Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Ladakh, India
India memiliki rencana besar untuk membangun salah satu pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia di area gurun dingin yang disengketakan di Himalaya. Proyek ini akan berada di Dataran Tinggi Changthang di Ladakh, wilayah Kashmir yang dikelola oleh India. Wilayah ini menjadi target utama karena potensi besar dalam menghasilkan energi surya akibat atmosfer yang tipis, ruang yang luas, dan langit cerah selama lebih dari 300 hari setahun.
Namun, wilayah ini juga merupakan habitat bagi kambing Changra atau kambing Pashmina, yang menghasilkan wol Kashmir yang terkenal. Selain itu, daerah ini menjadi tempat tinggal para penggembala Changpa yang telah hidup di sini selama berabad-abad dengan ternak mereka.
Kehidupan Penggembala di Ladakh

Para penggembala khawatir bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dapat memberikan dampak negatif terhadap lanskap dan kehidupan mereka. Mereka menyebutkan bahwa penyusutan padang rumput akibat perubahan iklim telah menyebabkan kematian domba dan kambing. Tsering Stobdan, seorang penggembala, mengatakan bahwa sulit untuk hidup di sini dan banyak penggembala yang telah meninggalkan pekerjaan ini.
“Jika tanah ini hilang, mereka yang tersisa juga akan pergi,” katanya. Keberadaan proyek ini menimbulkan ketakutan di kalangan penggembala, karena tidak ada dokumen hukum yang bisa digunakan untuk mengklaim tanah mereka. Banyak dari mereka khawatir akan dipindahkan tanpa kompensasi.
Tujuan Pembangunan Energi Surya di Ladakh

India menempati peringkat ketiga dalam produksi energi surya setelah China dan AS. Pemerintah India menargetkan kapasitas pembangkit listrik non-bahan bakar fosil sebesar 500 gigawatt pada 2030. Untuk mencapai target ini, kapasitas tenaga surya akan ditingkatkan menjadi 280 gigawatt. Proyek tenaga surya dan baterai berkapasitas 11 gigawatt di Ladakh menjadi langkah penting dalam mewujudkan target tersebut.
Proyek ini akan mengambil kawasan Ladakh seluas 250 kilometer persegi, yang lebih luas dari ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Meskipun memiliki potensi besar, tantangan utama adalah bagaimana mengangkut energi dari gunung ke daerah lain. Hal ini memerlukan pemasangan jalur transmisi listrik raksasa sepanjang 713 kilometer yang disebut Koridor Energi Hijau.
Biaya pembangunan Koridor Energi Hijau diperkirakan mencapai US$2,28 miliar (sekitar Rp38 triliun). Selain itu, suhu yang bisa mencapai -45° Celsius dengan salju tebal dan zona rawan longsor salju membuat koridor ini harus dibangun dengan baja khusus.
Sejarah dan Konteks Politik

Ide pembangkit listrik tenaga surya pertama kali diusulkan pada 2020, setahun setelah pemerintah India secara resmi mencabut status otonomi khusus Kashmir. Ini adalah upaya untuk mengintegrasikannya sepenuhnya ke dalam administrasi India. Kashmir telah menjadi sengketa antara India dan Pakistan selama puluhan tahun, sementara China juga mengontrol sebagian wilayah tersebut.
Kekhawatiran terhadap rencana pembangkit listrik tenaga surya jelas terasa di desa-desa yang berada dalam batas-batas lahan yang direncanakan. Namun, sebagian besar penggembala enggan berbicara secara terbuka karena takut akan masalah. Tanpa dokumen hukum untuk mengklaim tanah, banyak yang khawatir mereka akan dipindahkan tanpa kompensasi.
Perspektif Penggembala

Tsering Angchuk, penggembala dengan lebih dari seribu hewan, berkata, “Kehidupan kami bergantung pada padang rumput ini.” Ia menegaskan bahwa jika pemerintah tidak menerima tuntutan mereka, mereka akan protes dan tidak akan membiarkan proyek ini dilaksanakan.
Dewan lokal telah memberikan sekitar 19.424 hektare tanah kepada lembaga India yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek energi terbarukan ini. Namun, rincian perjanjian transfer tanah tersebut tidak tersedia untuk umum.
Penjelasan Pemerintah dan Perusahaan

Laporan internasional oleh yayasan politik Jerman, Heinrich Böll Siftung, mendokumentasikan bagaimana proyek-proyek energi terbarukan berskala besar dikembangkan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin “tanpa konsultasi yang memadai” dengan para penggembala. Pemerintah India berargumen bahwa hal ini tidak terjadi di Ladakh.
Perwakilan pemerintah menyatakan bahwa proyek percontohan berskala jauh lebih kecil telah diluncurkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan energi lokal dan mengatasi kekhawatiran para penggembala. Panel surya telah dipasang di Ladakh dengan tiang setinggi sekitar 180 sentimeter, yang menurut pihak berwenang akan memungkinkan hewan-hewan bergerak bebas dan merumput di bawahnya.
Penelitian dan Ketidakpastian

Menurut Sekretaris Energi Ladakh, Shri Rudra Goud, pemerintah telah mencatat kekhawatiran para penggembala. Ia menjelaskan bahwa meningkatkan ketinggian platform panel surya juga meningkatkan biaya, tetapi tujuannya adalah melindungi rumput.
Pawan Kotwal, Sekretaris Utama Administrasi Ladakh, menyatakan bahwa dana yang dihasilkan dari proyek percontohan kecil ini akan digunakan untuk pengembangan wilayah setempat. Namun, apakah rumput akan bertahan di bawah panel surya dalam jangka panjang ketika proyek besar berjalan masih belum dapat dipastikan.

Kepala Insinyur Divisi Distribusi dan Pembangkit Ladakh, Tsewang Paljor, menjelaskan bahwa para peneliti di Universitas Ladakh akan melakukan penelitian untuk menentukan apakah pemasangan panel surya pada tiang yang lebih tinggi “dapat menyelamatkan rumput”. Namun, para penggembala lokal tetap tidak antusias.
“Bagaimana kami bisa membawa domba kami ke sana jika taman surya sebesar itu dibangun?” tanya Tsering Stobdan. “Bahkan untuk mereka, masuk di bawah panel-panel itu pun tidak akan mudah.”











