"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Jejak Kopi VOC di Banten yang Bangkitkan Ekonomi Petani Lokal



Komoditas kopi memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, terutama selama masa kolonial Hindia Belanda. Dalam kunjungan ke Museum Multatuli di Rangkasbitung, Banten, pada Selasa (30/12), pengunjung dapat melihat bagaimana kopi menjadi bagian dari sejarah panjang negara ini. Salah satu display di museum menunjukkan bahwa sejak akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, wilayah pedalaman Jawa, termasuk Banten dan Priangan, mulai dikembangkan oleh Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sebagai pusat produksi kopi.

Berdasarkan catatan yang tersimpan di Museum Multatuli, kopi pertama kali dibawa VOC dari Malabar, India Selatan, ke Pulau Jawa pada akhir abad ke-17. Pada awal abad ke-18, kopi mulai dibudidayakan secara intensif. Tahun 1706 menjadi momen penting ketika hasil panen kopi pertama dari Jawa dikirim ke Belanda dan diterima langsung oleh De Heeren Zeventien, jajaran tertinggi pengelola VOC. Hal ini menandai dimulainya peran Jawa dalam rantai pasok kopi global.

Awalnya, penanaman kopi dilakukan di wilayah pesisir utara Jawa, seperti Batavia hingga Cirebon. Namun, kondisi geografis dataran rendah tidak mendukung budidaya kopi. Seiring waktu, penanaman kopi dialihkan ke wilayah pedalaman dan dataran tinggi yang lebih subur, termasuk kawasan Priangan dan daerah perbukitan di Banten dan Lebak.

Perkembangan kopi di Banten yang ditampilkan di Museum Multatuli masih relevan hingga hari ini. Meskipun pada masa lalu VOC mengembangkan wilayah pedalaman Banten sebagai sentra produksi kopi, kini tradisi tersebut berlanjut melalui inisiatif petani lokal dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah.



Kopi Lebak dinilai layak bersaing di pasar ekspor. Seorang pegiat kopi sekaligus Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lebak, Tembi, menyebutkan bahwa produksi Kopi Lebak pada tahun ini secara kualitas masih tergolong baik. Meski begitu, dari sisi kuantitas terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, ketika ketersediaan stok relatif lebih melimpah.

“Mungkin untuk bisa lebih meningkatkan produksi agar bisa lebih banyak petani Kopi Lebak bisa lebih diperhatikan dari penambahan bibit dan juga peralatan pertaniannya agar produksinya tetap konsisten,” ujar Tembi saat dihubungi, Rabu (31/12).

Tembi menilai prospek Kopi Lebak untuk menembus pasar ekspor sebenarnya cukup terbuka. Namun, diperlukan peran pemerintah dalam memberikan pembinaan sesuai standar ekspor. Pasalnya, pasar luar negeri menuntut kuantitas dan kualitas yang stabil, sementara saat ini produksi Kopi Lebak masih lebih banyak memenuhi kebutuhan pasar nasional.

“Kopi Lebak belum nembus pasar luar negeri, akan tetapi kopi Lebak hanya dibawa atau dijual ke perorangan seperti sahabat atau saudara yang tinggal di luar negeri. Untuk penjualan segi pasar belum,” ujar Tembi.

Saat ini, jenis kopi yang dominan dibudidayakan di Lebak adalah arabika, meski tumbuh di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. “Tapi rasa dan kualitasnya saya sangat setuju bahwa kopinya layak bersaing di pasar,” tutur Tembi.

Harga jual kopi tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan. Untuk kopi mentah atau green bean (GB) dengan kualitas baik, harga yang ia peroleh tahun ini berada di kisaran Rp 160 ribu per kilogram. “Beda harga lagi bila sudah berada di tangan kedua (sudah diolah),” kata Tembi.

Namun, kenaikan tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh petani kopi di Lebak.



Masih di wilayah Banten, pengelolaan kopi di kawasan Gunung Karang, Pandeglang, menunjukkan perkembangan yang semakin bernilai dari waktu ke waktu. Kopi Pandeglang juga dipandang sebagai bagian dari sejarah panjang budidaya kopi di Banten dan Priangan. Sejak mulai dikelola pada 2019, tanaman kopi yang sebelumnya tumbuh liar di kawasan hutan perlahan dikembangkan secara mandiri oleh para petani setempat.

Beni, salah satu petani Kopi Pandeglang, menyatakan pada fase awal, kopi hanya dijual dalam bentuk biji kering atau green bean (GB) dengan harga berkisar Rp 16.000 hingga Rp 20.000 per kilogram, dikumpulkan dari hutan kelola petani.

“Seiring waktu, kami belajar mengelola hasil pasca panen, dengan memperbaiki kualitas kopi yang dihasilkan. Proses petik sampai jadi GB, ada kenaikan harga menjadi (Rp) 23 hingga 25 ribu di tahun 2021,” kata Beni kepada.

Pengembangan tidak berhenti di situ. Beni mengatakan dengan pendampingan dan pembelajaran bersama para ahli kopi, para petani mulai mengidentifikasi varietas kopi yang tumbuh di kawasan hutan kopi Gunung Karang seluas sekitar 120 hektare, dengan ketinggian 600 hingga 900 meter di atas permukaan laut.

“Dari hasil belajar kami itu, hasilnya masuk kategori kopi specialty dengan poin diatas 80 dari skala 100. Dan terus berlangsung sampai sekarang,” kata Beni.



Hasilnya, kopi Pandeglang berhasil mengikuti kurasi biji kopi di tingkat nasional dan masuk dalam kategori specialty coffee dengan skor di atas 80 (skala 100). Status ini terus dipertahankan hingga saat ini dan menjadi penanda pergeseran kopi Banten dari sekadar komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi.

Hingga kini, harga kopi GB khas Pandeglang, seperti Leupeh Lalay, melonjak tajam mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per kilogram, jauh di atas harga kopi petik petani pada umumnya. “Karena kopi ini unik, dan terbatas, maka harga pun beda dengan hasil petikan petani,” ujar Beni.

Meski memiliki potensi besar, produk kopi yang dihasilkan belum diarahkan ke pasar ekspor karena kebutuhan pasar lokal masih belum sepenuhnya terpenuhi. Saat ini, Beni menyatakan pihaknya masih memilih untuk memfokuskan upaya pada penguatan budidaya dan peningkatan kapasitas produksi, sembari tetap mempertahankan pengelolaan kopi hutan yang telah lebih dulu berkembang.

“Ekspor kami belum, karena kuota lokal pun belum terpenuhi. Kami sedang konsen dibudidaya dulu, sambil mempertahankan hasil kopi hutan yang ada,” jelas Beni.

Ekspor Kopi RI Meningkat

Kopi Indonesia kian menunjukkan eksistensinya di pasar internasional. Pada semester I 2025, volume ekspor kopi nasional tercatat mencapai 206,7 ribu ton, dengan tujuan pengiriman ke berbagai negara utama, antara lain Amerika Serikat, kawasan Uni Eropa, Jepang, Timur Tengah, serta negara-negara di Asia Tenggara.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengungkapkan nilai ekspor kopi Indonesia sepanjang 2024 mencapai Rp 24,8 triliun. ”Angka-angka ini menegaskan bahwa kopi Indonesia terus diminati pasar global,” kata Bagus dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (31/12).

Bagus juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, dengan luas areal perkebunan sekitar 1,2 juta hektare. Dari total tersebut, lebih dari 90 persen dikelola oleh petani rakyat.

Saat ini, sebanyak 54 varietas kopi Indonesia telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG), yang mencerminkan kekhasan serta mutu kopi dari berbagai daerah penghasil. Sementara itu, laporan Economics of Coffee 2024 mencatat Indonesia berada di peringkat keempat produsen kopi terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 6,8 persen terhadap total produksi global, berada di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Dari sisi komposisi, produksi kopi nasional masih didominasi jenis robusta yang mencapai 73 persen, sedangkan arabika berkontribusi 27 persen. Adapun pemanfaatannya, sekitar 65 persen produksi diserap oleh industri dalam negeri, dengan tingkat konsumsi kopi domestik mencapai 1,2 kilogram per kapita per tahun.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *