Kehidupan yang Penuh Tantangan
Di usia 58 tahun, Surohmat menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pekerjaannya beragam, mulai dari menjadi tukang pijat hingga membantu menanam padi di sawah orang lain. Penghasilan yang tidak tetap membuat kebutuhan hidupnya terus menghadapi tantangan.
Di rumah sederhananya, ada satu keinginan lama yang selalu tertunda: mengkhitankan cucunya yang kini berusia 12 tahun dan duduk di bangku kelas VI SD. Biaya sunat bisa mencapai jutaan rupiah, yang membuat keluarga ini harus menabung dan menunggu kesempatan yang tepat.
Sunat Massal sebagai Solusi
Biaya sunat menjadi beban bagi banyak keluarga. Ayah dari cucu Surohmat hanya bekerja sebagai pengemudi ojek online dengan penghasilan yang juga tidak menentu. Mereka memilih untuk menabung dan berharap ada jalan lain.
Kabar tentang sunatan massal datang dari tetangga. Ketika sang cucu mengaku siap, Surohmat datang bersama keluarga dan kerabat, berharap suasana ramai bisa mengurangi rasa takut. “Kalau ramai-ramai, hatinya jadi lebih tenang,” ujarnya.
Banyak Keluarga Terbantu
Tak jauh dari sana, Dedi, pedagang buah di Pasar Bendungan, mengantar anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun. Sehari-hari ia berjualan buah musiman seperti jeruk, mangga, atau rambutan, dengan penghasilan tak menentu. Biaya sunat menjadi beban tersendiri baginya.
“Kalau sunat biasa, bisa satu juta lebih,” ujarnya lirih. Ia mengaku harus menabung berbulan-bulan sambil berharap dagangan ramai. Anaknya yang kini duduk di kelas I SMP akhirnya merasa siap mengikuti sunatan massal tersebut. Meski rasa cemas masih ada, Dedi merasa jauh lebih lega.
Manfaat serupa dirasakan Agus, petani asal Lendah. Dengan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta per bulan, biaya sunat mandiri terasa berat baginya, terlebih ia merupakan orangtua tunggal. “Ini sangat membantu masyarakat. Saya bangga, benar-benar terbantu,” katanya.
Antre Sunat, Antre Harapan
Bagi para orangtua ini, sunatan massal bukan sekadar layanan kesehatan gratis. Kegiatan tersebut menjadi titik lega setelah penantian panjang, sekaligus pengingat bahwa di tengah hidup yang serba pas-pasan, masih ada uluran tangan bagi mereka yang berjuang dalam diam.
Peserta datang dari berbagai desa dan kecamatan. Informasi kegiatan menyebar sederhana, dari selebaran, media sosial, hingga dari mulut ke mulut, namun dampaknya terasa nyata. Mbak Nuri, pedagang tahu bulat, juga merasakan manfaatnya. Ia mengantar anaknya yang duduk di kelas IV SD setelah setahun mengalahkan rasa takut sang anak.
“Kalau ramai-ramai, tidak takut. Anaknya juga senang dapat tas, sarung, dan peci,” ujarnya tersenyum. Ia mengaku kegiatan ini sangat membantu secara ekonomi, karena biaya sunat mandiri bisa menjadi beban besar bagi keluarga kecil.
Lebih dari 100 Anak Ikut Sunatan Massal
Sunatan Massal Tahfidz Sulaimaniyah Yogyakarta 2025 diikuti lebih dari 100 anak dari berbagai wilayah, mulai dari Yogyakarta, Kulon Progo, hingga Banyumas, Jawa Tengah. Program ini menargetkan anak-anak dari keluarga kurang mampu, yatim, dan piatu.
Ketua Panitia Sunatan Massal 2025, Lukman Fauzi, mengatakan kegiatan ini bertujuan membantu anak-anak agar bisa menjalani sunatan tanpa terbebani biaya. “Kebanyakan peserta berasal dari keluarga kurang mampu. Ada yang yatim, piatu, atau dhuafa. Program ini memastikan mereka bisa fokus menjalani sunatan, bukan memikirkan biaya,” kata Lukman.
Ia menambahkan, kegiatan sengaja dilaksanakan pada awal libur sekolah agar anak-anak memiliki waktu pemulihan sebelum kembali belajar. Peserta juga mendapatkan bingkisan dan uang saku. Kegiatan ini turut didukung relawan dan dokter dari Turki. Dari sembilan relawan yang hadir, empat di antaranya merupakan dokter profesional yang rutin mengikuti kegiatan sosial setiap tahun.
“Kami bekerja sama dengan dokter dan relawan Turki agar anak-anak mendapat pelayanan medis profesional sekaligus belajar budaya baru,” ujar Lukman.
Sunatan massal ini menjadi wujud kepedulian sosial bagi keluarga kurang mampu. Bagi anak-anak, momen penting dalam hidup itu akhirnya bisa dijalani dengan layak, tanpa kecemasan soal biaya—dan bagi para orangtua, ada rasa lega yang tak ternilai.











