Kematian Ibu Rumah Tangga di Palembang Mengungkap Dugaan KDRT yang Berujung Fatal
Kasus kematian seorang ibu rumah tangga (IRT) di kawasan Perumahan Karya Mandiri 5, Palembang, mengundang perhatian publik. Korban bernama Sri Wahyu Ningsih (38) ditemukan tak bernyawa di kamar tidur dengan wajah tertutup sprei dan tanpa tanda luka terbuka. Kejadian ini menimbulkan dugaan kuat tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berujung pada kematian.
Peristiwa tragis ini terjadi di Jalan Lebak Murni, Kelurahan Sako, Kecamatan Sako, Palembang, Sumatera Selatan, pada Rabu (21/1/2026). Awalnya, warga sekitar tidak mencurigai apa pun hingga keluarga korban bersama Ketua RT setempat datang dan membuka paksa pintu rumah. Saat pintu berhasil dibuka, tubuh korban ditemukan terbujur kaku di atas kasur dengan wajah tertutup sprei.
Tidak tampak tanda-tanda perlawanan di sekitar lokasi, maupun bercak darah yang terlihat secara kasat mata. Korban diketahui tinggal di Jalan Bukit Indah, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kejadian ini sontak mengundang perhatian warga sekitar yang mulai berdatangan ke lokasi.
Sebelum penemuan jasad tersebut, terduga pelaku, yang merupakan suami korban, sempat menghubungi orang tuanya. Dalam komunikasi itu, ia menyampaikan bahwa korban diduga hendak melakukan tindakan nekat terhadap dirinya sendiri. Mendengar kabar tersebut, orang tua korban bersama Ketua RT dan beberapa warga segera menuju rumah korban.
Mereka kemudian memanggil bidan setempat setelah mendapati korban dalam kondisi tidak sadarkan diri. Namun hasil pemeriksaan menyatakan korban telah meninggal dunia. Aparat kepolisian dari Polsek Sako, Unit Reskrim, dan Tim Inafis Polrestabes Palembang langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RS Bhayangkara Palembang untuk pemeriksaan luar guna mengetahui penyebab pasti kematian. Kapolsek Sako Kompol Makmun Nartawinata, bersama Kanit Reskrim AKP Apriansyah, membenarkan adanya dugaan tindak kekerasan dalam rumah tangga pada kasus tersebut.
“Benar, telah ditemukan mayat seorang IRT bernama Sri Wahyu Ningsih (38) yang diduga menjadi korban KDRT dan dibunuh oleh suaminya,” ujar Makmun. Ia menyebutkan, hasil awal olah TKP serta keterangan saksi mengarah pada dugaan adanya kekerasan sebelum korban meninggal dunia. Polisi pun bergerak cepat memburu terduga pelaku.
“Pelaku berhasil diamankan oleh anggota Reskrim dibantu Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan untuk mendalami motif perbuatannya,” tutup Kapolsek.
Pengakuan Suami dan Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi dan kondisi pengangguran diduga menjadi latar belakang konflik rumah tangga yang berujung pada kematian korban. Hal itu terungkap dalam penyelidikan lanjutan yang dilakukan aparat kepolisian. Dalam pemeriksaan, pelaku mengakui sempat terlibat cekcok dengan korban sebelum akhirnya melakukan tindakan kekerasan.
Polisi menyebut adanya pengakuan terkait aksi mencekik korban saat pertengkaran terjadi. “Suami korban diduga melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Kapolsek Sako Kompol Makmun Nartawinata.
Menurut keterangan pelaku, persoalan ekonomi memicu pertengkaran berulang dalam rumah tangga mereka. “Dugaan motif dari keterangan pelaku, karena terkait dengan ekonomi dan pelaku tidak kerja sehingga akhir-akhir ini mereka sering cek-cok,” katanya.
Kasus ini selanjutnya akan dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Palembang untuk penanganan lebih lanjut. “Saat ini kami lakikan proses penyelidikan dan kerjasama dengan unit PPA Satreskrim Polrestabes Palembang,” tutupnya.
Tindakan Hukum Terhadap Pelaku
Penyidik menerapkan pasal berlapis terhadap pelaku, yakni Pasal 468 ayat 3 KUHP Nomor 1 Tahun 2022 tentang penganiayaan berat serta Pasal 44 ayat 4 Undang-Undang KDRT. Kasus ini menunjukkan betapa seriusnya tindakan yang dilakukan pelaku terhadap korban.
Di lingkungan sekitar, duka masih menyelimuti warga. Keluarga korban terlihat menangis di lokasi kejadian. Salah seorang tetangga, Jefri, mengaku tidak mendengar tanda-tanda keributan sebelum peristiwa itu terungkap. “Sebelum kejadian tidak ada suara aneh-aneh, kami tau pas orangtua korban ke rumah. Supaya tahu ada orang atau tidak di rumah orangtuanya ngajak Ketua RT dan saya untuk membuka pintu rumah,” kata Jefri.
Ia juga menegaskan kondisi korban saat pertama kali ditemukan. “Tidak ada darah yang terlihat,” katanya.












