Pengertian dan Manfaat Direct Call bagi Dunia Usaha
Direct call adalah pengiriman kargo peti kemas langsung dari pelabuhan asal di dalam negeri ke pelabuhan tujuan di luar negeri, tanpa perlu transit. Dengan adanya sistem ini, ekonomi Sulawesi Utara bisa bergerak lebih cepat dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulawesi Utara menggaungkan pentingnya direct call dari Manado ke negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea, Jepang, bahkan Eropa. Menurut Ketua Apindo Sulawesi Utara, Nicho Lieke, direct call akan sangat berguna untuk dunia usaha karena mempercepat roda ekonomi dan memberikan dampak positif terhadap ekonomi daerah.
Namun, meskipun direct call menawarkan banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana memenuhi standar volume ekspor. Minimal 1000 kontainer per bulan diperlukan agar ekspor langsung ke Tiongkok dapat berjalan efektif. Contohnya, PT Futai yang beroperasi di Bitung, memiliki rata-rata ekspor produk kertas sebesar 300 hingga 1000 kontainer per bulan. Sementara itu, kapal yang sama juga membawa masuk produk aneka buah impor dari Tiongkok.
Tantangan Ekspor UMKM
Bagi UMKM, ekspor langsung secara mandiri terbukti cukup berat karena kendala di volume. Untuk mengatasi hal ini, Nicho Lieke menyarankan UMKM untuk bergabung dalam paket ekspor besar. Misalnya, olahan ikan atau kelapa dapat digabungkan dengan produk-produk lain seperti Cap Tikus 1978 milik PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk. Kapal sekali jalan biasanya membawa minimal 700 hingga 1000 kontainer. Jika jumlahnya di bawah itu, sulit untuk bertahan.
Untuk mewujudkan direct call, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan pelaku UMKM. Selain itu, tantangan lainnya adalah biaya logistik. Biaya logistik dari Jakarta ke Manado dua kali lebih mahal dari Shanghai ke Jakarta. Selain itu, waktu ekspor ke China dari Manado mencapai 45 hari. Jika produk ekspor seperti ikan, kualitasnya bisa berbeda.
Peran Dubes RI untuk China dalam Mendukung UMKM
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh atas Republik China dan Mongolia, Jauhari Oratmangun, mengajak perwakilan pelaku UMKM Sulawesi Utara berdialog. Dialog ini berlangsung dalam suasana akrab, ngopi bareng di Megamall Manado, Senin 19 Januari 2026. Dalam bincang-bincang yang dipandu Amelia Tungka, Direksi Megamas, Jauhari mengajak UMKM untuk meningkatkan kapasitas sehingga produk mereka bisa diekspor ke China maupun negara lainnya.
Menurut Jauhari, pasar China memiliki potensi besar, terutama untuk produk makanan seperti sarang walet, kelapa, dan hasil perikanan seperti abon ikan. Pelaku UMKM diminta untuk mencari informasi dan berani membuka jejaring. Di Kedubes China, tersedia “Windows of Indonesia” yang menampilkan produk-produk unggulan kita.
Persyaratan dan Regulasi Ekspor ke Tiongkok
Kepala Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Erwin Situmorang, menambahkan bahwa pasar China sangat besar dan merupakan peluang. Namun, pelaku UMKM harus memenuhi berbagai syarat seperti GACC (General Administration of Customs of the People’s Republic of China). GACC adalah lembaga pemerintah yang mengatur kepabeanan, karantina, inspeksi, dan keamanan pangan untuk produk impor dan ekspor.
Bagi eksportir produk pangan ke Tiongkok, registrasi GACC adalah proses wajib yang memastikan produk memenuhi standar keamanan Tiongkok. Erwin juga menyoroti peluang optimalisasi jalur logistik udara. Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado memiliki kargo penerbangan internasional yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengiriman ekspor, terutama untuk produk bernilai tambah dan berorientasi waktu pengiriman cepat.
Persiapan dan Strategi UMKM
Nicho Lieke mengingatkan pelaku UMKM untuk optimis tapi realistis. Untuk bisa masuk pasar China, mereka harus memenuhi ketentuan GACC, khususnya artikel 254 dan 255. Produk harus aman, memiliki standar, dan memiliki importir. Pasar ekspor ke Tiongkok bisa dibilang susah-susah gampang karena standarnya yang tinggi. Namun, jika sudah bisa masuk, ada pembeli dan peluang lainnya.
Selain itu, tantangan lainnya adalah permintaan diskon tinggi dari pembeli dan kompleksitas proses pendaftaran GACC. Oleh karena itu, UMKM perlu didampingi dan disarankan memiliki mitra usaha yang lebih berpengalaman agar bisa masuk ke pasar China secara berkelanjutan.
Yani Cahyani, perajin produk kain Ecoprint dan aneka aksesoris, menyampaikan bahwa pertemuan ini sangat berharga. Mereka diberi gambaran bagaimana membuka peluang ekspor ke Tiongkok. Mereka tahu produk apa yang dibutuhkan, apa yang harus disiapkan, mekanisme dan tatalaksananya.
Amelia Tungka yang menginisiasi ngopi bareng ini menjelaskan bahwa pertemuan ini sebagai wujud dukungan memperkuat kesiapan UMKM Sulawesi Utara. Bagaimana teman-teman UMKM memanfaatkan momentum pertumbuhan ekspor dan memperluas akses ke pasar internasional, khususnya ke China. Dalam kegiatan ini, UMKM memamerkan produk unggulan yang berpotensi ekspor, antara lain olahan ikan dan hasil laut, wastra lokal Sulawesi Utara, vanili, serta kerajinan berbahan dasar alam seperti kelapa.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











