Pencarian Pesawat ATR 42-500 Terus Berlangsung di Perbatasan Maros-Pangkep
Pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport terus dilakukan di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Operasi ini dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur SAR gabungan yang bekerja sama untuk menemukan jejak pesawat yang hilang kontak. Helikopter dari Lanud Sultan Hasanuddin dikerahkan untuk menyisir kawasan Leang-Leang hingga Gunung Bulusaraung.
Tim SAR Menemukan Serpihan Pesawat
Tim SAR gabungan berhasil menemukan serpihan-serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung. Temuan ini mempersempit area pencarian dan memberikan petunjuk penting dalam operasi penyelamatan. Serpihan jendela, bagian badan, hingga ekor pesawat ditemukan di lokasi yang dianggap sebagai titik jatuh pesawat. Penemuan pertama terjadi pada pukul 07.46 WITA, kemudian diikuti oleh penemuan bagian badan pesawat pada pukul 07.49 WITA. Pada pukul 07.52 WITA, bagian puntak pesawat ditemukan di sebelah selatan lereng bawah lokasi kejadian.
Operasi Melibatkan Ratusan Personel
Operasi pencarian melibatkan total 476 personel gabungan dari berbagai unsur seperti TNI, Polri, pemerintah daerah, serta unsur SAR lainnya. Helikopter digunakan untuk melakukan penyisiran di titik-titik koordinat yang telah ditentukan. Selain itu, tim SAR juga membawa sejumlah peralatan pendukung untuk menunjang operasi di medan ekstrem. Peralatan evakuasi dan elektrifikasi disiapkan, serta perangkat komunikasi khusus seperti starlink portable dan handy talky (HT) untuk memastikan komunikasi tetap lancar.
Kesaksian Pendaki yang Melihat Ledakan dan Api
Kesaksian dua pendaki yang mendengar ledakan dan melihat api di puncak Gunung Bulusaraung semakin memperkuat dugaan jatuhnya pesawat ATR 42-500. Reski (20) dan Muslimin (18) mengatakan bahwa mereka mendengar ledakan dan melihat api serta dinding besi jatuh ke puncak gunung. Mereka juga menemukan serpihan pesawat yang kemudian ditemukan oleh tim SAR. Dari temuan tersebut, ada dokumen, peta plastik, dan logo Kementerian Kelautan dan Perikanan bergambar Garuda.
Lokasi dan Medan yang Ekstrem
Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1.353 meter dari permukaan laut (MDPL) dan berada di kawasan pegunungan karst perbatasan Maros-Pangkep dan Bone. Kawasan ini masuk dalam Taman Nasional Bantimurung dan hutan vegetasi basah Karaengta. Akses ke kawasan ini bisa dilakukan dari kawasan Leang-Leang atau Jalan Poros Maros-Bone. Medan yang ekstrem membuat operasi pencarian menjadi lebih rumit, sehingga diperlukan peralatan khusus seperti mountaineering.
Pemimpin Operasi SAR Mengungkapkan Kondisi Terkini
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa hingga saat ini metode penurunan personel ke dasar jurang masih dikaji. Belum bisa dipastikan apakah menggunakan teknik rappelling karena medan menuju dasar jurang cukup ekstrem. Ia menambahkan bahwa tim pencarian dibagi ke dalam lima sektor guna memaksimalkan area penyisiran. Setelah tim tiba di puncak, drone akan diterbangkan untuk melakukan asesmen awal.
Posko Terpadu untuk Koordinasi Pencarian
Untuk memaksimalkan proses pencarian dan penyelidikan, Pemerintah Kabupaten Pangkep bersama tim gabungan membuka Posko Terpadu di Kantor Desa Tompobulu. Posko ini menjadi pusat koordinasi pencarian dari dua arah, yakni dari Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Selain itu, beberapa dokumen dan barang temuan seperti manifest penerbangan, dokumen SOP operasional pesawat, serta fotokopi KTP atas nama Yoga sedang diamankan dan didalami keasliannya.
Operasi SAR Masih Berlangsung
Operasi SAR masih berlangsung dan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan sesuai hasil di lapangan. Data awal dari AirNav Indonesia menunjukkan bahwa posisi terakhir pesawat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, dengan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur. Tim SAR gabungan terus bekerja keras untuk menemukan korban dan memastikan keselamatan semua pihak terlibat.











