Pergerakan saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie menjadi perhatian utama para investor pasar modal sepanjang tahun 2025. Emiten-emiten yang berada di bawah kendali keluarga Bakrie menunjukkan kinerja yang luar biasa, baik dari sisi laporan keuangan maupun pergerakan harga saham. Kinerja ini didukung oleh berbagai aksi korporasi yang dilakukan sepanjang tahun, seperti akuisisi perusahaan, diversifikasi portofolio bisnis, perolehan kontrak dan tender strategis, serta pengamanan fasilitas kredit bernilai besar untuk mendukung ekspansi usaha.
Saat ini, gurita bisnis Grup Bakrie mencakup sedikitnya 12 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan bidang usaha yang beragam. Di sektor tambang, grup ini memiliki PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Sementara di sektor energi, terdapat PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Di sektor industri dan otomotif, Grup Bakrie mengelola PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
BRMS menjadi salah satu saham yang paling diminati oleh investor. Perusahaan ini tampil mengesankan setelah masuk ke indeks internasional MSCI, yang membuka peluang arus dana pasif ke saham perseroan. Selain itu, BRMS juga mengumumkan bahwa tambang emasnya di Palu telah menghasilkan produksi emas.
Di saat bersamaan, dua emiten lainnya yaitu BUMI dan ENRG juga mempercepat ekspansi. BUMI menerbitkan obligasi jumbo untuk menyelesaikan akuisisi tambang emas di Australia. Perseroan telah melakukan diversifikasi usaha ke tambang emas. Adapun ENRG menyiapkan penerbitan obligasi dan anggaran besar untuk memperluas portofolio migas.
Berikut adalah daftar kinerja 12 saham terafiliasi Grup Bakrie sepanjang tahun 2025:
| No | Emiten | Harga saham 2 Januari 2025 (per saham) | Harga saham 30 Desember 2025 (per saham) | Naik/Turun (%) |
|---|---|---|---|---|
| 1. | PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) | Rp 32 | Rp 127 | 262,86% |
| 2. | PT Bumi Resources Tbk (BUMI) | Rp 123 | Rp 366 | 210,17% |
| 3. | PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) | Rp 402 | Rp 1.100 | 217,92% |
| 4. | PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) | Rp 242 | Rp 1.600 | 595,65% |
| 5. | PT Darma Henwa Tbk (DEWA) | Rp 118 | Rp 670 | 503,60% |
| 6. | PT Visi Media Asia (VIVA) | Rp 6 | Rp 48 | 700% |
| 7. | PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) | Rp 10 | Rp 88 | 780% |
| 8. | PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) | Rp 93 | Rp 436 | 349,48% |
| 9. | PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) | Rp 11 | Rp 45 | 275% |
| 10. | PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) | Rp 5 | Rp 41 | 583,33% |
| 11. | PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) | Rp 50 | Rp 50 | 0% |
| 12. | PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) | Rp 129 | Rp 845 | 550% |
Menilik Prospek Saham Bakrie di 2026
Menatap tahun 2026, sejumlah analis menilai prospek saham-saham Grup Bakrie masih cukup menarik, meski tetap bergantung pada dinamika harga komoditas global. Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, menilai kinerja emiten Grup Bakrie pada 2026 akan tetap positif, namun investor perlu bersikap selektif. Menurut dia, perbaikan fundamental perusahaan didorong oleh proses restrukturisasi utang dan masuknya mitra strategis sepanjang 2025.
Selain itu, Wafi berpandangan bahwa bangkitnya saham-saham Bakrie setelah terpuruk beberapa tahun terjadi karena masuknya “Salim Effect” ke beberapa perusahaan Bakrie sehingga menjadi usaha kongsi. Misalnya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Outlook 2026 Grup Bakrie tetap oke tapi selektif. Fundamental membaik drastis karena “Salim Effect” dan bersih-bersih utang di 2025,” kata Wafi.
Wafi menyebut BRMS sebagai saham yang paling menarik baginya. Sebab telah memasuki fase produksi emas dengan kapasitas penuh. Di saat yang sama, harga emas global masih berada dalam tren bullish. Adapun BUMI, kata dia, kini lebih berperan sebagai cash cow dengan fokus pada efisiensi dan pembagian dividen, meski ruang kenaikan harga sahamnya relatif terbatas akibat tekanan harga batu bara.
Sementara DEWA menarik sebagai turnaround play. Menurutnya, masuknya modal dan manajemen baru berpotensi mendorong peningkatan volume operasional. Sedangkan ENRG dan BNBR masih cenderung spekulatif.
“Katalis besarnya penurunan suku bunga yang bikin beban utang turun dan bisa dorong laba bersih,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas. Ia menilai sejumlah emiten Grup Bakrie mulai mendapatkan perhatian investor global setelah masuk ke dalam indeks internasional seperti MSCI.
“BUMI dan BRMS sudah masuk indeks global, sehingga berpotensi meningkatkan arus dana dari manajer investasi global,” kata Nafan.
Selain faktor indeks, Nafan menilai prospek komoditas seperti emas, batu bara dan minyak juga masih berpeluang membaik seiring potensi peningkatan permintaan global. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas harga komoditas tetap menjadi risiko utama, terutama bagi batu bara yang kerap mengalami fluktuasi permintaan tanpa diikuti kenaikan harga yang signifikan.
Di sisi lain, struktur utang masih menjadi tantangan bagi sebagian emiten Grup Bakrie. Karena itu, Nafan menekankan pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik agar risiko keuangan dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Sebagian saham Grup Bakrie bukan termasuk kategori blue chip. Kapitalisasinya memang besar, tetapi volatilitasnya tetap tinggi. Investor perlu mencermati risiko ini,” ujarnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











