Penangkapan Dewi Astutik, Otak Penyelundupan Narkoba Internasional
Dewi Astutik atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mami, merupakan sosok penting dalam jaringan penyelundupan narkoba internasional. Ia diketahui sebagai otak di balik penyelundupan dua ton sabu-sabu dari jaringan Golden Triangle yang berhasil digagalkan pada Mei 2025. Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai kasus besar lainnya pada tahun 2024 yang terkait dengan jaringan Golden Crescent.
Dewi Astutik alias PA berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Penangkapannya dilakukan oleh Badan Narkoba Nasional (BNN) bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Operasi penangkapan ini dilakukan secara diam-diam dan dipimpin langsung oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan.
Wanita berusia 43 tahun ini ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, saat sedang hendak menuju lobi sebuah hotel. Setelah ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas. Setibanya di Indonesia, ia akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam kejahatan narkoba yang dilakukannya.
Identitas yang Membuat Dugaan
Kepolisian menyebutkan bahwa Dewi Astutik adalah seorang perempuan yang diduga menggunakan identitas palsu dalam dokumen kependudukannya. Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo mengatakan bahwa Dewi tercatat sebagai warga RT 01 RW 01 Dukuh Sumber Agung, Desa Balong, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Namun, identitas yang digunakan dalam KTP diduga milik saudara kandungnya.
“Memang benar dia warga Ponorogo, namun identitas yang digunakan merupakan milik adiknya,” kata AKBP Andin. Menurutnya, Dewi sudah lama tinggal di luar negeri dan diduga menjadi Pekerja Migran Indonesia sejak 2011.
Sebelumnya, Dewi Astutik ditetapkan sebagai buronan atas kasus penyelundupan sabu-sabu seberat dua ton di Kepulauan Riau. Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, mengaku tidak mengenal sosok dengan nama Dewi Astutik meskipun alamat yang tercantum ada di wilayahnya. Pernyataan serupa disampaikan warga setempat, Sri Wahyuni. Ia menyebut foto Dewi yang beredar mirip dengan tetangganya berinisial PA, yang telah lama menikah dan merantau sebagai tenaga kerja wanita.
“Kalau namanya Dewi Astutik saya tidak kenal, tapi wajahnya mirip PA. Ia memang sudah lama jadi TKW dan tahun lalu sempat pulang, lalu berangkat lagi,” kata Sri.
Hubungan dengan Fredy Pratama
Nama Dewi Astutik sempat mencuat pada 2024 lalu setelah BNN membongkar peredaran heroin 2,76 kilogram. Terungkapnya kasus tersebut berawal saat Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta mengamankan seorang pria berinisial ZM pada 24 September 2024. ZM saat itu baru tiba di Terminal 3 Kedatangan Bandara Soekarno-Hatta setelah menumpang pesawat dari Singapura.
Setelah kopernya digeledah, ditemukan narkotika jenis heroin sebanyak 2.760 gram yang disembunyikan di dinding koper. Setelah diperiksa, ZM mengaku bila barang haram tersebut akan diserahkan kepada SS. Berdasarkan pengakuan ZM, tim BNN pun bergerak menangkap SS. Selanjutnya, BNN dari keterangan SS mengetahui pelaku lain berinisial AH.
AH merupakan orang yang memerintahkan ZM dan SS untuk mengambil heroin dari seorang perempuan bernama Dewi Astutik (DA) di Kamboja. Berdasarkan petunjuk tersebut, tim BNN akhirnya menangkap AH di Medan, Sumatera Utara.
Jaringan Narkotika Dewi Astutik
Kepala BNN RI Komjen Marthinus Hukom mengungkap bahwa jaringan narkotika Dewi Astutik berbeda dengan sindikat Fredy Pratama yang saat ini menjadi buruan aparat penegak hukum di Indonesia. “Sindikat heroin ini adalah sindikat yang berbeda dengan Fredy Pratama,” katanya.
Dewi Astutik selama ini diketahui kerap beroperasi di wilayah negara Golden Triangle. Golden Triangle atau segitiga emas merupakan istilah untuk lokasi tiga negara yakni Laos, Myanmar, dan Thailand. Kawasan ini dikenal sebagai Segitiga Emas karena merupakan penghasil utama opium dan heroin di Asia Tenggara.
“Dari hasil analisa jaringan internasional, dia (Dewi Astuti) adalah Warga Negara Indonesia bergabung dengan jaringan Afrika dan sangat mungkin orang-orang yang ditangkap di Adis Ababa (Ethiopia) bagian dari sindikatnya dia,” jelasnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











