"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

Eksklusif: Emmanuel Richardo Tekankan NTT Harus Mandiri dalam Benih

Potensi dan Tantangan Penangkaran Benih di NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi besar dalam menghasilkan sendiri benih tanaman pangan. Namun, meskipun demikian, masih ada sejumlah tantangan yang membuat NTT masih bergantung pada pasokan benih dari luar daerah. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Fungsional Pengawas Benih Tanaman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Emmanuel Richardo, SP, dalam sebuah podcast yang berjudul “Penangkaran Benih In Situ dalam Mendukung Swasembada Pangan di NTT”, pada Jumat (6/2).

Apa Itu Penangkaran Benih In Situ?

Penangkaran benih in situ merujuk pada proses penangkaran benih yang dilakukan secara langsung di wilayah NTT. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kemandirian daerah dalam memenuhi kebutuhan benih tanaman pangan. Saat ini, NTT masih mengimpor ratusan ribu ton benih padi dan jagung setiap tahunnya. Misalnya, untuk padi diperlukan sekitar 630 ribu ton, sedangkan untuk jagung sekitar 680 ribu ton.

Dengan kemampuan NTT yang cukup besar dalam produksi benih, jika semua kebutuhan bisa dipenuhi secara lokal, maka uang yang seharusnya digunakan untuk pembelian benih akan dinikmati oleh petani di NTT. Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan para petani.

Tantangan dalam Produksi Benih Lokal

Meski potensi besar, beberapa hambatan masih ada. Antara lain:

  • Ketersediaan lahan: Tidak semua wilayah memiliki lahan yang cocok untuk penangkaran.
  • Curah hujan yang terbatas: Memengaruhi siklus pertumbuhan tanaman.
  • Minat petani: Banyak petani lebih memilih bertani biasa daripada menjadi penangkar benih karena proses administrasi dan regulasi yang rumit.

Selain itu, penangkaran benih melibatkan tahapan yang panjang, mulai dari pengawasan tanaman selama masa vegetatif dan generatif hingga proses pengujian di laboratorium. Proses ini tidak dilakukan sendiri oleh petani, tetapi didampingi oleh pengawas benih dan penyuluh lapangan.

Manfaat Ekonomi bagi Petani

Jika benih bisa diproduksi secara mandiri, petani akan mendapatkan nilai tambah. Harga benih lebih tinggi dibandingkan gabah. Contohnya, harga benih dengan kadar air 13 persen bisa mencapai lebih dari Rp 6.500 per kilogram, sementara harga gabah hanya minimal Rp 6.500 per kilogram dengan kadar air 14 persen.

Ini memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan mereka. Selain itu, sistem sertifikasi benih juga menjadi penting, sesuai dengan Undang-Undang 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Tanaman.

Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Kesadaran Petani

Pemerintah NTT telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya benih bermutu. Salah satunya adalah melalui sosialisasi baik secara individu maupun kedinasan. Selain itu, pemerintah juga membantu petani dengan program bapak angkat, yaitu orang atau pihak yang bersedia berinvestasi untuk membantu petani menjadi penangkar benih.

Dengan adanya bapak angkat, petani tidak perlu khawatir tentang modal awal. Pasar juga sudah siap, sehingga petani hanya perlu berkoordinasi dengan Kementerian untuk distribusi benih.

Penangkaran Benih untuk Tanaman Lokal

Selain padi dan jagung, penangkaran benih juga mencakup tanaman lokal seperti kedelai. Meskipun saat ini fokus utama adalah tiga komoditi utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai, tujuan jangka panjang adalah agar NTT mampu mandiri dalam produksi benih.

Secara geografis dan agroklimat, NTT sangat cocok untuk produksi benih. Dengan produksi lokal, biaya transportasi dapat diminimalisir. Contohnya, benih yang diproduksi di Kabupaten Kupang tidak perlu dikirim ke Kabupaten Malaka, tetapi bisa diproduksi langsung di Malaka.

Kesimpulan

Dengan penangkaran benih in situ, NTT memiliki peluang besar untuk mencapai swasembada pangan. Meski ada tantangan, langkah-langkah yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kemandirian dalam produksi benih adalah tujuan yang layak dicapai. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif petani, NTT dapat menjadi daerah yang mandiri dalam hal ketersediaan benih tanaman pangan.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *