MEDAN,
Terik matahari sedang terasa menggigit. Namun, para pemulung tetap bersemangat dalam menjalani pekerjaan mereka. Mereka memakai topi atau selendang yang dililitkan ke kepala untuk melindungi diri dari panasnya sinar matahari. Tangan kanan mereka terus mengayunkan ganju kecil, mengambil sampah dan memasukkannya ke karung goni maupun keranjang bambu.
Gerakan tangannya semakin cepat dan penuh semangat ketika truk mencurahkan berton-ton sampah ke lubang yang telah disediakan. Suasana di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) ini cukup hening karena semua fokus pada pekerjaan masing-masing. Hanya suara ekskavator yang terdengar, bergerak ke sana kemari menggeser sampah.
Limbah rumah tangga yang diangkut dari berbagai penjuru Kota Medan menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga yang tinggal di sekitar TPA sampah di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan. Salah satu di antaranya adalah Ika, seorang perempuan berusia 42 tahun yang bekerja sebagai pengepul sampah.
Memilah Sampah, Menghitung Penghasilan
Cara kerja Ika dimulai dengan mengumpulkan sampah secara individu, seperti kaleng, botol minuman mineral, plastik asoy, dan karung plastik. Ia menjelaskan bahwa setelah dikumpulkan, sampah-sampah tersebut harus dipilah sesuai jenisnya. Nanti baru dibawa ke tengkulak untuk dijual.
“Semua saya ambil, yang laku dijual,” ujarnya saat mulai memilah sampah pada Sabtu (24/1/2026) pukul 11.00 WIB. Ika mengenakan hijab dan bertopi sebelum memulai pekerjaannya.
Tidak setiap hari ia bisa mendapatkan sampah dalam jumlah besar. Kadang hanya 50 kilogram karena memilih yang bagus-bagus saja, seperti karung plastik. Bila hanya mengumpulkan plastik asoy, bisa mendapat ratusan kilogram. Harga plastik per kilogram Rp 1.000.
Dari hasil pengumpulan sampah, Ika bersama suaminya bisa memperoleh uang senilai Rp 80.000 sampai Rp 90.000 setiap hari. Namun, jumlah itu tidak selalu stabil. “Kalau banyak nyari, bisa lebih. Tapi kalau malas-malas ya cuma Rp 50.000,” tambahnya.
Ika mengakui bahwa penghasilannya dari memulung sampah sekitar dua juta rupiah setiap bulan. Dari situ ia menyisihkan sedikit untuk jaga-jaga, mana tahu ada yang sakit. “Enggak bisa menyimpan sampai banyak,” ujarnya.
Dekat Sampah, Dekat Rezeki
Lokasi TPA tidak begitu jauh dari rumah Ika, sekitar 2 kilometer. Masih bisa terlihat tumpukan sampah yang menjulang tinggi sekitar 50 meter. Karena dekat, Ika tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mencari sampah berkualitas.
Di satu sisi, jarak itu memengaruhi kesehatan, tetapi di sisi lain memudahkan Ika dan warga Kelurahan Terjun lainnya mendapatkan pekerjaan.
“Bagi kami keberadaan tempat ini bermanfaat karena dari sinilah aku bisa nyambung hidup, menyekolahkan anak. Bagi orang lain ini mungkin buruk,” ujarnya sambil meracik es batu campur minuman berenergi yang dipesan pemulung, sopir, dan kernet truk sampah.
Ika juga mengatakan bahwa mau kerja di tempat lain, seperti pabrik atau perusahaan, tidak mungkin lagi diterima karena umurnya sudah cukup tua. “Ada yang dekat dan bisa menghasilkan, kenapa tidak?”
Es Batu dan Usaha Kecil
Di tengah kesibukannya mencari sampah, Ika membuka usaha sampingan, yaitu menjual es batu. Es batu ini dibekukan di dalam botol minuman mineral ukuran 1.500 mililiter. Ia menjual minuman segar itu Rp 2.000 per botol yang diberi rasa, sedangkan minuman yang berasa seharga Rp 4.000 per botol.
“Satu hari tidak tentu dibawa berapa botol. Tapi, habis semua setiap hari. Kadang dibawa 25 botol. Kalau disusun bagus bisa sampai 30 botol,” ujar Ika sambil mengambil es batunya dari dalam karung goni.
Anak-anaknya membuat Ika tetap semangat dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Ia bertekad agar ketiga anaknya bisa menjadi orang yang memiliki keahlian di bidangnya dan lebih baik dari pekerjaan orangtuanya.
“Yang bikin saya semangat tetap bekerja di sini, ya anak-anak juga. Karena merekalah saya harus berusaha supaya mereka berhasil. Kan enggak mungkin mamaknya ambil butut, anaknya ambil butut juga. Kalau bisa anaknya jangan,” ucap Ika sambil memasang sarung tangan dan mengasah ganju untuk mulai kerja.
Ika dan suaminya sudah menggeluti pekerjaan ini selama delapan tahun terakhir. Mereka mulai bekerja pukul 10.00 WIB pagi setelah mempersiapkan keperluan anak-anaknya sekaligus mengantar ke sekolah. Ika pulang kerja pukul 17.00 WIB dan sampai di rumah jam enam sore sebelum maghrib tiba.
Di tengah bau sampah dan terik yang tak pernah benar-benar ramah, Ika menanam harapan sederhana: agar kelak anak-anaknya tidak perlu mengais hidup dari tumpukan yang sama, melainkan berdiri di tempat yang lebih baik daripada orangtuanya…











