"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

Kaleidoskop 2025: Rekor dan Koreksi Bitcoin, Respons Investor?

Tren Pasar Kripto Indonesia di Tengah Volatilitas Global



Jakarta, 2025 menjadi tahun yang penuh dinamika bagi Bitcoin (BTC) dan para investor kripto di Indonesia. Meskipun pasar kripto global menghadapi volatilitas tinggi dan ketidakpastian dalam kebijakan moneter, Bitcoin tetap menunjukkan ketangguhannya sebagai aset digital utama. Sementara itu, basis investor kripto domestik terus berkembang.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap, pada tahun 2025, harga Bitcoin bergerak dalam rentang yang sangat lebar. Harga terendahnya mencapai 74.436,67 dolar AS, sedangkan harga tertingginya mencapai 126.198,06 dolar AS. Rentang pergerakan ini mencerminkan tingginya volatilitas yang masih menjadi ciri khas pasar kripto.

Dari sejarahnya, harga Bitcoin pernah turun hingga 0,04864 dolar AS pada 15 Juli 2010. Namun, saat ini, harga BTC telah mencapai level tertinggi sepanjang masa (ATH) pada 7 Oktober 2025 di 126.198,06 dolar AS. Dari titik terendah historis tersebut, Bitcoin mencatatkan return on investment (ROI) sebesar sekitar 143.672.694 persen, menjadikannya salah satu aset dengan kenaikan nilai terbesar sepanjang sejarah pasar keuangan.

Dari sisi kapitalisasi pasar, Bitcoin kini memiliki valuasi sekitar 1,77 triliun dolar AS. Jika dihitung berdasarkan fully diluted market capitalization, nilainya mencapai 1,86 triliun dolar AS, naik sekitar 1,07 persen. Likuiditas Bitcoin juga tetap kuat, dengan volume transaksi 24 jam mencapai 33,63 miliar dolar AS, meningkat sekitar 1,22 persen. Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar sebesar 1,89 persen.

Jumlah Bitcoin yang telah beredar menyentuh 19,96 juta BTC atau sekitar 95,09 persen dari batas maksimal suplai. Total suplai Bitcoin tetap sama, dengan batas maksimum 21 juta BTC. Dalam peta industri kripto global, Bitcoin masih mendominasi pasar dengan dominasi sebesar 59,11 persen, artinya lebih dari separuh total nilai pasar kripto dunia masih dikuasai oleh Bitcoin.

Di sisi lain, dinamika pasar kripto Indonesia menunjukkan perbedaan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa nilai transaksi aset kripto di Indonesia selama Januari-Oktober 2025 mencapai Rp 409,56 triliun. Meski angka ini turun 13,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024, jumlah investor kripto justru terus bertambah. Hingga September 2025, pengguna kripto di Indonesia mencapai 18,61 juta orang, tumbuh 3,05 persen secara bulanan. Pertumbuhan rata-rata investor tercatat konsisten di atas 3 persen setiap bulan.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa investor domestik tidak sepenuhnya menarik diri dari pasar. Menurutnya, banyak investor memilih untuk “wait and see” dengan menahan penempatan dana baru sambil menunggu kejelasan arah pasar global.

“Volatilitas yang terjadi di pasar global memang memengaruhi aktivitas perdagangan di Indonesia. Namun menariknya, meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat,” ujar Calvin. Peningkatan jumlah investor menjadi sinyal bahwa minat masyarakat terhadap aset digital masih kuat.

Calvin sebelumnya memproyeksikan pasar kripto hingga akhir 2025 berada dalam fase konsolidasi, sejalan dengan sikap kehati-hatian investor global. Faktor-faktor makro seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), stabilitas geopolitik, aliran likuiditas, serta pergerakan modal institusional dinilai akan sangat menentukan arah pasar dalam beberapa kuartal ke depan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, peran pemerintah dinilai krusial dalam menjaga stabilitas ekosistem kripto nasional, mulai dari pengaturan perpajakan, pengembangan bursa aset kripto tambahan, hingga edukasi publik. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi pasar aset digital di Tanah Air.

Memasuki 2026, peluang penguatan pasar dinilai masih terbuka apabila kondisi makro global membaik, termasuk potensi penurunan suku bunga dan meningkatnya selera risiko investor. Selain itu, siklus pasca-halving Bitcoin yang secara historis kerap mendorong kenaikan harga aset digital juga berpotensi menjadi katalis positif.

Namun demikian, risiko tetap membayangi. Pasar masih berpeluang bergerak sideways lebih lama jika tekanan makro berlanjut. Sebagai catatan, pada Jumat (21/11/2025), harga Bitcoin sempat melemah tajam hingga menyentuh level terendah lebih dari enam bulan di 86.325,81 dolar AS, sebelum kembali rebound ke sekitar 86.990,11 dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi di tengah keraguan pasar atas peluang pemangkasan suku bunga The Fed, menyusul data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan penambahan 119.000 pekerja pada September, jauh di atas estimasi 50.000.

“Investor perlu tetap waspada dan memahami risiko. Namun pertumbuhan jumlah investor menunjukkan ekosistem kripto Indonesia semakin matang dan memiliki fondasi untuk berkembang dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *