Menyemai Semangat Menulis bagi Guru di Pondok Pesantren Al Muhajirin 3 Purwakarta
Budaya literasi tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari keberanian untuk memulai, dipupuk dengan konsistensi, dan dirawat dengan keteladanan. Semangat inilah yang saya rasakan ketika berkesempatan hadir di lingkungan pendidikan Pondok Pesantren Al Muhajirin 3, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Sebuah lembaga pendidikan yang dengan sungguh-sungguh menjadikan literasi sebagai ruh pembelajaran.
SMP 3 Al Muhajirin, SMA, dan SMK Al Muhajirin telah lebih dulu menorehkan jejak literasi yang membanggakan. Para muridnya berhasil menulis dan menerbitkan buku kumpulan cerpen hasil karya mereka sendiri, tentu di bawah bimbingan para guru. Capaian ini bukan sekadar prestasi, melainkan bukti bahwa budaya menulis benar-benar hidup dan tumbuh di lingkungan sekolah dan pesantren ini.
Keberhasilan murid menerbitkan buku tersebut sekaligus menjadi “tantangan elegan” bagi para guru. Jika murid mampu menulis dan membukukan karyanya, maka guru pun seyogianya tidak mau kalah. Menulis, khususnya cerpen, lalu menghimpunnya dalam bentuk buku antologi, menjadi langkah logis sekaligus strategis dalam menguatkan budaya literasi sekolah.
Berangkat dari semangat itulah, pada tanggal 20 Januari 2026, sekolah-sekolah di bawah naungan Pondok Pesantren Al Muhajirin 3 menyelenggarakan In House Training (IHT) Menulis bagi Guru. Sekitar 40 guru dari SMP, SMA, dan SMK Al Muhajirin hadir dalam kegiatan tersebut. Bagi saya pribadi, mendapat kepercayaan sebagai narasumber adalah sebuah kehormatan sekaligus kebahagiaan tersendiri.
Dalam waktu satu hari, tentu mustahil membimbing dan melatih guru menulis dari A sampai Z. Oleh karena itu, pendekatan yang saya pilih adalah memotivasi, berdiskusi, dan menggugah kesadaran para guru bahwa menulis sejatinya sangat dekat dengan profesi mereka. Dari diskusi yang terbangun, saya menemukan bahwa sebagian guru sesungguhnya sudah memiliki kemampuan menulis. Benih semangat itu sudah ada. Tinggal dirawat dan dikembangkan.
Saya menyampaikan kepada para guru agar tidak menunggu sempurna untuk mulai menulis. Tidak ada tulisan yang langsung bagus. Tulisan yang rapi, sistematis, dan enak dibaca justru lahir dari tulisan-tulisan awal yang mungkin terasa “jelek”, tidak runtut, dan kurang nyaman dibaca. Menulis adalah proses panjang yang menuntut latihan, kesabaran, dan konsistensi.
Alasan klasik seperti kesibukan, rasa malas, takut tulisannya jelek, dan takut dikritik sering kali menjadi penghambat utama. Padahal, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Rasa tidak percaya diri saat mulai menulis adalah sesuatu yang manusiawi. Bahkan penulis berpengalaman pun masih mengalaminya. Yang membedakan hanyalah keberanian untuk melawan rasa takut tersebut.
Saya juga menegaskan bahwa seorang penulis harus siap dikritik. Kritik memang bisa menyakitkan dan menjatuhkan mental, tetapi bagi mereka yang ingin maju, kritik justru menjadi “nutrisi” untuk meningkatkan kualitas tulisan. Baik atau buruk mutu sebuah tulisan, ketika sudah dipublikasikan, ia akan selalu mengundang pro dan kontra. Itulah risiko sekaligus konsekuensi menjadi penulis.
Dahulu, penulis hanya mengandalkan koran dan majalah untuk memublikasikan karyanya, dengan persaingan yang sangat ketat. Kini, era digital membuka ruang yang jauh lebih luas. Guru dapat memublikasikan tulisannya melalui media sosial, blog, media daring, atau laman pribadi. Selama tulisan tidak mengandung SARA, fitnah, hoaks, atau ujaran kebencian, ruang ekspresi terbuka lebar.
Menulis sejatinya adalah “rumah” bagi profesi guru. Hampir setiap hari guru memiliki bahan tulisan yang kaya dan bermakna: inovasi pembelajaran, strategi meningkatkan motivasi belajar, pengalaman mendampingi murid bermasalah, kisah membimbing murid berprestasi, kerja sama dengan orang tua, hingga pergulatan batin menjadi seorang pendidik. Semua itu adalah sumber tulisan yang autentik dan inspiratif.
Menjadi guru penulis akan menjadikan guru berbeda. Guru menjadi pelopor dan teladan literasi. Lebih dari itu, tulisan adalah jejak pemikiran. Jasad seorang penulis boleh tiada, tetapi gagasannya akan terus hidup melalui karya-karyanya. Tulisan menjadi warisan intelektual yang melampaui zaman.
Sebagai penutup kegiatan IHT, saya menerima cinderamata yang sangat bermakna: buku-buku kumpulan cerpen karya murid Al Muhajirin. Dua buku berjudul Langit di atas Langit dan Di Balik Tembok Pesantren merupakan karya murid kelas IX SMP 3 Al Muhajirin Tahun Pelajaran 2024/2025. Sementara satu buku lainnya berjudul Menyerah pada IPTEK, Bodoh dengan Gaptek merupakan karya murid kelas XII SMA dan SMK Al Muhajirin. Bagi saya, buku-buku tersebut bukan sekadar cinderamata, melainkan simbol keberhasilan pendidikan literasi yang nyata dan membanggakan.
Pada kesempatan itu pula, Kepala Sekolah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Muhajirin 3, Hj. Kiki Zakiah Nuraisyah, S.Si., M.H., memberikan motivasi dan pesan yang kuat kepada para guru agar siap menulis sebagai bagian dari pengembangan profesi. Tulisan para guru diharapkan semakin mengokohkan budaya literasi sebagai keunggulan dan identitas Al Muhajirin.
IHT menulis ini mungkin hanya berlangsung satu hari, tetapi semoga semangatnya terus hidup. Sebab menulis bukan soal acara, melainkan soal komitmen. Ketika guru mau menulis, sejatinya ia sedang menyalakan lentera kecil yang kelak akan menerangi jalan literasi bagi murid-muridnya dan bagi peradaban.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











