"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Opini  

Belajar Bersyukur dari Peringkat #71: Konsistensi, Dukungan, dan Jalan Menulis yang Dipilih Allah

Kesadaran Diri di Balik Pencapaian



Hari ini saya membuka sebuah tautan yang menarik perhatian dan membuat penasaran. Benar saja, selain mendapatkan informasi yang membuat takjub tentang para Kompasianer berprestasi, paling produktif dan deretan artikel terbaik, tautan itu pun ternyata menyimpan banyak kejutan besar di dalamnya. Tautan itu adalah kaleidoskop, yang saya temukan dari artikel yang dibagikan sahabat baik dari Jakarta, Kompasianer Ditta Atmawijaya. Ia membagikannya di grup komunikasi sesama penulis. Dengan rasa penasaran, saya membuka, mengklik, lalu mulai menelusuri rekap pencapaian saya selama menulis di platform ini.

Dan di situlah saya terdiam sejenak. Dari total 5.831.621 Kompasianer, nama saya berada di peringkat #71. Angka itu bukan sekadar deretan digit di layar. Ia terasa seperti penanda perjalanan. Mengejutkan, mencengangkan, sekaligus menimbulkan rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan karena saya merasa hebat, justru sebaliknya—karena saya tahu betul betapa jauhnya saya dari kata sempurna.

Peringkat #71, tentu saja posisi saya masih sangat jauh dari para Kompasianer hebat yang menjadi panutan saya. Mereka yang produktif luar biasa, yang konsisten menulis bertahun-tahun, yang namanya langganan bertengger di 10 besar. Namun, berada di posisi ini, bagi saya, adalah pencapaian yang sangat patut disyukuri. Sebab bagi saya, konsisten menulis setiap hari bukan perkara mudah.

Saya bukan hanya seorang penulis di . Saya juga mengelola ruangpena.id, menerima beberapa pesanan tulisan, dan di saat yang sama tetap menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Ada pekerjaan rumah yang menunggu, ada tanggung jawab yang tak bisa ditunda, ada hari-hari lelah ketika kepala rasanya sudah penuh, merasa tak ada ide, terkena writer block, atau rasa malas yang susah sekali diusir pergi. Tak jarang, saya membiarkan tulisan-tulisan mengendap tanpa diselesaikan karena alasan yang kadang tidak jelas. Namun ada juga hari-hari yang saya lewati dengan 3-4 artikel tanpa jeda yang—tentu saja berebut dengan urusan dapur dan kemoceng.

Di titik-titik seperti itulah saya belajar tentang arti berjuang dalam diam. Bekerja keras tanpa sorak sorai. Mencicil konsistensi sedikit demi sedikit, sambil terus menguatkan niat. Maka ketika peringkat #71 itu muncul di layar, rasanya seperti Allah sedang menepuk pundak saya pelan-pelan, seolah berkata, “Aku melihat usahamu.”

Tentu, sempat terlintas pikiran manusiawi dalam benak saya. Andai saja semua waktu, pikiran, dan energi saya fokus sepenuhnya untuk menulis di , tak perlu menulis di tempat lain, mungkin hasilnya bisa lebih dari ini. Namun saya segera tersenyum sendiri. Ah, tidak boleh berandai-andai berlebihan, bukan?

Apa yang saya capai hari ini adalah versi terbaik dari apa yang bisa saya lakukan dengan segala keterbatasan yang ada. Ini adalah takdir yang Allah susun dengan penuh kasih. Dan yang terpenting, saya merasa sudah jauh lebih baik dibanding diri saya yang dulu.

Di balik pencapaian ini, ada angka-angka lain yang juga membuat saya merenung. Sepanjang tahun 2025, tulisan saya dibaca oleh 70.255 pembaca dan mendapatkan 65 headline. Angka yang bagi saya luar biasa. Namun lebih dari sekadar statistik, saya berharap setiap orang yang membaca—baik yang membaca dengan cermat maupun yang sekadar singgah sebentar—mendapatkan manfaat dari apa yang saya tuliskan. Jika ada satu kalimat saja yang menguatkan, satu paragraf yang menginspirasi, atau satu tulisan yang membuat seseorang merasa tidak sendirian, semoga itu menjadi amal jariyah yang kelak memberatkan timbangan kebaikan.

Di titik ini, rasanya tidak adil jika saya tidak menyebut orang-orang yang berperan besar dalam perjalanan ini. Salah satunya adalah Kak Billy Steven Kaitjily. Sekitar bulan Maret lalu, Kak Billy mengirimkan pesan yang bagi saya sangat berarti. Ia mengajak saya bergabung dengan Jeko Hijau, sebuah komunitas Kompasianer yang peduli pada isu lingkungan dan gaya hidup hijau. Ajakan itu datang beriringan dengan ucapan selamat atas centang biru yang baru saya dapatkan, serta pencapaian 20 artikel utama—setelah akun saya sempat “tertidur” hampir tiga tahun di posisi 18 headline.

Kak Billy juga memberikan satu nasihat yang terus terngiang hingga kini: pentingnya konsisten pada satu tema. “Kalau minat di kategori pendidikan, coba tekuni. Kalaupun mau menulis tema lain, silakan saja, tapi biarkan satu tema itu tetap mendominasi,” katanya waktu itu setelah mendapatkan jawaban bahwa saya memang lama bergelut di bidang pendidikan. Nasihat sederhana, tetapi penuh makna. Apalagi ketika saya melihat bagaimana Kak Billy sendiri membuktikannya. Konsistensinya membawanya meraih dua gelar juara di nominasi Award. Ia tidak hanya memberi saran, tetapi juga menjalankannya.

Saya pun merasa termotivasi, meski jujur saja, sampai hari ini tulisan saya masih tergolong “gado-gado”. Namun menariknya, hasil analisis justru menunjukkan bahwa saya lebih cenderung menulis di kategori life. Rasa takjub saya pada bertambah. Platform ini mampu menganalisis minat, kecenderungan, peringkat, hingga jenis tulisan penulis dengan sangat detail. Dari sana, penulis dibantu untuk menemukan niche-nya sendiri, untuk semakin percaya diri menulis sesuai dengan suara hati.

Menutup refleksi ini, saya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga tahun 2026 menjadi tahun yang lebih baik. Semoga saya bisa lebih produktif, lebih jujur dalam menulis, dan lebih banyak lagi pembaca yang merasakan manfaat dari tulisan-tulisan sederhana saya. Karena pada akhirnya, menulis bukan soal peringkat semata. Ia adalah perjalanan panjang untuk terus belajar, bersyukur, dan setia pada proses—sejauh apa pun langkah kaki mampu melangkah.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *