
Sungai memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Sebagai sumber air, tempat hidup berbagai organisme, serta penopang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, sungai menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di khususnya di Pulau Bali, sungai memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat, terkait dengan konsep falsafah Hindu “Tri Hita Karana” yang menekankan tiga hubungan utama dalam kehidupan manusia, yaitu hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan.
Sayangnya, saat ini banyak sungai yang mengalami pencemaran dan penurunan manfaat akibat perbuatan manusia sendiri. Pencemaran sungai bukanlah isu baru di Indonesia. Berdasarkan hasil Pemantauan Mutu Air Semester I 2025 yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa 70,7% lokasi tercemar, dan hanya 29,3% memenuhi baku mutu. Penyebab utama pencemaran adalah pembuangan limbah tanpa pengolahan yang memadai, baik dari pemukiman, area pertanian, maupun industri.
Pencemaran sungai menyebabkan perubahan signifikan pada kondisi air, seperti menjadi keruh, berbau, atau dipenuhi sampah. Dampak yang lebih memprihatinkan adalah hilangnya fungsi sungai sebagai “Sungai Kita, Masa Depan Kita”, karena aktivitas pencemaran menyebabkan kematian organisme akuatik dan penurunan kemampuan bakteri pengurai. Hal ini mengganggu keseimbangan ekosistem dan berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsi ikan atau memanfaatkan air sungai dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa contoh sungai yang telah mengalami pencemaran di Indonesia antara lain:
- Sungai Ciliwung – Tercemar akibat aktivitas pertanian, limbah industri, dan peternakan. Sungai ini sering dikaitkan dengan banjir di wilayah DKI Jakarta.
- Sungai Citarum – Terkena pencemaran dari limbah pabrik tekstil, kegiatan peternakan, dan limbah rumah tangga. Bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu wilayah paling tercemar di dunia.
- Sungai-sungai lainnya – Banyak sungai besar di Indonesia juga mengalami pencemaran akibat aktivitas pertanian, peternakan, limbah rumah tangga, dan perilaku membuang sampah sembarangan.
Pencemaran sungai disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Sifat manusia yang tamak dan tidak bertanggung jawab, seperti membuang sampah langsung ke aliran sungai.
- Kesalahan pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan dan tidak sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
- Kurangnya penegakan hukum dan adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang memungkinkan izin eksploitasi tanpa memperhatikan kapasitas lingkungan sungai.
Untuk mengatasi masalah pencemaran sungai, diperlukan perubahan perilaku dari masyarakat, penegakan pembangunan berkelanjutan, serta komitmen dari individu, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat melalui edukasi positif tentang menjaga lingkungan.
- Pemerintah harus hadir dengan menyediakan layanan pengambilan dan pengolahan sampah rumah tangga.
- Melakukan audit lingkungan terhadap pelaku usaha industri untuk memastikan kepatuhan terhadap undang-undang lingkungan.
- Memperbaiki program pemerintah yang telah ada, seperti Citarum Bestari dan Citarum Harum, agar lebih efektif dan mencakup seluruh wilayah sungai.
Menjaga ekosistem sungai adalah tanggung jawab bersama. Masyarakat diharapkan menerapkan etika ekologi dalam mengelola dan memanfaatkan perairan sungai. Manusia adalah bagian dari alam, dan walaupun dapat memanfaatkan alam, alam tetap harus dilestarikan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu mengkritik sistem atau kebijakan pemerintah yang keliru dalam pengelolaan perairan sungai.
Akhirnya, kondisi sungai mencerminkan hubungan manusia dengan alam. Sungai yang tercemar menandakan kehidupan yang sedang terancam, bukan hanya bagi ikan dan organisme air, tetapi juga bagi manusia itu sendiri. Pilihan jelas: terus membiarkan sungai menjadi korban, atau mulai menjaga dan memulihkannya sebagai sumber kehidupan. Masa depan kita mengalir bersama sungai, dan apa yang kita buang ke dalamnya akan kembali kepada kita.











