"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Hanya soal pelecehan? Maria diduga diperas dosen perempuan UNIMA untuk nilai kuliah

Kenangan tentang Evia, Mahasiswi yang Pendiam dan Berprestasi

Evia, seorang mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima), dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam, cerdas, dan memiliki prestasi sejak kecil. Meskipun tidak pernah mengungkapkan masalah yang mungkin terjadi, ia sering kali menunjukkan tanda-tanda stres akibat beban tugas dan masalah keuangan.

Dalam pengenalan keluarga, Evia Maria Antoineta Mangolo bukan hanya seorang mahasiswi yang meninggal secara tragis di kamar kosnya di Tomohon. Ia juga menjadi anggota keluarga yang penuh kasih, memiliki sifat lembut, dan selalu menyimpan dunianya sendiri. Zefanya Brenda Montung (19), sepupu dekat Evia dari pihak ibu, mengatakan bahwa almarhumah adalah sosok yang sangat tertutup dan jarang mengeluh.

Kedekatan antara Zefanya dan Evia sudah terjalin sejak masa kanak-kanak. Mereka biasa dipanggil Atang dan Yaya. Menurut Zefanya, Evia sering menghabiskan waktu liburan di rumah keluarganya di Manado. Meski dikenal pendiam, ia sangat pintar dan tekun dalam belajar. Bahkan, saat SMP saja, prestasinya membawanya ke Bali.

Saat berada di Manado, Evia sering kali disibukkan dengan urusan akademik. Waktunya banyak dihabiskan di depan laptop, mengerjakan tugas kuliah. Jika sedang tidak sibuk, ia biasa ajak Zefanya makan, seperti makan mie gacoan. Momen sederhana itu kini menjadi kenangan yang tak tergantikan.

Lebih Memilih Menulis Daripada Curhat

Zefanya menegaskan bahwa Evia bukan tipe orang yang suka mencurahkan masalah kepada orang lain. Ia lebih memilih memendam perasaan dan menyalurkannya melalui tulisan. Evia dikenal lebih suka menulis dibandingkan berbicara panjang lebar. Bahkan, ketika ada orang yang mencoba menggali perasaannya, Evia justru merasa tidak nyaman.

Ia tidak pernah sekalipun menceritakan kepada Zefanya tentang adanya oknum dosen Unima yang diduga melakukan pelecehan terhadapnya. “Dia hanya pernah cerita, dia stres karena banyak tugas dan butuh suntikan dana. Kalau ditanya-tanya dia bakal marah,” ujar Zefanya.

Keheningan itulah yang kini membuat keluarga merasa kehilangan kesempatan untuk benar-benar memahami beban yang dipikul Evia semasa hidupnya.

Komunikasi Terakhir di Penghujung Desember

Zefanya mengungkapkan bahwa komunikasi terakhirnya dengan Evia terjadi pada 22 Desember 2025, beberapa hari sebelum almarhumah ditemukan meninggal dunia. Percakapan itu berjalan biasa, tanpa tanda-tanda mencurigakan. Namun, Zefanya masih mengingat jelas sebuah peristiwa pada 20 November 2025, ketika Evia sedang berada di Manado.

Pada momen tersebut, Evia sempat bercerita bahwa dirinya akan bertemu seorang dosen perempuan di kawasan Komo Luar, salah satu lokasi kuliner nasi kuning di Manado. Zefanya menegaskan bahwa dosen perempuan tersebut bukanlah oknum dosen yang belakangan diduga melakukan pelecehan terhadap Evia. “Bukan oknum dosen yang (diduga) melakukan pelecehan itu. Yang ini dosen perempuan,” terang Zefanya.

Menurut cerita Evia, dosen perempuan tersebut kerap meminta dibayarkan makan saat mereka bertemu. “Katanya dia bertemu dengan dosen (perempuan) itu mau urus nilainya dia. Dia kayak sering diperas oleh si dosen itu,” ujar Zefanya. Cerita itu, yang kala itu hanya dianggap sebagai keluhan ringan, kini kembali teringat dengan rasa perih.

Story WhatsApp Terakhir yang Menjadi Isyarat Perpisahan

Zefanya juga mengenang komunikasi terakhir melalui WhatsApp, ketika ia sempat menanyakan rencana Evia untuk pulang kampung. “Dia bilang mau pulang,” ungkapnya. Kampung halaman Evia berada di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, yang dapat ditempuh sekitar empat jam perjalanan laut dari Pelabuhan Manado.

Namun, yang paling membekas di ingatan Zefanya adalah story WhatsApp terakhir Evia. Dalam unggahan tersebut, Evia membagikan video lama dirinya bersama sang adik saat mandi di pantai. Caption storynya itu tertulis: “hadiah Natal for mama.” Besoknya, dia sudah ditemukan meninggal.

Unggahan itu kini terasa seperti pesan perpisahan yang tak pernah disadari sebelumnya.

Amarah Keluarga yang Tak Terbendung

Zefanya menyebut bahwa dirinya dan keluarga sempat mengira Evia telah pulang kampung ke Siau, sebelum kabar kematiannya sampai kepada mereka. Kenyataan pahit itu memicu amarah dan luka mendalam di dalam keluarga.

“Keluarga mana yang tidak marah dengan kejadian ini? Kakak sepupu saya itu diseonggol sedikit saja sama sesama perempuan di bagian intim dia bakal menangis, apalagi kalau laki-laki. Jadi kami keluarga sangat marah sekali,” tegas Zefanya.

Kini, kenangan tentang Evia Maria hidup dalam potongan-potongan cerita kecil tentang kecerdasannya, diamnya, tulisannya, dan kasihnya kepada keluarga. Semua itu menyatu menjadi duka yang tak mudah sembuh, sambil menunggu kebenaran terungkap sepenuhnya.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *