor migas pada Oktober 2025 mencapai US$0,89 miliar, turun 33,60% yoy dari US$1,35 miliar. Sementara itu, nilai ekspor nonmigas juga turun sebesar 0,51% yoy dari US$23,46 miliar pada Oktober 2024 menjadi US$23,34 miliar.

Meski demikian, secara kumulatif dari Januari hingga Oktober 2025, total ekspor tumbuh sebesar 6,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari US$218,82 miliar menjadi US$234,04 miliar. Sebagian besar kontribusi peningkatan ekspor berasal dari industri pengolahan sebesar 11,68%.

Tekanan Harga Komoditas

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan bahwa net ekspor hingga Oktober masih memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun realisasi ekspor masih jauh dari target pemerintah.

“Hingga Oktober, tren net ekspor menunjukkan sinyal positif, walau masih di bawah target. Hal ini tetap akan membantu mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” kata Wijayanto kepada Bisnis, Senin (1/12/2025).

Menurutnya, surplus ekspor sampai Oktober baru sekitar US$24 miliar atau 69% dari target. Situasi ini dipengaruhi oleh tekanan harga komoditas yang terus melemah dan perlambatan ekonomi China. Dengan waktu tersisa dua bulan, ruang kebijakan semakin menyempit. Ia menilai, pemerintah harus menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap kompetitif, memperbaiki manajemen ekspor-impor, serta menekan arus impor ilegal.

“Untuk mengejar target, apalagi di tengah tren pelemahan harga komoditas dan perlambatan ekonomi China, bukanlah hal yang realistis bagi kita,” ujarnya.

Efek Tarif Trump

Di sisi lain, tekanan ekspor semakin berat sejak kebijakan tarif resiprokal AS. Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menyebut tren penurunan ekspor terlihat konsisten, baik secara tahunan maupun bulanan.

“Polanya itu kan setelah bulan Agustus ya, terutama setelah berlakunya tarif resiprokal Donald Trump. Ini kita bisa lihat bahwa ekspornya itu sedikit demi sedikit turun, sejak Agustus, dari September, Oktober,” kata Faisal kepada Bisnis.

Merujuk data BPS, nilai ekspor Indonesia memang turun dari US$24,96 miliar pada Agustus menjadi US$24,67 miliar pada September, dan kembali susut menjadi US$24,24 miliar pada Oktober. Secara tahunan, angkanya merosot 2,31% dibandingkan Oktober 2024 yang pernah mencapai US$24,81 miliar.

Faisal menilai tren ini menunjukkan tekanan struktural, bukan semata fluktuasi jangka pendek. Di saat ekspor melemah, impor justru meningkat karena beban tarif di AS membuat pengiriman produk Indonesia tersendat, sementara Indonesia harus menyerap lebih banyak barang dari Negeri Paman Sam dan limpahan pasokan dari negara lain seperti China.

Sebelum Agustus, lanjut Faisal, ekspor sempat melonjak akibat fenomena frontloading, yakni percepatan pengiriman untuk menghindari tarif baru. Alhasil, ekspor kumulatif Januari—Oktober 2025 masih tumbuh 6,96% dibandingkan periode tahun sebelumnya US$218,82 miliar menjadi US$234,04 miliar.

Namun, Faisal memperingatkan tren melemah bakal berlanjut hingga akhir 2025 dan bahkan dapat berimbas ke sepanjang 2026. Meski demikian, neraca perdagangan masih mencatat surplus US$35,88 miliar hingga Oktober, memperpanjang rekor surplus selama 66 bulan berturut-turut.

Strategi Genjot Ekspor

Kepala Biro Humas Kemendag Ni Made Kusuma Dewi menyampaikan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor 7,1% pada 2025. Dewi menegaskan neraca perdagangan yang sudah surplus selama 66 bulan berturut-turut menjadi modal untuk menjaga optimisme.

“Kementerian Perdagangan optimistis target ekspor akan tercapai, terlebih dengan potensi peningkatan permintaan global menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026,” ujar Dewi kepada Bisnis.

Di samping itu, Kemendag juga terus mendorong penyelesaian perjanjian dagang strategis, hilirisasi produk ekspor, dan perluasan akses pasar termasuk bagi UMKM melalui program UMKM BISA Ekspor yang melibatkan 46 perwakilan dagang di 33 negara.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Erwin Aksa menilai pelaku usaha tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan ekspor Oktober 2025. Dia menyebut, penurunan Oktober ini lebih bersifat bulanan dan teknis, bukan tren pelemahan struktural.

Menurutnya, secara tahunan kinerja ekspor masih solid, dengan total ekspor tumbuh hampir 7% dan ekspor nonmigas melonjak lebih dari 8%.

Biasanya, lanjut dia, pergerakan ekspor di akhir tahun memang bersifat musiman dan sering bergeser ke November–Desember, terutama pada komoditas berbasis kontrak seperti mineral olahan, kimia dasar, dan produk agro tertentu.

“Jadi, dampaknya ke pelaku usaha tidak terlalu signifikan selama tren tahunan masih positif,” tutur Erwin kepada Bisnis.

Adapun, Kadin kini tengah mendorong percepatan realisasi ekspor yang sudah memiliki permintaan, namun terkendala logistik, dokumen, atau pembiayaan. Selain itu, Kadin memperkuat business matching dengan buyer dari Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Selatan, dan Afrika untuk kebutuhan pengiriman akhir tahun.

Lebih lanjut, Erwin melihat terdapat beberapa sektor yang diprediksi menopang ekspor di sisa tahun ini, seperti mineral olahan (nikel, bauksit, baja), kimia dasar, otomotif, makanan-minuman olahan, serta produk agro seperti turunannya kelapa, rempah, dan kopi.

“Ini tentu masih bergantung pada permintaan global dan kesiapan industri kita dalam memenuhi standar kualitas,” pungkasnya.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *