"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Kisah Akbar, Mahasiswa yang Jadi Kurir Tiga Lini



SURABAYA,

Pagi yang cerah menyinari kawasan Lidah Wetan Surabaya ketika Akbar Ubaydilah Ferdianto (20) melirik jam di ponselnya. Saat itu, jam menunjukkan sudah pukul 9.00 WIB. Di saat mahasiswa lain baru merencanakan sarapan pagi atau sedang mengajar di tempat magang, Akbar sudah menyalakan aplikasi Shopee Food, pekerjaan keduanya setelah mengantar SPX di kala hari libur. “Mumpung kegiatan magangku sudah selesai dari seminggu yang lalu,” ujar Akbar sambil tersenyum. Helm oranye berlogo Shopee Food yang biasa ia kenakan, menjadi ciri khasnya.

Dengan mengendarai Motor Honda Genio hitam, ia mengunjungi satu kedai ke kedai lain untuk mengambil pesanan. Ia biasanya close order ketika jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Jika sedang libur kuliah, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNESA itu tidak pernah benar-benar libur. Sabtu dan Minggu, ia menjadi kurir Shopee Express (SPX) sejak pagi hingga malam. “Tiga kerjaan,” katanya sambil tersenyum. “Shopee Food, SPX, sama jastip anak-anak asrama. Ya lumayan, ceperannya beda-beda.”

Akbar tinggal di Asrama UNESA yang pintu gerbangnya tutup pukul 22.00 WIB. Tak jarang ia baru bisa menyelesaikan pesanan melewati jam itu. Jika terjebak di luar, ia tidur di mushala kampus, warung kopi, atau kos teman. “Itu sudah biasa banget,” ujarnya sambil mengangkat bahu. Awalnya terpaksa, lama-lama jadi jalan hidup.

Menjadi kurir bukanlah cita-cita Akbar. Pekerjaan itu ia lakukan berawal ketika ia memasuki semester tiga, saat kebutuhan kuliah semakin menekannya. “itu pas kepepet banget. Bayar UKT, nge-print tugas, bensin, makan. Kalau cuma mengandalkan orangtua ya berat.” imbuhnya. Awalnya ia mengira menjadi seorang kurir aplikasi online akan mudah. “Awalnya aku pikir enak, punya uang terus. Ternyata ya enggak semudah itu,” ucapnya sambil tersenyum getir.

Ia juga menceritakan beberapa pengalamannya seperti menerima orderan fiktif, menanggapi pelanggan yang tak ramah, hingga kejar-kejaran dengan satpam. Semua itu pernah ia rasakan di awal-awal menjadi seorang kurir. Tetapi, Akbar tetap optimis, dan lama-lama pekerjaan itu justru memberinya semangat baru seiring berjalannya waktu. “Sedikit-sedikit jadi bukit. Daripada main game di warkop kan,” katanya. Dan dari pekerjaan yang memberikannya banyak pengalaman tersebut, penghasilan bersih Akbar per harinya rata-rata Rp 100.000 atau sekitar Rp 3 juta per bulan. Baginya, dengan gaji tersebut, ia merasa cukup untuk bertahan sebagai mahasiswa rantau di Kota Surabaya.

Pengalaman yang Tak Terlupakan

Di antara ratusan pesanan yang pernah ia antar, ada satu pengalaman yang tidak pernah hilang dari ingatannya. Ia bercerita, suatu hari ia hendak mengantar pesanan Shopee Food yang berisi nasi, ayam goreng, dan segelas minuman. Harganya memang tidak seberapa, tapi ceritanya meninggalkan bekas. Kala itu, lokasi pengantaran tertera di rumah sakit. Akbar menghubungi nomor pelanggan. “Mas, ini kok di rumah sakit? Kamar berapa?” tanyanya kala itu. Balasan yang datang membuat ia diam cukup lama. “Maaf, mas. Makanannya buat masnya saja. Yang pesan sudah enggak ada. Tolong doakan mama saya masuk surga,” katanya. Akbar menghela napas panjang ketika mengenang momen itu. “Saya cuma bisa bilang amin,” ujarnya pelan. “Kadang kita cuma kurir, tapi bisa kena cerita sedalam itu.”

Hubungan dengan Pelanggan

Ketika Akbar ditanya mengenai beberapa pengalaman unik ketika menjadi seorang kurir, ia menjawab dengan banyak sekali cerita, salah satunya adalah cerita mengenai pelanggannya yang bernama Jono. Pria berusia sekitar 30 tahun itu tinggal sendiri di sebuah rumah kawasan Sememi dan memiliki mobil Pajero Sport yang selalu dipajang di garasi rumahnya. Hampir setiap hari, aplikasi Shopee Food Akbar menampilkan nama yang sama: Jono, dengan pesanan yang selalu sama, yakni ayam geprek lengkap dan es teh tiga. “Karena sering banget nerima orderan dia, lama-lama saya kayak jadi temennya sendiri,” tutur Akbar. “Bahkan boleh ngopi di rumahnya, numpang toilet, bahkan dikasih password Wi-Fi juga,” imbuh Akbar sambil tertawa. Menurut Akbar, Jono tampak kesepian. “Saya kadang kasihan, jadi kalau dapat order dia ya mampir sebentar. Ngobrol bentar. Ya manusia kan butuh teman,” ceritanya.

Cerita yang Tidak Mengenakkan

Tak semua cerita di jalanan berbalut haru. Ada juga yang membuat Akbar menggelengkan kepala. Suatu hari ia mendapat order paket makanan untuk perempuan yang bernama Sofi. Namun, saat dihubungi, nomor yang membalas adalah seseorang laki-laki bernama Ardi. “Oh, itu buat pacar saya, Mas. Kemarin saya selingkuh, jadi saya kirimin parcel biar enggak ngambek,” kata Akbar menirukan jawaban pelanggannya. Namun, ketika Akbar tiba di alamat tujuan, Sofi justru menyuruhnya membuang paket itu. “Buang aja, Mas. Dia selingkuh lagi,” kata Sofi datar. Akbar sampai tertawa kecil ketika bercerita tentang hal itu. “Akhirnya ya sudah, saya makan lah makanannya, kan disuruh,” katanya.

Pengalaman Pahit

Tak hanya cerita dengan pengalaman lucu dan unik. Pengalaman pahit juga pernah menghantamnya ketika ia terkena orderan fiktif berupa kue tart impor yang ia ambil dari toko kue dengan brand mahal yang bernilai Rp 500.000. Bagi Akbar, nominal tersebut bukanlah nominal yang kecil, ia mulai frustasi kala itu. Belum selesai di situ saja, pada saat itu juga seseorang menelepon Akbar dan mengaku dari kantor Shopee. Seseorang itu mengatakan bahwa ia sedang diproses karena order fiktif tersebut. “Saya lagi linglung, jadi percaya aja,” ujarnya. Ia memberikan data login akun Shopee Food miliknya, dan tak lama kemudian ia menyadari jika ternyata seluruh saldo di rekening serta e-walletnya sudah terkuras habis. “Total kerugian saat itu lebih dari Rp 3 juta” ujarnya. Untuk menutup kebutuhan harian, ia terpaksa meminjam uang pada dua temannya. Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, akun Shopee Food miliknya juga terkena imbasnya. “Akun saya sempat diblokir seminggu. Itu masa-masa paling berat,” katanya. Sejak kejadian itu, ia tidak lagi berani mengambil orderan di atas Rp 100.000. “Trauma,” ucapnya singkat.

Alasan Bertahan

Ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan meski diterjang risiko, Akbar langsung tertawa. “Uang, lah. Pertama uang. Kedua uang. Ketiga ya uang,” katanya sambil terkekeh. Namun setelah jeda sebentar, ia melanjutkan dengan nada lebih dalam. “Tapi dari bekerja sebagai kurir ini saya belajar jadi manusia. Bukan cuma hidup sebagai mahasiswa yang baca teori saja. Karena ternyata di jalan itu semua nyata,” ungkapnya penuh yakin. Jika kelak lulus, Akbar berharap bisa bekerja sesuai jurusannya. “Ya kalau sesuai prodi iya nantinya jadi guru,” katanya. Baginya bekerja menjadi seorang kurir hanyalah sampingan. Di balik semangatnya untuk mencari rupiah dengan menjadi seorang kurir, ada harapan kecil yang ia titipkan pada perusahaan aplikasi, yakni pajak yang tidak mencekik dan insentif yang lebih manusiawi. “Kalau bisa potongannya jangan 12 persen, karena bagi kami potongan 10.000 pun berasa banget, rasaya,” katanya sebelum beranjak untuk kembali mengambil orderan dan menjemput rezekinya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *