Libur Nataru yang Tidak Sepenuhnya Libur
Akhir tahun sering kali dianggap sebagai masa jeda. Namun, bagi banyak orang, jeda itu tidak sepenuhnya terasa. Alarm tetap berbunyi, sepatu kerja masih dipakai, dan rutinitas tetap berjalan meskipun libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) telah tiba.
Di tempat saya bekerja, libur Nataru bukanlah hal yang seragam. Ada bagian-bagian yang benar-benar berhenti cukup lama, dari Sabtu kemarin hingga Sabtu besok. Bagian produksi dari A sampai Z, gudang, formula, serta beberapa tim teknik, menikmati jeda yang sudah dijadwalkan. Aktivitas melambat, mesin beristirahat, dan ritme kerja berganti sunyi.
Namun, tidak semua bagian mengambil jeda. Sebagian tetap masuk seperti biasa. Security masih berjaga di posnya. Tim teknik tertentu tetap siaga. Bagian kantin perusahaan – yang mengoordinasikan kebutuhan internal, mulai dari staf Office Boy (OB) hingga juru masak – tetap bekerja di balik layar. Bagian perkantoran masih membuka komputer, dan para kepala divisi tetap hadir memastikan roda tetap berputar.
Tidak ada hiruk-pikuk liburan, tapi juga tidak ada keluhan. Hanya pekerjaan yang berjalan dalam versi yang lebih tenang. Libur memang ada, tapi terbatas. Sabtu dan Ahad kemarin, lalu satu hari penuh esok – tepat di tanggal 1 Januari – yang benar-benar libur tanpa diganggu gugat. Selebihnya, kami tetap masuk.
Bahkan di hari Natal kemarin pun, pekerjaan tetap berjalan, hanya ditukar dengan libur di akhir pekan. Sistemnya sederhana, jelas, dan terasa adil.
Menyaksikan Liburan dari Kaca Mata Lain
Di tengah suasana seperti ini, saya sering menemukan diriku sedang menatap layar ponsel, melihat orang-orang merayakan liburan mereka. Anehnya, tidak ada rasa iri yang muncul. Tidak juga tergoda untuk ikut merayakan tahun baru dengan pesta atau keramaian.
Bukan karena sok kuat, apalagi anti-liburan. Saya tahu betul, liburan itu penting. Otak juga butuh rekreasi agar tetap segar dan tidak jenuh. Tapi tahun ini, rasanya berbeda. Mungkin karena saya sedang berada di fase hidup yang lebih membutuhkan stabilitas daripada perayaan. Atau mungkin karena saya sadar, apa yang sedang saya jalani sekarang juga layak disyukuri.
Masih bisa bekerja, masih bisa datang tepat waktu, masih bisa pulang dengan rasa lelah yang wajar – itu bukan hal kecil di zaman seperti ini.
Kerja di hari libur sering dipersepsikan sebagai bentuk keterpaksaan. Seolah-olah mereka yang tetap bekerja adalah pihak yang “kurang beruntung” karena tidak bisa ikut menikmati kalender merah. Padahal, dari dalam, ceritanya tidak selalu sesederhana itu.
Ada banyak orang yang tetap bekerja bukan karena dipaksa, tapi karena sadar akan pilihannya. Bagi saya, rasa yang paling dominan justru syukur. Syukur karena masih punya pekerjaan. Syukur karena masih diberi ruang untuk berikhtiar. Syukur karena rezeki masih bisa dicari dengan cara yang halal dan jelas.
Kejujuran dalam Pekerjaan
Apalagi dengan sistem gaji harian seperti kami, libur terlalu panjang justru terasa sayang. Setiap hari masuk kerja berarti ada pemasukan. Setiap jam yang dijalani punya nilai. Mungkin terdengar sangat praktis – bahkan sedikit jenaka. Maklum, anak baru masuk kerja. Tapi di situlah letak kejujurannya.
Yang membuat saya semakin tenang adalah menyadari bahwa perasaan ini tidak saya rasakan sendirian. Di sela-sela obrolan ringan, saya melihat ekspresi yang sama di wajah rekan-rekan kerja. Tidak ada nada mengeluh. Tidak ada drama tentang “kenapa kita nggak libur?”. Yang ada justru kesadaran bersama bahwa inilah peran kami saat ini, dan kami menjalaninya dengan kepala tegak.
Di titik itu, muncul satu perasaan sederhana tapi menguatkan: ternyata saya tidak sendirian.
Tanggung Jawab yang Tersembunyi
Kami mungkin tidak sedang berada di tempat wisata, tapi kami berada di tempat kami dibutuhkan. Kami mungkin tidak sedang menghitung mundur detik pergantian tahun dengan kembang api, tapi kami sedang menjaga agar sistem tetap berjalan. Ada bentuk tanggung jawab di sana, yang sering kali tidak terlihat, tapi nyata dampaknya.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa rezeki tidak selalu datang dalam bentuk liburan panjang atau momen spektakuler. Kadang ia hadir sebagai rutinitas yang konsisten. Sebagai bangun pagi yang sama seperti hari-hari biasa. Sebagai pekerjaan yang mungkin terlihat sepi, tapi tetap bermakna.
Rezeki semacam ini memang tidak selalu tampak menarik di media sosial, tapi terasa nyata saat kebutuhan hidup bisa terpenuhi. Di luar sana, mungkin ada yang menganggap kami melewatkan momen penting. Tapi dari dalam, rasanya kami justru sedang membangun momen versi kami sendiri.
Momen belajar tentang tanggung jawab. Momen memahami prioritas. Momen menyadari bahwa hidup tidak harus selalu seirama dengan keramaian agar terasa berarti.
Resolusi yang Lebih Sederhana
Tahun baru sering dipenuhi resolusi besar: ingin ini, ingin itu, ingin ke sana, ingin ke sini. Tapi bekerja di hari-hari seperti ini mengajarkanku resolusi yang lebih sederhana – dan mungkin lebih relevan. Ingin konsisten. Ingin bertahan. Ingin tetap bersyukur tanpa perlu membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain.
Liburan akan tetap datang, pada waktunya. Kami tidak menolaknya. Tapi bekerja saat yang lain libur bukan berarti hidup kami kurang bahagia. Bahagianya hanya berbeda bentuk. Lebih tenang, lebih membumi, dan tidak perlu diumumkan ke mana-mana.
Jadi, jika kamu membaca tulisan ini sambil bersantai di masa liburan, ketahuilah: di luar sana ada banyak orang yang tetap bekerja. Bukan untuk dikasihani, apalagi dibandingkan. Kami baik-baik saja. Kami sedang menjalani pilihan hidup kami sendiri – dengan rasa syukur yang tetap utuh.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”









