Kronologi Kematian Siswa SD di Ngada
YBR (10), seorang siswa kelas IV SD di Ngada, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh dekat pondok tempat tinggalnya. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (29/1/2026) siang dan menimbulkan kegundahan di kalangan masyarakat setempat.
Menurut Bupati Ngada Raymundus Bena, YBR mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh. Mayat korban ditemukan dalam posisi tergantung pada seutas tali, tidak jauh dari pondok bambu yang ditempati YBR dan sang nenek. Korban ditemukan pada Kamis pukul 11.00 Wita.
Kronologi versi Bupati Ngada menyebutkan bahwa sebelum kejadian, ibunda korban Maria Goreti Te’a (MGT/47) menanyakan alasan anaknya tidak ke sekolah. YBR mengatakan dia pergi ke kebun. Namun sehari sebelumnya, YBR diinformasikan oleh sekolah untuk memberitahukan kepada mamanya agar mencairkan bantuan beasiswa PIP. Di Kecamatan Jerubuu belum memiliki fasilitas perbankan sehingga MGT terpaksa harus ke kota kabupaten. Setibanya di salah satu bank BUMN, dana PIP milik korban tidak bisa dicairkan karena secara kependudukan korban masih tercatat di kabupaten Nagekeo. Pihak Bank menyarankan MGT membuat surat keterangan domisili. “Keesokan malamnya, MGT ditanyakan lagi oleh anaknya, Mama sudah urus, kah, satunya beasiswanya?”
“Oh, belum, nanti saya, ee, saya akan urus itu, ya,” jelas Raymundus.
Lantas belum dicairkan karena beberapa alasan, YBR kemudian memutuskan untuk tidak ke sekolah. Dia kemudian kembali ke pondok bersama neneknya. Pada Kamis sekitar pukul 09.00 Wita, beberapa warga mendapati korban sedang duduk di depan pondok. Mereka menanyakan mengapa YBR tidak ke sekolah. YBR menyampaikan bahwa dirinya sedang mengalami kepala pusing. “Dia mengaku kepala pusing. Terus jam 10, ada yang lewat lagi, sekitar jam 10, tanya lagi, dia bilang kepala pusing,” katanya. Raymundus menambahkan, sekitar pukul 11.00 Wita warga dikejutkan ketika mendapati korban sudah gantung diri, dan dalam keadaan meninggal.
Banyak Faktor Pemicu
Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR bunuh diri. Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino mengatakan, peristiwa tragis tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban. Menurut Andrey, salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah. Selain itu, korban juga kerap menerima nasihat dari orangtua. “Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” kata dia. Faktor-faktor tersebut, lanjut Andrey, menjadi tekanan psikologis bagi korban hingga akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya.
Bantuan Psikologis dari Polda NTT
Polda NTT bersama Polres Ngada memberikan bantuan tali asih serta pendampingan psikologis kepada keluarga almarhum YBR (10), anak yang diduga mengakhiri hidupnya di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Kombes Pol Hendry Novika Chandra, mengatakan bahwa bantuan tersebut diserahkan pada Rabu (4/2) sekitar pukul 11.00 Wita, sebagai bentuk empati dan kepedulian Polri terhadap keluarga korban. Bantuan sosial dari Kapolda NTT dan Kapolres Ngada kepada keluarga korban berupa beras sebanyak 100 kilogram, mi instan, telur ayam, dua dus paket tali asih, serta santunan uang tunai. Selain bantuan materiil, Polda NTT dan Polres Ngada juga memberikan pendampingan psikologis dan trauma healing kepada keluarga korban.
Penegasan Bupati Mengenai Motif Kematian
Sebelumnya, Bupati Ngada Raymundus Bena secara tegas membantah anggapan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa kematian YBR siswa SD berusia 10 tahun, dipicu karena tidak dilayani permintaan dibelikan buku dan bulpen. Namun, ia mengakui korban berasal dari keluarga dengan kategori kemiskinan ekstrem dan hidup dalam tekanan ekonomi serta sosial yang berat. Penegasan itu disampaikan Bupati Ngada saat konferensi pers di Aula Rumah Jabatan Bupati Ngada, Kamis (5/3/2025) malam. Ia menyatakan, berdasarkan hasil penggalian informasi tim internal pemerintah daerah, tidak ditemukan pernyataan dari keluarga korban yang menyebutkan bahwa motif kematian YBR berkaitan dengan persoalan buku tulis dan bulpen.
Surat untuk Mama
Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa). Kertas Ti’i Mama Reti” Mama galo Ze’e Mama Molo, Galo Ja’o Mata, Mama Ma’e Rita ee Mama Mamo Galo Ja’o Mata, Ma’e Woe Rita Ne Gae Nga’o ee MOLO MAMA. Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah: kertas untuk mama Reti Mama terlalu kikir (pelit) Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama. Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. Baik sudah mama atau selamat tinggal mama.
Tindakan Lanjutan dari Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Ngada telah melakukan berbagai langkah untuk membantu keluarga korban. Termasuk pendampingan psikososial, bantuan natura dan penguatan usaha, fasilitasi pendidikan bagi saudara korban, hingga pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Pemerintah juga menyatakan akan menanggung pelaksanaan ritual adat budaya terkait kematian YBR. Di akhir keterangannya, Bupati meminta seluruh elemen masyarakat dan insan pers untuk tidak menyebarluaskan foto maupun video korban serta menghindari spekulasi yang dapat memperburuk kondisi psikologis keluarga.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











