"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Refleksi Akhir Tahun: Apakah Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Tercapai Tahun 2026?



Oleh Amidi

Salah satu janji politik yang diungkapkan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Pernyataan ini disampaikan oleh Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, selaku menteri keuangan, saat diminta komentarnya oleh para wartawan. Ia menjawab bahwa pihaknya akan bergerak ke arah tersebut.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen tersebut, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Berbagai langkah akselerasi ekonomi harus dilakukan, dan memerlukan komitmen serta konsistensi dari para petinggi negeri ini serta semua pihak yang terlibat.

Sehubungan dengan hal tersebut, Bapak Purbaya menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 sebesar 6 persen sebagai langkah awal menuju target 8 persen tersebut. Pertanyaannya, apakah target tersebut realistis?

Jika melihat kondisi saat ini, pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir masih berada di angka 5 persen-an. Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi tahunan (y on y) baru mencapai 5,03 persen. Dengan demikian, untuk mencapai 6 persen, kita harus mengejar kekurangan sebesar 0,97 persen lagi. Jika dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencapai 5,05 persen, maka terjadi penurunan atau perlambatan.

Dari sisi angka, kekurangan tersebut bisa saja dicapai. Namun, realitas menunjukkan bahwa angka tersebut ternyata tidak mudah untuk dicapai. Kondisi saat ini jauh berbeda dengan masa kejayaan pertumbuhan ekonomi, di mana pertumbuhan bisa mencapai 7 hingga 8 persen per tahun. Bahkan, pada tahun 1995, pertumbuhan ekonomi pernah mencapai 8,2 persen.

Kondisi Saat Ini?

Pada masa itu, kebocoran (baca: korupsi) masih terbilang kecil. Perekonomian dominan dikelola oleh anak negeri, stabilitas ekonomi relatif baik, dan dinamika perekonomian luar negeri belum banyak memengaruhi perekonomian dalam negeri. Selain itu, kepentingan politik para petinggi negeri ini juga tidak seketat sekarang.

Saat ini, pelaku dan kasus korupsi semakin menggila. Tidak ada hari tanpa korupsi. Korupsi sudah merasuk ke dalam semua tatanan, termasuk institusi yang bernuansa agama. Angka uang/dana yang dikorupsi pun tidak tanggung-tanggu. Bukan lagi pada angka triliunan rupiah, tetapi ada kasus korupsi yang mencapai ribuan triliun atau bahkan kuadriliun rupiah.

Jika uang/dana yang dikorupsi selama ini digunakan untuk pembangunan atau pengeluaran yang produktif, maka kondisi ekonomi akan jauh lebih baik. Banyak tenaga kerja akan terserap, angka kemiskinan akan berkurang, dan pertumbuhan ekonomi akan cepat meningkat.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang melambat pun disebabkan oleh fakta bahwa konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi. Konsumsi ini didukung oleh populasi yang besar dan adanya bonus demografi. Sementara itu, investasi dan ekspor masih perlu diperjuangkan dan ditingkatkan. Dari investasi dan ekspor inilah laju pertumbuhan bisa digenjot lebih cepat.

Dengan demikian, jika terjadi perlambatan di sektor konsumsi, terutama konsumsi rumah tangga, maka akan berdampak pada pelemahan pertumbuhan ekonomi. Meski konsumsi dari pelaku bisnis dan pemerintah tetap ada, namun tidak cukup untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang kita harapkan.

Selain itu, negeri ini di landa banjir. Beberapa provinsi seperti Aceh, Medan, Padang, dan daerah lainnya terkena dampak banjir. Dampaknya, dana akan terkuras untuk bantuan dan pembangunan fasilitas yang rusak. Masyarakat yang terdampak banjir tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi, dan timbulnya opportunity cost yang tidak kecil.

Optimis VS Pesimis?

Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang ditargetkan oleh Bapak Purbaya, tidak bisa direalisasikan secara instan. Ada prediksi antara optimis dan pesimis.

Optimis: Jika para petinggi negeri ini dapat memegang jabatan mereka dengan benar-benar “amanah”, bekerja optimal, mengikis kepentingan politik, dan berorientasi pada perbaikan ekonomi.

Pesimis: Jika sebaliknya, jika para petinggi tidak “amanah”, lebih mengedepankan kepentingan diri, kelompok, atau golongan, dan tidak berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

Kita butuh sosok petinggi negeri ini yang dapat memerankan dirinya sebagai “publik figur”. Kita butuh anak negeri ini yang benar-benar bisa memerankan perannya sesuai kapasitasnya. Kita butuh anak negeri dari kalangan kampus-kampus yang peduli dengan kondisi ekonomi. Kita butuh sosok mahasiswa yang bisa menjadi “agen of change”. Kita juga butuh sosok pen-dakwah yang peduli dengan kondisi ekonomi dan umat.

Gebrakan Bapak Purbaya sejak dilantik sebagai menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati sampai saat ini perlu dukungan kuat dari rekan-rekannya dan para petinggi negeri ini. Jangan biarkan beliau “kesendirian”, jangan biarkan beliau “digerogoti”, jangan biarkan kebijakan-kebijakan beliau melempem dan mendapat pertentangan dari kiri dan kanan. Beliau harus mendapat dukungan tidak hanya dari Bapak Presiden, tetapi juga dari kita semua.

Tidak sedikit dan tidak kecil uang yang “hilang” karena korupsi kembali. Tidak sedikit sumber penerimaan negara yang “menguap” dan bisa dikembalikan. Contohnya, uang sitaan dari Kejagung senilai Rp. 6,6 triliun yang berasal dari penagihan denda administratif lehutanan oleh satgas PKH dan hasil penyelamatan keuangan negara atas penanganan perkara tindak pidana korupsi. Uang ini akan digunakan untuk menutupi defisit fiskal.

Di lapangan, ada berbagai tanggapan atas kondisi ekonomi dan negeri saat ini. Dengan adanya pertentangan dan perdebatan, biasanya langsung ditanggapi dengan “orasi yang ber-api-api”. Namun, anak negeri ini meminta agar bisa menanggapi kondisi dengan gagah dan ber-api-api, tetapi bukan hanya “show of force” semata, tetapi dengan tindakan nyata.

Sebenarnya Bisa?

Pertumbuhan ekonomi 6 persen yang ditargetkan Bapak Purbaya sebenarnya bisa bahkan lebih dari bisa, jika para petinggi negeri ini dan kita semua yang terlibat mengedepankan komitmen dan konsisten. Harus mengambil langkah-langkah; penganguran segera diatasi dengan penciptaan lapangan kerja, anggaran direalisasikan sesuai kinerja demi mendukung pertumbuhan ekonomi, dan SDA yang dimiliki negeri ini benar-benar dioptimalkan dan dinikmati sepenuhnya oleh anak negeri. Selain itu, perusak SDA (hutan) yang menyebabkan banjir harus ditindak tegas.

Selamat berjuang!!!!!!

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *