Peningkatan Dana Simpanan Valas dan Tren Suku Bunga
Dana simpanan dalam valuta asing (valas) terus mengalami peningkatan, meskipun rupiah sedang menghadapi tekanan pelemahan. Namun, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai bahwa tren suku bunga simpanan valas justru terus menurun, sehingga tingkat bunga penjaminan tetap dipertahankan.
Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Polis Ferdinan D. Purba menyampaikan bahwa simpanan valas mengalami kenaikan secara tahunan. “Mengenai rekening dan simpanan valas, memang ada kenaikan dana pihak ketiga (DPK) valas sebesar 3,73 persen,” ujarnya dalam Konferensi Pers Penetapan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS di Kantor Pusat LPS, Pacific Century Place, Kamis (22/1/2026) malam.
Meski demikian, Ferdinan menegaskan bahwa peningkatan nominal simpanan valas tersebut tidak diikuti dengan kenaikan suku bunga. LPS mencatat bahwa tren suku bunga pasar simpanan valas terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mempertahankan tingkat bunga penjaminan simpanan valas di bank umum sebesar 2 persen untuk periode 1 Februari hingga 31 Mei 2026.
Menurut LPS, kondisi tersebut menunjukkan bahwa likuiditas perbankan masih memadai, sehingga bank tidak perlu menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana valas dari nasabah. Ke depan, LPS akan terus memantau pergerakan simpanan dan suku bunga valas, terutama untuk menjaga stabilitas sistem perbankan dan memastikan kebijakan penjaminan tetap sejalan dengan kondisi pasar.
Peran Bank Indonesia dalam Mengelola Pasokan Valas
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai bahwa Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat pengelolaan pasokan valuta asing (valas) di pasar valas domestik sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp 17.000 per dolar AS.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar di dalam negeri. Dari sisi permintaan, kebutuhan valas masih relatif konsisten, terutama berasal dari importir serta kewajiban pembayaran utang luar negeri. Jika terjadi peningkatan, kenaikannya dinilai masih bersifat musiman pada awal tahun.
Namun di sisi lain, pasokan valas di pasar domestik terlihat relatif terbatas. Myrdal menduga hal ini terjadi karena eksportir, khususnya eksportir sumber daya alam nonmigas, belum optimal mengonversi devisa hasil ekspor mereka ke rupiah. Kondisi tersebut menyebabkan ketimpangan antara ketersediaan dolar dan kebutuhan valas domestik, sehingga dolar cenderung menguat dan rupiah tertekan.
Oleh karena itu, menurut Myrdal, bank sentral perlu mendorong peningkatan pasokan valas di pasar domestik, salah satunya melalui imbauan kepada eksportir agar segera mengonversi dolar hasil ekspor ke rupiah. Dalam hal ini, peran pemerintah juga dinilai penting untuk memperkuat kebijakan yang mendorong perputaran devisa di dalam negeri.
Pendekatan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Selain itu, BI juga harus terus menjalankan intervensi sebagai langkah stabilisasi, antara lain melalui pasar surat berharga negara (SBN) sekunder, pasar spot rupiah, instrumen NDF (non-deliverable forward) dan DNDF (domestic non-deliverable forward), serta transaksi swap valas.
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman juga berpandangan serupa. Menurutnya, dari sisi respons kebijakan, stabilisasi nilai tukar tidak cukup jika hanya mengandalkan intervensi di pasar spot.
Data menunjukkan bahwa ketika tekanan berasal dari arus modal jangka pendek, efektivitas intervensi konvensional menjadi terbatas. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah kombinasi intervensi di pasar spot, instrumen derivatif valas, serta stabilisasi pasar obligasi untuk menahan volatilitas dan menjaga kepercayaan investor.
Di luar itu, penguatan pasokan valas domestik, terutama melalui optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE), perlu terus diperkuat agar stabilitas rupiah tidak sepenuhnya bergantung pada arus modal asing.
Kondisi Ekonomi Domestik dan Global
Menurut Rizal, pelemahan rupiah yang bergerak mendekati Rp 17.000 per dolar AS saat ini lebih mencerminkan tekanan siklikal global ketimbang memburuknya fundamental ekonomi domestik. Secara data, penguatan dolar AS masih ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury dan ekspektasi suku bunga global yang bertahan lebih lama. Dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga menekan mayoritas mata uang negara emerging market di Asia.
Namun, rupiah memang relatif lebih sensitif karena struktur pasar keuangan domestik masih cukup terbuka terhadap pergerakan portofolio asing, sehingga perubahan sentimen global cepat tercermin pada nilai tukar.
Meski demikian, pelemahan ini belum dapat dikategorikan sebagai sinyal krisis, selama tetap berada dalam rentang volatilitas yang terkendali. Inflasi domestik masih terjaga dalam target, neraca eksternal relatif solid, dan cadangan devisa berada pada level yang memadai untuk meredam gejolak jangka pendek.
Tekanan nilai tukar saat ini lebih banyak bersumber dari faktor psikologis pasar dan penyesuaian portofolio, bukan dari ketidakseimbangan struktural ekonomi. Alarm kebijakan baru dinilai benar-benar relevan jika depresiasi berlanjut dan mulai menular ke ekspektasi inflasi, biaya pembiayaan utang, atau stabilitas sektor keuangan. Peluang stabilisasi bahkan penguatan rupiah tetap terbuka, tetapi tidak bersifat otomatis.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











