"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Sekolah Rakyat Ponorogo Mengabulkan Mimpi Lutfhi Bersekolah

Kehidupan Lutfhi: Dari Putus Sekolah ke Program Sekolah Rakyat

Seorang siswa yang dulu sempat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi kini kembali menuntut ilmu melalui program Sekolah Rakyat. Muh. Lutfhi Oktalvian Ramadani, seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, telah menemukan kembali harapan hidupnya. Ia kini tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mengasah disiplin, kemandirian, dan pengalaman wirausaha.

Awal Kehidupan yang Berubah

Lutfhi awalnya mengira mimpinya untuk menempuh pendidikan akan berakhir. Keterbatasan biaya membuatnya harus putus sekolah selama beberapa bulan. Saat itu, orang tuanya tidak lagi sanggup membiayai pendidikannya. Namun, survei dari Program SR dan PKH datang ke rumahnya, memberinya peluang baru. Dari sana, hidup Lutfhi mulai berubah. Ia lolos seleksi, masuk asrama, dan kembali belajar—bukan hanya tentang pelajaran di kelas, tetapi juga tentang kemandirian, disiplin, dan keberanian untuk bermimpi lagi.

Kehidupan di Asrama Sekolah Rakyat

Ketika ada tawaran untuk sekolah lagi, Lutfhi langsung merespons tanpa ragu. Sejak enam bulan lalu, ia bisa kembali menuntut ilmu dengan fasilitas yang lengkap. Tidak hanya pendidikan, tetapi juga kebutuhan dasar seperti makanan. Ia bisa makan tiga kali sehari, plus dua kali snack. Tidak perlu khawatir tentang uang, karena segalanya dibiayai oleh negara.

Awalnya, Lutfhi merasa kangen rumah. Namun, setiap kali kangen, ia mengingat bahwa ia memiliki mimpi untuk membahagiakan kedua orang tua. Ia ingin hidup layak, bukan serba ngirit seperti sekarang. Dengan begitu, ia bisa melepaskan kekurangan yang selama ini dialaminya.

Rutinitas Harian di Asrama

Hidup di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Kabupaten Ponorogo sangat teratur. Setiap hari, Lutfhi bangun pukul 04.00 WIB untuk shalat subuh. Dilanjutkan dengan senam dan olahraga. Setelah itu, ia membersihkan lingkungan dan kamar asrama. Baru kemudian bersiap untuk sarapan dan memulai kegiatan belajar mengajar pukul 07.00 WIB.

Sekolah SMA selesai pukul 13.00 WIB, dilanjutkan dengan shalat dhuhur, makan siang, dan ekstrakurikuler. Menurut Lutfhi, yang paling mengasyikkan adalah ekstrakurikuler. Di sana, ia diajari wirausaha ayam petelur. Ada puluhan ayam petelur yang dipelihara siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Kabupaten Ponorogo. Mereka belajar manajemen, telurnya dijual untuk keperluan sekolah dan teman-teman.

Tanggung Jawab dan Kesadaran

Di tengah-tengah kehidupan di asrama, Lutfhi juga bertanggung jawab seperti mencuci baju sendiri dan menyetrika. Ia juga mengajarkan adik-adik SD maupun SMP. Ia mengingat pesan dari Bu Gubernur Khofifah Parawansa saat berkunjung. Pesannya adalah bahwa mereka yang tertua harus memandu adik-adik ini.

Fasilitas yang Diterima

Selama enam bulan lebih tinggal di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Kabupaten Ponorogo, Lutfhi sudah mendapatkan berbagai fasilitas. Seperti laptop, smart board, maupun fasilitas pribadi lainnya. Ia berharap program ini terus berjalan agar anak-anak di luar sana yang belum terfasilitasi bisa terfasilitasi.

Lutfhi menyampaikan terima kasih kepada Pak Prabowo, Bu Khofifah, dan Bunda Lisdyarita atas dukungan mereka. Ia percaya bahwa dengan program ini, banyak anak-anak yang bisa kembali mengejar mimpi mereka.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *