"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Prospek Komoditas 2026: Emas, Perak, dan Tembaga Jadi Unggulan

Proyeksi Harga Komoditas Tahun 2026

Pada tahun 2026, prospek komoditas global masih didukung oleh sentimen yang serupa dengan tahun sebelumnya. Namun, berbagai faktor global memengaruhi tingkat prospektif dari masing-masing komoditas. Beberapa di antaranya dinilai lebih menjanjikan dibandingkan yang lain.

Logam Mulia dan Logam Industri Jadi Pilihan Utama

Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa logam mulia dan logam industri tertentu menjadi komoditas yang paling menjanjikan pada 2026. Emas, perak, dan tembaga mendapat dukungan dari kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan moneter global, serta lonjakan kebutuhan energi dan infrastruktur akibat perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI).

“Emas tetap solid karena permintaan bank sentral dan situasi geopolitik yang memanas. Perak dan tembaga juga berpeluang melanjutkan tren naik karena kebutuhan besar dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), hingga pembangunan data center,” ujar Lukman.

Di sisi lain, logam seperti aluminium, baja, timah, dan logam industri lainnya tetap mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah China yang berupaya menahan over-capacity. Kebijakan ini berpotensi menjaga keseimbangan pasokan global dan menopang harga.

Performa Logam Mulia di Tahun 2025

Sepanjang 2025, logam mulia tampil dominan, sementara komoditas energi justru tertinggal. Emas mencatat lonjakan lebih dari 60% YtD hingga sempat menembus rekor US$ 4.500 per ons troi. Perak melesat hampir 140% YtD berkat status safe haven dan defisit pasokan industri.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan bahwa performa kuat logam mulia di 2025 menjadi fondasi optimisme ke 2026. Hal ini didukung ekspektasi suku bunga rendah dan risiko geopolitik yang belum mereda.

Sutopo menjelaskan bahwa logam industri seperti perak dan tembaga akan menjadi promadona pada 2026. Sementara itu, emas tetap menjadi instrumen wajib untuk melindungi nilai terhadap ancaman geopolitik yang belum mereda.

Tekanan pada Sektor Energi

Pengamat komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, menilai sektor komoditas energi masih menghadapi tekanan berat pada 2026. Untuk minyak mentah WTI, rencana peningkatan produksi OPEC+ hingga kuartal I-2026 serta tambahan pasokan dari negara non-OPEC seperti Amerika Serikat, Guyana, dan Brasil diperkirakan menahan harga.

Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi China serta percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) turut menekan konsumsi bahan bakar fosil. Sementara itu, harga batubara mengalami koreksi akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi di China dan India, serta normalisasi rantai pasok global.

Proyeksi Harga Komoditas Tahun 2026

Wahyu memproyeksikan pasar komoditas energi memasuki fase moderasi dan stabilisasi. Harga minyak mentah WTI diproyeksikan masih bergerak rendah atau sideways, seiring kekhawatiran oversupply yang diprediksi berlanjut hingga akhir 2026. Batubara diperkirakan bergerak stabil dengan tren melandai, mengingat permintaan dari pembangkit listrik konvensional mulai mencapai titik jenuh.

Lukman juga menilai sejumlah komoditas utama seperti minyak mentah WTI dan batubara masih akan berada dalam kondisi pasokan berlebih (oversupply). Hal ini membuat potensi penguatan harga cenderung terbatas.

Proyeksi Harga untuk Masing-Masing Komoditas

Wahyu memproyeksi harga emas tetap berada dalam tren menguat pada 2026, di kisaran US$ 4.500 – US$ 5.300 per ons troi. Untuk perak, diperkirakan berada di kisaran US$ 55 – US$ 110 per ons. Tembaga diproyeksikan berada di kisaran US$ 9.000 – US$ 13.000 per ton. Sementara itu, aluminium diperkirakan mencatat kenaikan yang lebih moderat, yakni di kisaran US$ 2.800 – US$ 3.100 per ton.

Lukman memproyeksi harga komoditas energi akan dibayangi permintaan yang masih lambat pada 2026, sehingga membuat ruang kenaikan harganya jadi terbatas. Ia membidik harga minyak mentah WTI akan bergerak melemah di rentang US$ 50 – US$ 55 per barel dan batubara diproyeksikan bergerak di kisaran US$ 90 – US$ 95 per ton.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *