JAKARTA — Kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sepanjang 2025 menunjukkan ketahanan yang cukup baik, meski pertumbuhannya berlangsung selektif. Perbedaan kinerja paling mencolok terlihat pada kemampuan pelaku usaha dalam beradaptasi dengan ekosistem digital.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan, di tengah ekonomi nasional yang mulai tumbuh stabil, tekanan terhadap UMKM tidak hanya berasal dari melemahnya daya beli, tetapi juga dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin digital serta kenaikan biaya logistik.
“Kami melihat UMKM yang gagal melakukan digitalisasi operasional cenderung mengalami perlambatan. Sebaliknya, pelaku usaha yang sudah masuk ke dalam ekosistem digital justru mampu tumbuh pesat,” ujar Henky kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa dengan transaksi digital menuntut UMKM untuk menyesuaikan model bisnis, baik dari sisi pemasaran, pembayaran, hingga pengelolaan operasional. Adaptasi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja dan arus kas usaha.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Bank Sampoerna tetap melanjutkan komitmen pembiayaan ke segmen UMKM dengan menerapkan prinsip kehati-hatian yang terukur atau prudent growth.
Fokus utama bank dalam penyaluran kredit adalah menjaga kualitas aset, tidak hanya dengan menilai kemampuan bayar saat ini, tetapi juga keberlanjutan model bisnis debitur.
“Kami melihat keberlanjutan usaha menjadi kunci, terutama di tengah inflasi yang fluktuatif. Cost of fund memang menjadi tantangan, namun kami mengupayakan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi agar beban bunga ke nasabah tetap kompetitif,” jelas Henky.
Memasuki 2026, Bank Sampoerna memproyeksikan tekanan terhadap UMKM masih akan berlanjut, terutama dari ketidakpastian suku bunga global dan fluktuasi harga komoditas. Namun, di sisi lain, peluang pertumbuhan dinilai tetap terbuka seiring meningkatnya adopsi pembayaran digital.
Untuk menangkap peluang tersebut, Bank Sampoerna menyiapkan strategi penguatan kemitraan dengan perusahaan fintech melalui skema Bank as a Service (BaaS), yang dikombinasikan dengan pendekatan personal melalui jaringan kantor cabang.
Dari sisi sektor usaha, Henky menyebut UMKM di bidang makanan dan minuman (F&B) lokal serta usaha eceran masih menjadi segmen yang relatif potensial. Sementara itu, sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor atau barang tersier dinilai lebih berisiko karena sensitif terhadap inflasi dan volatilitas nilai tukar.
Dalam proses seleksi debitur, Bank Sampoerna mengedepankan analisis perilaku dan prinsip kehati-hatian untuk memastikan kualitas portofolio tetap terjaga.
Adapun dari sisi kebijakan, Bank Sampoerna berharap pemerintah dan otoritas dapat terus mendorong perbaikan ekonomi nasional agar tekanan terhadap UMKM dapat berkurang, sehingga pembiayaan ke sektor ini dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Sebagaimana diketahui, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan minat penyaluran kredit perbankan umumnya masih baik, tercermin pada persyaratan pemberian kredit atau lending requirement yang semakin longgar.
“Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Desember 2025, Rabu (17/12/2025).
Kondisi ini lantas memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM. Pada November 2025, Perry mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 0,64% (year on year/YoY).
Sementara itu, pada November 2025, OJK melaporkan penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.315 triliun per November 2025, tumbuh 7,74% secara tahunan (year on year/YoY).
“Kredit tumbuh sebesar 7,74% (YoY), di mana bulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,36%, menjadi sebesar Rp8.314,48 triliun,” ujarnya.
Menurut jenis penggunaan, Dian melaporkan bahwa kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 17,98% diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,67%, sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 2,04% (YoY). Dari kategori debitur, OJK mengungkapkan bahwa kredit korporasi tumbuh sebesar 12% (YoY).
“Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berat yang dalam pengertian masih terkontraksi,” ujarnya.
Di sisi lain, DPK tercatat tumbuh sebesar 12,03% (YoY) setelah sebelumnya, tumbuh sebesar 11,48% (YoY), menjadi sebesar Rp9.899,07 triliun.
Adapun kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,21% dibandingkan dengan November 2024 yang sebesar 2,19% dan NPL net 0,86% dibandingkan November 2024 0,75%.









