Peran PT MWP dalam Pengelolaan Hutan dan Konservasi di Kalimantan Barat
PT Mayawana Persada (MWP) telah menjadi perusahaan yang terpilih sebagai salah satu pemegang izin pemanfaatan hutan terbaik dan terbesar di Kalimantan Barat. Hal ini didasarkan pada penilaian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalbar, yang mengakui kinerja perusahaan dalam mengelola izin berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Dengan luasan konsesi sebesar 138.204 hektare, PT MWP memiliki potensi besar untuk pengelolaan hutan, meskipun hanya sekitar 47.000 hektare yang sudah dikelola sebagai areal tanaman.
Dalam diskusi panel yang digelar setelah acara seremonial “Kick Off Program Result Based Payment REDD+ GCF” yang diluncurkan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Ria Norsan, SH, MH, pada 29 Januari 2026 di Hotel Golden Tulip, Pontianak, Iwan Budiman, Direktur PT MWP, hadir sebagai salah satu panelis. Diskusi dipandu oleh Prof. Dr.Ir.H.Gusti Hardiansyah, M.Sc,QAM,IPU, yang dikenal dengan panggilan Prof. Deden. Dalam presentasinya, Iwan Budiman menekankan bahwa legalitas bukanlah satu-satunya acuan dalam pengelolaan hutan, melainkan juga keberlanjutan dan pertimbangan lanskap.
Penataan Ruang dan Pengelolaan PBPH
PT MWP menjalankan pengelolaan PBPH dengan memperhatikan penataan ruang, kegiatan penanaman, serta pengalokasian kawasan konservasi. Dari total luasan konsesi sebesar 138.204 hektare, hanya sekitar 47.000 hektare yang sudah dikelola sebagai areal tanaman. Sementara itu, sekitar 38.000 hektare dialokasikan sebagai kawasan konservasi, yang akan terus diperluas di masa depan. Angka ini menunjukkan komitmen PT MWP dalam menjaga keseimbangan antara produksi dan konservasi.
Selain itu, PT MWP telah mendapatkan sertifikasi seperti PHL, IFCC, SMK3, ISO 14001; 2015, dan PROPER, yang menunjukkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Hasil survei biodiversitas yang dilakukan bersama Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura, juga menemukan adanya populasi orangutan di dalam areal PT MWP.
Tanggapan dari Para Pakar dan Stakeholder
Dalam diskusi tersebut, tiga penanggap utama memberikan tanggapan terhadap presentasi PT MWP, yaitu Murlan Dameria Pane (Kepala BKSDA Kalimantan Barat), Dr. Jamartin Sihite (CEO Borneo Survival Orangutan Foundations-BOSCF), dan Dr. Hasbillah Hasbie (Eksekutif Director Tropical Forest Foundation-TFF).
Murlan Dameria Pane menyambut baik temuan populasi orangutan yang ditemukan dalam areal PT MWP. Ia menyarankan agar PT MWP berkoordinasi dengan BKSDA untuk menganalisis data tersebut agar bisa menjadi pedoman pengelolaan populasi orangutan di masa depan. Selain itu, BKSDA juga mendorong PT MWP untuk melakukan kegiatan lain yang bertujuan untuk kesejahteraan satwa liar lainnya.
Dr. Jamartin Sihite menekankan pentingnya pendekatan lanskap dalam konservasi orangutan, termasuk konektivitas sebagai syarat utama. Ia juga menyoroti pentingnya sinkronisasi program konservasi dengan kegiatan produksi perusahaan. Menurutnya, koridor satwa sangat diperlukan agar “lalulintas satwa” tidak terfragmentasi.
Sementara itu, Dr. Hasbillah Hasbie menekankan bahwa kolaborasi lanskap merupakan prinsip utama dalam pengelolaan hutan. Ia menilai bahwa PT MWP telah menjalankan keseimbangan antara kepentingan ekologis dan ekonomis. Namun, ia menegaskan bahwa regulasi dan izin yang dimiliki PT MWP tidak selalu digunakan secara maksimal.
Komitmen dan Kolaborasi di Masa Depan
Prof. Gusti, sebagai moderator, menegaskan bahwa keseimbangan antara kepentingan ekologis dan ekonomis jangan sampai memunculkan faktor “E” ketiga, yaitu ego sektoral. Ia menekankan pentingnya koordinasi antara pihak-pihak terkait untuk mencapai tata kelola hutan yang lestari dan bermanfaat bagi semua pihak.
Iwan Budiman kemudian menanggapi komentar para penanggap dengan menegaskan bahwa PT MWP siap berkolaborasi dengan BKSDA Kalbar dan institusi lainnya. Dalam Rencana Kerja Umum (RKU) 2026, perusahaan akan menyusun ulang tata ruang untuk kepentingan tata kelola usaha dan konservasi. PT MWP juga berkomitmen untuk membuka ruang dialog dan diskusi lanjutan terkait koridor konektivitas orangutan.
Dari paparan dan tanggapan dalam diskusi tersebut, PT MWP menunjukkan sikap terbuka dan siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam pengelolaan hutan yang lebih baik. Dengan demikian, harapan agar tidak ada faktor ego sektoral dalam pengelolaan hutan di Kalimantan Barat dapat tercapai.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











