"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Gerakan Ayah Ambil Raport Mulai Muncul di SMA Yogyakarta

Program GEMAR Menunjukkan Dampak Positif di Sekolah

Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) yang digagas oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mulai menunjukkan dampak positif di tingkat sekolah. Salah satu contohnya adalah SMA Negeri 6 Yogyakarta, di mana jumlah ayah yang hadir mengambil rapor siswa meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan Keterlibatan Ibu dalam Pengambilan Rapor

Sekitar 30–40 persen rapor siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta diambil langsung oleh ayah, meski ibu masih mendominasi. Hal ini terjadi setelah adanya edaran nasional dari BKKBN yang meminta para ayah untuk lebih aktif dalam pendidikan anak. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 6 Yogyakarta, Abdul Rahman, menyatakan bahwa kehadiran ayah dalam pengambilan rapor tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau yang sekarang itu, sudah banyak orang tua—khususnya ayah—yang mengambil rapor. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan tahun kemarin. Karena memang ada edaran seperti itu,” ujarnya.

Edaran tersebut merujuk pada Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor, yang secara nasional mengajak para ayah hadir langsung dalam momen penting pendidikan anak, alih-alih hanya diwakili pasangan.

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak

Menurut Abdul Rahman, edaran tersebut diterima sekolah hanya beberapa hari sebelum pengambilan rapor dan bersifat mendadak, namun langsung diteruskan kepada orang tua siswa. Dari total sekitar 800 lebih siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta, Abdul Rahman memperkirakan rapor yang diambil langsung oleh ayah berada pada kisaran 30 hingga 40 persen.

Meski demikian, pihak sekolah menilai keterlibatan ayah dalam momen pengambilan rapor memiliki dampak penting bagi kondisi psikologis dan motivasi belajar siswa. Abdul Rahman menekankan bahwa kehadiran ayah tidak sekadar simbolik, tetapi berpengaruh langsung pada relasi orang tua dan anak.

“Ini sangat penting, karena orang tua—terutama ayah—perlu berkontribusi dalam pendidikan anaknya. Kalau dari sekolah, kami sangat mendukung kegiatan tersebut. Karena secara psikologis, kehadiran ayah pada momen-momen penting siswa, momen-momen penting anak, itu sangat berarti. Dengan ayah hadir dalam pengambilan rapor ini, bisa menambah semangat belajar dan memperkuat kondisi psikologis anak. Menjadi lebih baik, lebih meningkat. Karena biasanya yang mengambil rapor itu ibu,” kata Abdul Rahman.

Fenomena Fatherless dan Upaya Pemerintah

Program GEMAR sendiri dilatarbelakangi oleh kekhawatiran pemerintah terhadap fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak tumbuh tanpa keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan sehari-hari, meski secara fisik ayah masih ada. Berdasarkan laporan Kemendukbangga, angka fatherless di wilayah perkotaan Indonesia mencapai 25,4 persen, sementara di pedesaan sebesar 26,3 persen.

Dari sisi orang tua, keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor dinilai membuka ruang komunikasi yang lebih dekat dengan anak. Fendy Irawan, salah satu orang tua siswa kelas X SMA Negeri 6 Yogyakarta, mengatakan selama ini ia memang terlibat langsung dalam urusan pendidikan anak laki-lakinya, meski tetap menyesuaikan dengan pembagian peran di keluarga.

“Kalau saya, kan punya pembagian tugas. Jadi kalau anak perempuan biasanya diambilkan oleh istri. Kalau anak laki-laki biasanya saya yang mengambil. Anak-anak dibagi begitu. Jadi kami bagi-bagi untuk pengambilan rapor, anak yang mana saya ambil. Tapi kalau anak laki-laki, biasanya memang saya yang mengambil,” ujar Fendy.

Keterlibatan Ayah sebagai Pintu Masuk untuk Kedekatan Emosional

Ia mengakui, keterbatasan waktu kerja sering menjadi kendala bagi ayah untuk hadir langsung ke sekolah. Namun, menurutnya, keterlibatan ayah tetap memungkinkan jika ada kemauan dan pengaturan waktu. “Kalau saya kan pimpinan, jadi waktu saya relatif lebih fleksibel. Jadi ya sudah, istri bisa mengurus yang kecil dan anak perempuan, saya mengurus yang anak laki-laki. Dan itu ya kurang lebih sama seperti sekarang ini,” katanya.

Terkait Gerakan Ayah Mengambil Rapor, Fendy menilai program tersebut relevan untuk mendorong peran ayah yang selama ini cenderung terbatas dalam urusan pendidikan anak. “Kalau saya lihat sih, memang masih banyak ibu-ibu yang mengambil rapor pada umumnya. Tapi sebenarnya ayah juga bisa ikut berperan. Hanya saja memang pada umumnya ayah itu bekerja, jadi mungkin waktunya terbatas, dan itu jadi kendala untuk mengambil rapor anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan ayah dalam momen seperti pengambilan rapor dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan emosional yang selama ini kerap kurang terbangun. “Menurut saya, ini justru lebih bagus, karena kadang-kadang ayah itu jarang ngobrol dengan anak. Nah, dengan kegiatan seperti ini, mungkin anak jadi lebih dekat, dan hubungan keluarga juga bisa menjadi lebih baik,” kata Fendy.

Setelah mengambil rapor, Fendy mengaku selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anaknya terkait hasil belajar dan kendala yang dihadapi di sekolah. “Biasanya saya diskusi dengan anak, karena mungkin ada kendala atau kesulitan dalam pembelajaran. Nah, itu nanti bisa dipikirkan bersama-sama dengan anak, supaya ke depannya hasil belajarnya bisa lebih baik,” ujarnya.

Kemendukbangga berharap Gerakan Ayah Mengambil Rapor tidak berhenti sebagai kampanye sesaat, melainkan menjadi pintu masuk bagi budaya pengasuhan bersama, di mana ayah dan ibu memiliki peran setara dalam mendampingi tumbuh kembang anak, termasuk di ruang-ruang pendidikan formal.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *