Kebakaran di Surabaya
Enam petak rumah yang berada di area seluas 8 m x 25 m di kawasan Jalan Peneleh Gang 1, Peneleh, Genteng, Surabaya, Jawa Timur, terbakar pada Sabtu (17/1/2026) malam. Kebakaran diduga disebabkan oleh korsleting colokan listrik. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa tidak ada korban jiwa atau luka dalam kejadian ini. Namun, kerugian akibat kebakaran ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Kapolsek Genteng Polrestabes Surabaya, Kompol Grandika Indera Waspada, menduga sumber api dipicu oleh korsleting colokan listrik di salah satu petak rumah. Pihaknya juga melakukan penyelidikan lanjutan dengan melibatkan Anggota Tim Inafis Polrestabes Surabaya. “Iya dugaan awal korsleting dari colokan listrik. Nihil korban,” ujarnya saat dihubungi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Laksita Rini, mengatakan pihaknya mengerahkan sekitar 14 unit truk pemadam berbagai jenis, terdiri dari sembilan unit truk tempur pemadam dan lima unit truk rescue. Truk-truk tersebut berasal dari berbagai pos dan rayon di Surabaya. Selain itu, ada lima Unit Tim Rescue, serta pembantuan dua unit truk tangki air Dinas Lingkungan Hidup.
Isu Babi Ngepet di Tulungagung
Warga jagat maya ramai dengan isu babi ngepet yang tertangkap di Desa Pakel, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada Jumat (16/1/2026) pagi. Isu soal pesugihan ini membuat heboh warga Tulungagung. Namun belakangan, babi kecil berwarna hitam yang ditangkap itu telah dijual Rp 400.000.
Hariyanto (43), warga yang menangkap babi itu, menjelaskan bahwa ia menjual babi karena tidak percaya isu babi ngepet yang digembar-gemborkan warga. Ia berkisah, babi itu awalnya terlihat di kawasan gapura, perbatasan Desa Pakel dengan wilayah Kabupaten Blitar pada Jumat pagi. Sekitar pukul 05.00 WIB, babi betina yang masih berukuran kecil ini berhasil ditangkap warga, namun lepas.
Hariyanto kemudian mengejar anakan babi itu di kawasan belakang rumahnya menggunakan kurungan ayam jago. Ia berhasil menyergap babi itu dan membawanya pulang. Dari ramainya warga yang datang untuk melihat babi itu, muncul soal babi ngepet atau babi pesugihan. Foto dan video babi itu kemudian menyebar disertai isu penangkapan babi ngepet.
Hariyanto mengaku, ada yang menyarankan untuk mengecat kelapanya dengan warna putih atau mengiris kupingnya untuk membuat kapok orang yang ngepet. Namun, ia tidak melakukan hal tersebut karena yakin ini benar-benar babi, bukan babi jadi-jadian. Teman-temannya juga meyakinkan bahwa ini memang babi biasa, bukan babi hutan.
Di wilayah Desa Pakel, Kecamatan Ngantru, tidak ada peternakan babi, namun di seberang Sungai Brantas yang masuk Kecamatan Ngunut, Tulungagung, banyak peternakan babi. Hariyanto tidak tahu pasti dari mana asal babi ini, tetapi ada warga yang melihat 4 hari sebelumnya, babi ini ada di tepi Sungai Brantas. Babi ini juga pernah terlihat di permukiman warga, kemudian diusir.
Komplotan Modus Sumbangan Yatim Piatu
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Ponorogo tak hanya menerima pelimpahan 21 orang komplotan peminta sumbangan berkedok yayasan yatim piatu, namun hasilnya untuk berjudi. Ada fakta baru yang terungkap. Rupanya puluhan orang itu merupakan korban “tipu-tipu” yayasan yatim piatu yang tak resmi itu. Tipu-tipu yang dimaksud mereka dijanjikan kerja dengan gaji besar.
“Tapi rupanya disuruh jual stiker. Kemudian ada yang disetor ke yayasan ada pula yang untuk pribadi,” ungkap Kabid Trantib Satpol PP Ponorogo, Subiantoro, Sabtu (17/1/2026). Dari Buruh Ngarit Jadi Penjual Stiker “Yatim Piatu”.
Subiantoro menjelaskan hal itu terungkap pas menerima limpahan dari Satreskrim Polres Ponorogo. Ke 21 pemuda berusia 19 tahun sampai 23 tahun merupakan asal Provinsi Lampung. “Tetapi bukan satu kabupaten. Ada yang Bandar Lampung maupun lainnya. Mereka di tempat asal itu kerjanya cari rumput, ngarit dan lain-lain. Hasilnya sehari Rp 8 ribu paling,” katanya.
Menurut pengakuan mereka, jelas dia, ada koordinator mencari pemuda di Lampung. Kemudian mereka dikumpulkan di yayasan yatim piatu yang dimaksud. “Di Tangerang Banten, lalu mereka diberangkatkan di Ponorogo dengan mobil yang telah disewa oleh yayasan itu. Pengakuannya mereka ke kami seperti itu,” tambahnya.
Kemudian di Ponorogo, mereka menyewa hotel untuk menginap. Sudah ada kurang lebih 10 hari di Bumi Reog untuk meminta sumbangan dari desa ke desa. “Modusnya seperti yang saya bilang kemarin. Menjual stiker, dibawakan sekitar 6.000 stiker. Dari 6.000 stiker itu, 2.000 terjual,” paparnya kepada Tribunjatim Network.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











