Pefindo Beri Rekomendasi untuk Meningkatkan Kepercayaan Pasar
Pemerintah dihadapkan pada tantangan besar setelah lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini dianggap sebagai sinyal meningkatnya risiko kredit yang dapat memicu volatilitas jangka pendek di pasar surat utang negara (SUN).
Menurut Suhindarto, Head of Economic Research Division Pefindo, angka Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia yang melonjak dari 76,81 menjadi 79,61 hanya dalam rentang 4–6 Februari 2026 mengindikasikan bahwa biaya untuk melindungi surat utang Indonesia dari gagal bayar semakin mahal di mata pasar.
“Kami berharap pemerintah meningkatkan komunikasi dan akuntabilitas kebijakannya serta menekankan kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran fiskal,” ujarnya.
Tantangan dan Risiko yang Dihadapi
Adanya penurunan outlook tersebut juga membawa dampak terhadap arus keluar modal asing dari pasar Tanah Air. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa investor nonresiden mencatatkan net sell di pasar SBN senilai Rp2,77 triliun pada periode 26–29 Januari 2026. Selain itu, data setelmen sepanjang tahun berjalan 2026 hingga 29 Januari 2026 mencatat net sell asing senilai Rp0,10 triliun di pasar SBN.
Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah dan pasar ekuitas akibat kekhawatiran investor terhadap kredibilitas dan akuntabilitas kebijakan. Hal ini membuat larinya dana asing semakin nyata.
Enam Poin Utama yang Disoroti Pefindo
Pefindo menyoroti enam poin utama yang perlu diperhatikan pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan pasar terhadap Indonesia:
-
Peningkatan prediktabilitas dan transparansi kebijakan
Pemerintah dinilai perlu memperbaiki kejelasan proses pengambilan keputusan kebijakan serta komunikasinya kepada publik. Danantara, misalnya, menjadi salah satu pemicu utama keraguan investor karena ketidakpastian prioritas investasi dan manajemen risiko lembaga tersebut. -
Penguatan tata kelola pemerintah
Aspek kualitas regulasi dan efektivitas pemerintah perlu diperbaiki. Penurunan skor pada World Governance Indicators dapat memicu keraguan investor terhadap stabilitas birokrasi dan kepastian hukum. -
Komitmen disiplin fiskal dan pengendalian defisit
Konsistensi dalam menjaga ambang batas defisit 3% dari PDB menjadi jangkar utama kepercayaan pasar global terhadap keberlanjutan utang Indonesia. -
Reformasi pendapatan negara
Basis pendapatan Indonesia masih lemah dibandingkan peers. Pemerintah perlu melakukan langkah nyata untuk memperkuat penerimaan negara agar rencana ekspansi belanja publik tidak membebani defisit secara berlebihan. -
Manajemen profil risiko keuangan BUMN
Penting bagi pemerintah untuk memastikan kebijakan dividen tidak mengganggu kesehatan keuangan BUMN dan meminimalisasi potensi beban utang yang bisa beralih menjadi tanggungan pemerintah. -
Stabilitas nilai tukar rupiah
Volatilitas nilai tukar yang terjadi belakangan adalah kondisi genting yang dapat terus menekan yield SUN jika tidak dikelola dengan baik.
Peran Pemerintah dalam Menghadapi Tantangan
Suhindarto menegaskan bahwa langkah krusial yang harus diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan pasar adalah meningkatkan transparansi, koordinasi, dan komunikasi kebijakan, terutama terkait mandat dan tata kelola sovereign wealth fund Danantara serta keberlanjutan program sosial skala besar.
“Jika hal ini tidak menjadi perhatian utama pemerintah, arus keluar modal asing dari pasar Tanah Air bukan tidak mungkin terjadi,” tambahnya.
Dengan adanya perubahan outlook dari Moody’s, pemerintah diharapkan segera merancang strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dengan langkah-langkah yang proaktif, Indonesia dapat tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi para pemodal internasional.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











