JAKARTA,
— Harga Bitcoin (BTC) pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami pergerakan yang cukup luas, dipengaruhi oleh tekanan suku bunga global sekaligus peluang penguatan dari arus institusional. Prediksi ini menunjukkan bahwa pasar kripto akan terus berada dalam dinamika yang kompleks dan saling memengaruhi.
Dalam skenario optimis, harga Bitcoin bisa mencapai rekor baru hingga 150.000 dollar AS atau sekitar Rp 2.475.000.000 pada akhir 2026. Hal ini didorong oleh adopsi yang semakin luas dari lembaga keuangan dan penggunaan ETF kripto yang meningkat. Namun, kondisi tersebut juga harus dihadapi dengan tantangan dari lingkungan makroekonomi yang masih tidak stabil.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan bahwa pergerakan Bitcoin sejak akhir 2025 hingga awal 2026 masih berada dalam fase transisi. Meskipun demikian, ia melihat bahwa Bitcoin mampu bertahan di atas area penopang struktural penting di level 80.000 dollar AS atau sekitar Rp 1.320.000.000 pada penutupan bulanan. Zona ini sering menjadi titik stabilisasi harga dalam sejarah.
“Bitcoin mampu bertahan di atas area 80.000 dollar AS pada penutupan bulanan, yang secara historis menjadi zona stabilisasi harga. Namun, tekanan masih terlihat dari sisi likuiditas dan sentimen global,” kata Fyqieh, melalui keterangannya, Sabtu (3/1/2026).
Tekanan tersebut tercermin dari indikator permintaan institusional. Data on-chain menunjukkan bahwa Coinbase Premium Index masih berada di zona negatif dalam waktu yang cukup panjang. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan jual dari investor Amerika Serikat masih berlangsung dan menahan harga Bitcoin bergerak di bawah level 90.000 dollar AS atau sekitar Rp 1.485.000.000.
Menurut Fyqieh, selama premi Coinbase belum kembali positif secara konsisten, pergerakan harga Bitcoin masih berpotensi berfluktuasi dan mengalami koreksi terbatas. Meski demikian, ia mencermati adanya tanda pelemahan tekanan jual dibandingkan periode sebelumnya.
Arus keluar dari ETF Bitcoin spot memang masih terjadi, tetapi volumenya terus menurun dari bulan ke bulan. Ini mengindikasikan bahwa tekanan distribusi tidak lagi sekuat sebelumnya. Dalam beberapa siklus historis, kondisi seperti ini sering menjadi fase transisi menuju konsolidasi yang lebih sehat.
Sinyal penguatan jangka menengah juga terlihat dari perilaku pemegang Bitcoin jangka panjang. Data CryptoQuant mencatat lebih dari 10.000 BTC berpindah ke status kepemilikan jangka panjang pada akhir 2025. Pergerakan ini memperkuat indikasi bahwa tekanan jual struktural mulai berkurang, meskipun volatilitas jangka pendek masih sulit dihindari.
Dari sisi makroekonomi, kebijakan bank sentral Amerika Serikat masih menjadi faktor penentu utama arah harga Bitcoin pada awal 2026. Risalah FOMC terbaru menunjukkan bahwa The Fed cenderung mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama, dengan peluang pemangkasan baru terbuka setelah Maret atau April 2026 jika inflasi benar-benar melandai.
Kondisi suku bunga tinggi dalam waktu lama ini membuat likuiditas global tetap ketat dan membatasi katalis kenaikan harga kripto dalam jangka pendek. “Pada awal 2026, risiko pasar kripto masih cenderung ke downside apabila data inflasi dan tenaga kerja tidak mendukung pelonggaran kebijakan moneter. Namun, tekanan ini bersifat makro dan bukan karena melemahnya fundamental kripto itu sendiri,” kata Fyqieh.
Meski menghadapi tekanan di awal tahun, prospek harga Bitcoin hingga akhir 2026 tetap dinilai konstruktif. Sejumlah analis global memproyeksikan Bitcoin berpotensi menembus 150.000 dollar AS atau sekitar Rp 2.475.000.000, didorong adopsi institusional yang semakin luas, peningkatan penggunaan ETF kripto, serta peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah tingginya utang pemerintah dan ketidakpastian ekonomi global.
Ke depan, arah pergerakan harga Bitcoin diperkirakan akan semakin jelas ketika keluar dari fase konsolidasi saat ini. Penembusan di atas 105.000 dollar AS atau sekitar Rp 1.732.500.000 dinilai dapat membuka ruang penguatan lanjutan, sementara penurunan di bawah 80.000 dollar AS berpotensi memicu koreksi lebih dalam.
“Secara keseluruhan, 2026 kemungkinan besar akan menjadi tahun dengan volatilitas tinggi di awal, namun membuka peluang pemulihan dan penguatan secara bertahap,” tutur Fyqieh.











